IPB

Pelanduk kalimantan: kembalinya spesies hilang lebih dari 170 tahun

Ruang Pemerhati 2: Burung

Pelanduk kalimantan (Malacocincla perspecillata)

Penulis : Kelompok Pemerhati Burung “Perenjak”

Pelanduk kalimantan (Malacocincla perspecillata) atau yang biasa dikenal dengan sebutan Black-browed Babbler merupakan jenis burung yang sudah lama hilang dari radar para pengamat burung karena susahnya menemukan jenis burung ini di alam. Satu-satunya holotipe jenis burung ini yang berhasil dikumpulkan antara tahun 1843 dan 1848 tidak pernah secara jelas mendeskripsikan dari mana tempat (type locality) spesimen jenis burung ini dikumpulkan. Setelah lebih dari 170 tahun lamanya, burung ini ditemukan kembali di Kalimantan Selatan pada 5 Oktober 2020 oleh dua orang warga yang bernama Muhammad Rizky Fauzan dan Muhammad Suranto secara tidak sengaja. Penemuan yang didapatkan oleh warga lokal tersebut hanya berupa bukti foto jenis burung ini (spesimen hidup dilepas kembali ke alam) yang kemudian dibandingkan dengan satu-satunya holotipe jenis burung ini yang ada di Naturalis Biodiversity, Netherlands melalui website orientalbirdimages.org yang tersedia secara online. Kedua warga lokal tersebut kemudian berdiskusi dengan BW Galeatus, Birdpacker, dan kelompok konservasi burung Indonesia. Hasil penemuan tersebut akhirnya diterbitkan oleh Oriental Bird Club melalui jurnal Birding ASIA yang menyatakan bahwa jenis burung pelanduk kalimantan ditemukan kembali setelah hilang selama lebih dari 170 tahun.

Pelanduk kalimantan memiliki penampilan yang gagah dengan ekor yang relatif pendek dan paruh yang kuat. Bulu tubuh bagian atas burung ini berwarna cokelat pekat, sedangkan bulu bagian bawah hingga dada berwarna keabu-abuan dengan goresan putih yang halus.  Burung ini memiliki mahkota dengan warna cokelat (chestnut-brown) dan dibatasi oleh garis mata hitam lebar yang meluas (Eaton et al. 2016). Iris yang dimiliki burung ini berwarna merah tua, tidak sama dengan warna iris holotipe jenis burung ini yang berwarna kekuning-kuningan. Sedangkan kaki burung ini berwarna abu-abu tua, tidak berwarna cokelat seperti ynag digambarkan oleh Eaton et al. (2016). Perbedaan ciri-ciri spesimen hidup dengan holotipe burung jenis ini diakibatkan oleh pemberian warna secara artifisial selama proses taksidermi (pengawetan). Penemuan burung ini selain dapat menjadi bukti eksistensi burung jenis ini di alam (tidak punah), tetapi juga dapat menjadi awal dari penelitian yang lebih mendalam mengenai lokasi, populasi, habitat, serta status keterancaman jenis burung ini di alam.

 

Daftar Pustaka:

Akbar PG, Nugroho TW, Suranto M, Fauzan MR, Ferdiansyah D, Trisiyanto JS, Yong DL. 2020. Missing for 170 years-the rediscovery of Black-browed Malacocincla perspicillata on Borneo. BirdingASIA. 34:13-14.

Eaton JA, van Balen B, Brickle NW, Rheindt FE. 2016. Birds of the Indonesian Archipelago: Greater Sundas and Wallacea. Barcelona: Lynx Edicions.

https://nationalgeographic.grid.id/read/132583146/dianggap-punah-170-tahun-lalu-burung-pelanduk-kalimantan-muncul-lagi?page=all

https://www.mongabay.co.id/2021/03/04/hilang-selama-172-tahun-burung-pelanduk-kalimantan-ditemukan-kembali/

https://www.bbc.com/indonesia/dunia-56198059

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *