Kultur Jaringan – KPF

Oleh : KPF Himakova

Kuljar6

Sabtu (19/3/2016) Kelompok Pemerhati Flora (KPF) melakukan kegiatan kultur jaringan yang berlokasi di Esha Flora Taman Cimanggu Bogor. Kultur jaringan adalah suatu cara yang digunakan untuk memperbanyak tanaman dengan memanfaatkan totipotensi bagian terkecil yang dimiliki oleh tanaman itu sendiri. Proses kultur jaringan dilakukan dalam keadaan yang harus steril atau bersih untuk menghasilkan tanaman kultur yang baik dan dapat dikembangkan.

Kuljar2

Esha Flora merupakan suatu perusahaan yang dimiliki oleh Bapak Edhi Sandra dan Ibu Hapsiati yang bergerak pada bidang kultur jaringan. Kelompok Pemerhati Flora (KPF) melakukan kegiatan praktik pembuatan kultur jaringan dimulai dengan pembuatan media, inisiasi dan subkultur.

Kuljar4

Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas. Sedangkan subkultur adalah pemindahan eksplan ke media multiplikasi yang bertujuan untuk perbanyakan dan pengakaran. Jenis tanaman yang dilakukan pada proses subkultur antara lain : sengon, cendana india dan anggrek.

Kuljar5

Monitoring Herpetofauna Kampus IPB Dramaga

Oleh : KPH Himakova

duttaphrynus_melanostictus

Monitoring Kampus Herpetofauna merupakan salah satu kegiatan rutin yang dijalankan oleh Kelompok Pemerhati Herpetofauna “Phyton” HIMAKOVA. Kegiatan ini dilaksanakan sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan. Monitoring Kampus Ke-II KPH 2015/2016 dilaksanakan di Hutan Al-Hurriyyah Kampus IPB Dramaga pada hari Jumat, 18 Maret 2016. Hutan Al-hurriyah berlokasi di sebelah utara Masjid Al-hurriyah IPB Dramaga dan didominasi oleh tanaman karet dan kelapa sawit.

Sebelum melakukan pengamatan kami berkumpul terlebih dahulu di Bawah Tangga Perpustakaan (BTP) Gedung KSH Lama. Pukul 19.25 WIB seluruh peserta yang berjumlah 13 orang menuju lokasi pengamatan. Tepat pukul 19.39 WIB kami tiba di lokasi dan langsung melakukan briefing yang di pimpin oleh Dennis. Monitoring Kampus ke-II KPH “Phyton” dilaksanakan dengan pembagian dua jalur pengamatan. Tepat pukul 19.45 WIB pengamatan dimulai. Perjalanan pada kedua jalur cukup sulit, dikarenakan jalan yang licin sampai akhir perjalanan dan ada beberapa pohon tumbang yang menghalangi jalan serta di akhir perjalanan terdapat semak berlumpur yang tersamarkan. Selama pengamatan intensitas pertemuan dengan satwa khususnya herpetofauna terbilang cukup jarang.

Pada jalur pengamatan, kami menemukan Duttaphrynus melanostictus sebagai herpetofauna yang pertama ditemukan pada pukul 20.18 WIB. Dendrelaphis pictus ditemukan oleh Dzikry sedang berdiam di pucuk pohon pada ketinggian kurang lebih 3 meter, beberapa dari kami mencoba meraih ular tersebut namun ular tersebut kabur dengan gesit. Sebelum mengakhiri perjalanan Wardah menemukan Polypedates leucomystax di lahan berlumpur yang ditumbuhi rumput. Selain itu pada jalur satu juga ditemukan Cyrtodactylus marmoratus, Ahaetulla prasina, dan Bronchocela jubata.

Pada jalur pengamatan lainnya terdapat jenis menarik yang ditemukan yaitu ular Gonyosoma oxycephalum, ular berwarna hijau ini berdiam di ranting pohon yang tinggi, kurang lebih 4 meter. Gonyosoma oxycephalum merupakan ular dari suku colubridae, di indonesia sering disebut sebagai ular bajing karena ular ini memangsa bajing atau tupai. Selain itu, ular ini sering disebut sebagai ular viper pohon (Trimeresurus albolabris) karena warna ekornya yang terkadang kemerahan namun ular ini berbeda dengan Trimeresurus albolabris. Ular Bajing ini tidak berbisa mematikan, efek gigitan ular ini bagi manusia hampir tak ada karena tidak berbisa. Dominan warna hijau atau hijau terang di sepanjang punggungnya, dan kuning di sepanjang perutnya. Kepala hijau kekuningan, hijau zaitun atau kecoklatan di sebelah atas, dengan garis hitam melintasi mata, serta bibir yang berwarna kekuningan. Sayangnya ular ini tidak dapat diambil karena sulit dijangkau. Selain itu pada jalur pengamatan juga ditemukan Takydromus sexlineatus, Polypedates leucomystax, dan Dendrelaphis pictus.

Pukul 21.15 WIB, dari kedua jalur bertemu di akhir jalur lalu melakukan trackback. Beberapa jenis yang ditemukan saat trackback adalah Polypedates leucomystax, Ahaetulla prasina, dan Duttaphrynus melanostictus. Pengamatan berakhir pada pukul 21.45 WIB, lalu dilanjutkan dengan identifikasi lebih lanjut dengan melakukan pengukuran SVL, TL, dan beratnya.

Sumber Gambar : carnivoraforum.com

Frankixalus jerdonii – Satu Abad Punah, Kini Ditemukan

Oleh : KPH Himakova

Ktk2Tahukah kamu, selama hampir 150 tahun katak Frankixalus jerdonii telah dinyatakan hil ang atau punah ? Namun, setelah pencarian selama kurang lebih 3 tahun yang dimulai sejak tahun 2007 yang dilakukan oleh seorang ahli biologi asal inggris Thomas Jordon dan timnya menemukan kembali katak ini di wilayah Darjeeling bagian timur laut India. Katak ini terkhir terlihat di alam liar sekitar tahun 1870an sebelum akhirnya dinyatak hilang atau punah.

Katak ini memiliki panjang tubuh keseluruhan 20 inchi (50 cm). Betina dari jenis katak ini meletakkan telurnya di dalam lubang pohon atau cekungan pohon yang terdapat genangan air hingga menetas menjadi berudu. Sedangkan, katak betina akan tinggal disekitar lubang tersebut untuk menjaga telurnya. Setelah berudu tersebut menetas akan jatuh kedalam air dan katak betina akan memberi makan berdudu tersebut hingga ia berubah menjadi katak muda.
Ktk1

Para ilmuwan menduga bahwa sebagian dari katak tersebut saling berbagi lubang atau cekungan pohon untuk menjaga telurnya agar kebutuhan makan anak-anaknya dapat terpenuhi. Namun, hal ini masih diragukan dan masih membutuhkan persetujuan dari peneliti.

Sumber : nationalgeographic.co.id

Jangan Melepaskan Satwa Liar Jika Cinta

|Berita Konservasi|

Oleh : Mirza D. Kusrini (Dosen DKSHE Fahutan IPB – Pembina KPH Himakova)

MDK

Merajalelanya hama di ladang-ladang tebu sumber utama perekonomian Australia pada awal 1900, membuat pemerintah memutar otak untuk mencari jalan keluar. Pusat penelitian gula Australia kemudian mendatangkan kodok Rhinella marina dari Hawaii.

Kodok ini dijadikan sebagai kontrol biologi hama. Hewan ini kemudian dilepaskan pada Agustus 1935 di sentra tebu. Sayangnya, hewan yang kemudian dikenal dengan nama kodok tebu ini ternyata tidak bekerja efektif. Sebaliknya, kodok itu justru mengancam satwa liar lain dan menjadi hama nomor satu di Australia.

Para ahli lingkungan mengistilahkan satwa dan tumbuhan yang tidak berasal dari lokasi tertentu kemudian menyebar luas sehingga merusak lingkungan, ekonomi, dan kesehatan sebagai jenis invasif atau jenis asing atau alien.

Pergerakan global manusia dan berbagai produk memfasilitasi pergerakan jenis asing di seluruh dunia. Tanpa keberadaan predator, patogen dan kompetitor alami, mereka kemudian tumbuh subur di lingkungan baru, menjadi pesaing jenis lokal sehingga memengaruhi seluruh ekosistem.

Dari sekian cara pemasukan jenis asing, masalah paling besar datang dari jenis-jenis yang sengaja didatangkan untuk industri tanaman hias ataupun hewan peliharaan. Catatan mengenai jenis asing yang merugikan di Indonesia cukup banyak.

Mulai dari eceng gondok yang bermula sebagai tanaman hias di Kebun Raya Bogor. Kemudian, penyebaran tumbuhan Acasia niloticayang menyiutkan savana habitat banteng di Taman Nasional Baluran sampai keong mas yang berasal dari peliharaan akuarium. Tidak terbilang kerugian ekonomi dan ekologi dari jenis invasif di Indonesia. (more…)

Penglihatan Unik Kelelawar – Ekolokasi

Oleh : KPM Himakova

Kelelawar merupakan satu-satunya mamalia yang bisa terbang secara keseluruhan. Satwa ini aktif pada malam hari (Nocturnal). Ciri khusus yang menjadikan satwa ini unik yaitu kemampuan terbang di malam hari yaitu dengan eckolokasi. Ekolokasi berfungsi untuk memperkirakan jarak terbang. Ekolokasi merupakan kemampuan memperkirakan jarak dengan menggunakan bunyi pantul ultrasonic. Kelelawar dibagi menjadi dua jenis yaitu Microchiroptera (Microbat) dan Megachiropter (Megabat). Kelelawar yang menggunakan ekolokasi yaitu Microchiroptera. Mata dari Microchiroptera sangat kecil dan tidak berkembang dengan baik. Namun, kelelawar ini memiliki telinga yang sangat sensitive dan berukuran cukup besar dibandingkan dengan ukuran kepalanya. Satu hal yang sangat unik dari telinga kelelawar adalah kemampuan menerima getaran gema. Gema merupakan bunti pantul yang terdengar setelah bunti asli selesai.

kelelawar2

Gambar 1kelelawar1

Gambar 2

Telinga kelelawar menerima getaran ultrasonic dengan frekuensi lebih dari 20.000 Hz yang dikeluarkan dari pangkal tenggorokannya. Saat getaran dikeluarkan dan menyentuh suatu benda, maka gema yang ditimbulkan akan diterima oleh telinga kelelawar, gema tersebut memberikan informasi tentang benda yang berada di sekitarnya. Proses ekolokasi yaitu saat terbang, kelelawar mengeluarkan bunyi berfrekuensi tinggi lebih dari 20.000 Hz yaitu bunyi ultrasonik. Bunyi ultrasonik akan mengenai benda atau mangsa di sekitarnya. Bunyi ini akan dipantulkan kembali oleh benda-benda tersebut. Kelelawar akan menangkap bunyi pantulan dari benda atau mangsanya. Semakin cepat gema yang diterima oleh kelelawar maka jarak kelelawar dengan benda semakin dekat, jika gema semakain lama diterima maka jarak kelelawar dengan bendanya masih jauh. Oleh karena itu kelelawar dapat memperkirakan jarak terbang. Kelelawar dapat mengenali dan membedakan antara mangsa dan bukan mangsa serta benda-benda yang berada di sekitarnya.

Sumber gambar : www.eurobats.org,  www.batconservationireland.org

Gelap Itu Indah – Pesona Gua dan Kawasan Karst

Oleh : KPG Himakova

Banyak orang bilang bahwa Indonesia memiliki banyak tempat yang indah, baik masyarakat Indonesia itu sendiri maupun orang-orang mancanegara yang datang ke Indonesia untuk melihat langsung keindahannya. Tapi, menurut kami semua itu salah, karna sebenarnya hanya sedikit tempat indah di Indonesia, karna sisanya sangat indah!.

Karst1

Gambar 1  Kawasan karst

            Kawasan karst merupakan salah satu kawasan yang unik dan menyebar di pulau besar dan kecil di Indonesia. Sekitar 20% dari luas kawasan Indonesia merupakan kawasan karst. Kawasan karst merupakan kawasan yang terdiri dari batuan gamping yang mudah terlarut menyebabkan kawasan ini mempunya ekosistem yang unik, baik di permukaan kawasan karst maupun dibawah kawasan karst itu sendiri.

Gua1

Gambar 2  Gua

Gua merupakan salah satu ekosistem unik yang terbentuk dibawah permukaan kawasan karst. Perbedaan gua di kawasan karst dengan gua ditempat lainnya yaitu terdapatnya ornamen-ornamen yang indah pada gua kawasan karst seperti stalaktit, stalakmit, gourdam, sodastrow, fishbone serta ornamen lainnya. Sehingga, ornamen-ornamen tersebut menyajikan pemandangan yang begitu indah didalam kegelapan. Bahkan, beberapa gua terdapat air terjun yang menyajikan pemandangan sangat indah. Tidak hanya itu, gua memilik fauna-fauna yang unik seperti ikan transparan, kelalawar, siput, dan beberapa fauna unik lainnya.

Susur gua menyajikan pengalaman yang menantang dan menyenangkan bagi penggiatnya maupun bagi orang awam. Beberapa kegiatan gua bagi peminat khusus yang menyajikan kegiatan seperti merunduk, jongkok, merangkak, hingga berenang member kesenangan sendiri untuk penggiat gua serta bagi gua vertikal yang membutuhkan keterampilan tambahan yaitu dengan menggunakan teknik single rope technic (SRT). Namun, bagi kamu yang sebelumnya belum memiliki pengalaman susur gua tidak perlu khawatir untuk mulai mencobanya, mulailah dari gua horizontal. Siapkan ransel dan nyalakan sentermu! Salam gelap itu indah!

Burung Walet atau Burung Layang Layang ?

Oleh : KPB Himakova

Burung merupakan satwa yang mudah ditemui dan berada di sekitar kita, hampir di semua tempat kita dapat berjumpa dengan burung. Satwa yang memilki kemampuan untuk terbang ini memilki bentuk, warna, dam suara yang unik. Burung yang paling mudah dikenali oleh orang-orang awam adalah burung walet. Burung ini memilki bentuk yang khas dan sering terbang berputar-putar. Burung ini juga sering dibudidayakan karena sarangnya memilki nilai jual yang cukup tinggi. Namun, yakinkah apakah yang kita lihat itu benar benar walet ?

Gambar 1

waleta. Walet linchi ( Collocalia linchi)

layang2

b. Layang Layang Batu ( Hirundo tahitica)

Burung walet merupakan burung Apodidae ( A = tidak, Podos = kaki) atau memilki kaki semu, burung ini termasuk kedalam burung non-passeriformies atau burung yang tidak berkicau. Jenis burung ini seringkali tertukar dengan kembarannya yaitu burung layang layang, apalagi saat kedua burung ini terbang. Namun, jika diperhatikan baik-baik burung Walet dan Burung layang-layang sebenarnya memilki perbedaan yang cukup mencolok baik dari bentuk tubuh, cara terbang maupun prilaku. (more…)

Ekspedisi Studi Konservasi Lingkungan ‘Surili’ Himakova IPB Pecahkan Rekor Muri

MURI

[INFO HIMAKOVA]

Selasa (22/12/2015), perwakilan mahasiswa Himpunan Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata(HIMAKOVA) yakni Bangkit Maulana dan Rizka Sya’bana Azmi diundang oleh pihak Musium Rekor Indonesia (MURI) untuk menerim
a penghargaan Institut Prestasi Nusantara atas rekor Studi Konservasi Lingkungan oleh Mahasiswa Secara Berkelanjutan Terlama.
(more…)

Persiapan menuju Studi Konservasi Lingkungan 2016

[HIMAKOVA REPORT]
Himakova - WWF - UNNAS
Pada tanggal 15 Februari 2016 telah diadakan pertemuan antara HIMAKOVA dengan WWF serta teman-teman dari UNIVERSITAS NASIONAL (UNNAS). Pertemuan ini membahas mengenai keberlangsungan kegiatan SURILI (Studi Konservasi Lingkungan) yang akan diselenggarakan pada bulan Juni-Juli 2016 bertempatan di Suaka Margasatwa Rimbang Baling Provinsi Riau. Semoga kegiatan ini dapat bermanfaat.

#MenujuSurili2016

Persiapkan Surili 2014 KPG ‘HIRA’ Himakova pelatihan bersama HIKESPI

Kelompok Pemerhati Gua (KPG) “HIRA” adalah salah satu kelompok pemerhati yang ada di Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (HIMAKOVA) yang fokus terhadap kegiatan geospeologi dan konservasi kawasan karst. Dalam melaksanakan program kerja ataupun kegiatan lain yang berkaitan dengan penelusuran diperlukan tingkat pemahaman, keamanan dan keterampilan khusus. Untuk mendapat hasil maksimal dan berkualitas dalam setiap kegiatan ekspedisi, perlu adanya peningkatan kemampuan dan keterampilan bagi para anggota KPG. Tahun 2014 ini KPG merupakan Kelompok pemerhati yang diberikan tugas khusus untuk mengkaji kawasan karst yang terdapat di Taman Nasional Aketajawe-Lolobata Pulau Halmahera Maluku . “ Kawasan gua di TN aketajawe sangat jarang di eksplorasi maka dari itu kami meminta saat kegiatan Studi Konservasi Lingkungan (SURILI) nantinya diutamakan pada pengkajian ekowisata dan Gua” ucap pihak TN aketajawe-lolobata saat rapat bersama himakova (88/00).

Untuk meningkatkan kemampuan anggota KPG terutama untuk mempersiapkan Ekspedisi Himakova tahun ini maka diadakan Pelatihan Caving dan Biospeologi bersama Hikespi (Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia) yang bermarkas di kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta. Banyak hal yang akan diasah terutama teknik penelusuran, pemetaan, dan biospeologi serta hal-hal yang akan dieksplorasi secara scientific di Taman nasional Aketawaje-Lolobata nantinya. Pak Cahyo Alkantana Pimpinan Hikespi memberi wejangan, “Jika akan melakukan ekspedisi sebaiknya melakukan pelatihan dulu agar nantinya lancar saat mengambil data”. Menurut informasi kawasan karst di daerah pulau Halmahera sangat berbeda dengan kawsan karst yang berada di kawasan jawa. Begitupun biota dan fungsinya nantinya.

Pelatihan ini di ikuti oleh sepuluh orang anggota KPG yaitu Fanti, Iqbal, Alkori, Qomar, Alifah, Fadlan, Dian, Rizky, Lilis dan Deni. Pelaksanaan pelatihanbersamaan dengan Kegiatan ekspedisi Himakova lainnya yaitu RAFFLESIA, namun KPG tidak mempunyai kajian di Lokasi Cagar Alam yang dituju. Pembina KPG “HIRA” Arzyana juga menyarankan dan mendukung penuh kegiatan ini dilaksanakan untuk mempersiapkan Surili, “Walau KPG tidak ikut raflesia, tapi jangan sampai kalian tidak memiliki kegiatan”. Beliaupun menyarankan melakukan pelatihan untuk meningkatkan Kapasitas anggota KPG “HIRA”Himakova.

Kegiatan Pelatihan dilaksanakan pada tanggal 24-30 Januari 2014. Rangkaian kegiatan ini merupakan kegiatan KDKL (Kursus Dasar dan Kursus Lanjutan) yang biasanya dilakukan dalam waktu 14 hari namun dipadatkan menjadi 6 hari. Kegiatan dimulai dari kegiatan yang paling dasar yaitu kegiatan penelusuran gua horizontal dan pemetaan dengan tingkat grade I.a lalu berlanjut hingga kegiatan yang lebih berat yaitu biospeologi,rigging, dan teknik penelusuran gua vertikal.

Selain itu Tim KPG juga melakukan latihan pembuatan jalur descending yang menggunakan Gua dengan kedalaman 18 hingga 120 meter. Tekniknya pun lebih kompleks namun memudahkan untuk menaiki dan menuruni Gua vertical dengan kedalaman ekstrim dengan meminimalisir tenaga dan memberikan kenyaman pada penelusur.selain materi penelusuran terdapat materi penting lainnya terkait kawasan karst dan komponen didalamnya. Materi tersebut diantaranya yaitu karstifikasi, hidrologi, biospeleologi , fotografi, dan beberapa pengetahuan mengenai inventarisasi fauna gua.

Tim KPG ‘Hira’ mengakhiri pelatihan dengan latihan Rescue, hal ini sangat penting dipelajari untuk mencegah kecelakaan atau pun melakukan penyelamatan dalam keadaan darurat. Segala ilmu, pengalaman, dan hal-hal baru yang didapat dalam pelatihan ini merupakan pelajaran luar biasa yang harus terus diasah dan dikembangkan agar bermanfaat untuk kegiatan-kegiatan KPG kedepannya.

3

Gambar 1.Tim KPG “HIRA” berfoto bersama Pak CahyoAlkantana (presiden HIKESPI)

JAKARTA BIRD WALK

Sabtu, 4 Januari 2014  KPB “Perenjak” HIMAKOVA mengikuti kegiatan pengamatan burung di Kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke, Jakarta Utara. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan “Jakarta Bird Walk” yang diselenggarakan Kelompok Pengamat Burung “Nycticorax” yang sebelumnya sudah dilaksanakan di kawasan Monumen Nasional Jakarta, kegiatan ini merupakan kedua kalinya KPB “Perenjak” HIMAKOVA ikut berpatisipasi dalam rangkaian kegiatan tersebut.

12


Kegiatan “Jakarta Bird Walk” merupakan suatu kegiatan yang diselenggarakan Kelompok Pengamat Burung “Nycticorax nycticorax” UNJ dengan tujuan untuk memantau keberadaan burung – burung di kawasan ruang terbuka hijau yang tersisa di Jakarta.

Pengamatan di kawasan SM Muara Angke dimulai pukul 07.00 s.d 10.00 WIB. Pengamatan dilakukan pada jalur yang terdapat di dalam kawasan SM Muara Angke dengan mencatat semua jenis burung yang teramati. Tercatat 64 jenis burung dari 24 famili. Diantara burung-burung yang teramati, terdapat satu jenis burung yang merupakan jenis burung migran yaitu Sikatan Emas (Ficedula zanthopygia). Burung ini memiliki ciri morfologi berukuran kecil (13 cm), berwarna kuning, putih, dan hitam (jantan) atau coklat (betina), alis putih, punggung jantan lebih hitam, dan tunggir betina kuning. Iris coklat, paruh dankaki hitam (MacKinnon et.al, 1998)

21




Burung migran merupakan burung yang melakukan migrasi. Migrasi merupakan pergerakan musiman yang dilakukan secara terus menerus dari satu tempat ke tempat lain dan kembali ke tempat semula, biasanya dilakukan dalam dua musim yang meliputi datang dan kembali ke daerah perkembangbiakan (Alikodra, 1990). Sikatan emas tercatat berbiak di Asia timur laut, mengembara pada musim dingin ke selatan sampai Cina. Di Indonesia sikatan emas merupakan pengunjung musim dingin yang tidak umum, sampai ketinggian 900 m di Sumatera, di Kalimantan tercatat hanya di Anambas dan Brunei. Sedangkan di Jawa dan Bali agak jarang, terdapat secara teratur di beberapa tempat (MacKinnon et.al, 1998).