Hari Meteorologi Sedunia

HARI METEOROLOGI SEDUNIA

Oleh: Robie Muhammad Ramadhan

Meteorologi berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari dua  kata yaitu “meteoros” dan “logos” Meteoros sendiri berasal dari kata “meteor”. Meteoros artinya jauh tinggi di udara, sedangkan logos berarti pembahasan, dan meteor itu merupakan benda-benda langit, seperti hidrometeor, optik meteor, dan yang mencakup angin, halilintar, pelangi dan sebagainya yang terjadi akibat adanya peristiwa fisika di udara. Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut diatas, jika disimpulkan maka meteorologi merupakan suatu pembahasan berbagai proses fisika yang berlangsung di atmosfir pada saat tertentu. Atau dengan kata lain meteorologi yaitu ilmu yang mempelajari tentang keadaan lapisan udara yang menyelimuti bumi pada saat tertentu (Arifin dan Manengkey 2019).

Hari Meteorologi Sedunia atau World Meteorological Day jatuh pada tanggal tanggal 23 Maret yang diperingati setiap tahunnya di seluruh dunia. Tanggal ini merupakan hari lahirnya World Meteorological Organization (WMO) yang berdiri pada tanggal 23 Maret 1950 di bawah naungan PBB. WMO merupakan sebuah organisasi antarpemerintah dengan keanggotaan 188 negara termasuk Indonesia yang bertujuan untuk menangani kerja sama antarbangsa di bidang meteorologi, hidrologi, dan sains kebumian.

Hari Meteorologi Sedunia ke-72 yang jatuh pada tahun ini mengangkat tema “Early Warning and Early Action” atau Peringatan Dini dan Aksi Dini. Hal ini diharapkan agar masyarakat dunia bisa menyadari akan pentingnya Informasi Hidrometeorologi dan Iklim untuk pengurangan risiko bencana sehingga menjadi siap dan mampu bertindak pada waktu yang tepat, di tempat yang tepat, dan dapat menyelamatkan banyak nyawa, baik sekarang maupun di masa depan.

Dalam memperingati Hari Meteorologi tahun ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengadakan sosialisasi untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat agar lebih dini melakukan upaya-upaya penanggulangan bencana. Tidak hanya bencana hidrometeorologi, tetapi juga ancaman terhadap kejadian gempabumi dan tsunami. BMKG menilai masyarakat Indonesia masih belum memiliki kepedulian dan pemahaman tentang kesiapan mitigasi bencana sehinga mudah terpengaruh oleh hoax yang seringkali muncul di media sosial.

BMKG menyoroti dua hal yang perlu diterapkan di masyarakat Indonesia secara luas agar kesadaran tentang risiko bencana lebih meningkat, yakni pentingnya peningkatan kapasitas manajemen penanggulangan dan adaptasi bencana, terutama di tingkat daerah dari tingkat kelurahan, desa, hingga provinsi secara terus menerus; serta perlu adanya edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat, terutama masyarakat di wilayah rawan bencana.

 

Sumber:

Hatif Thirafi. 17 Maret 2022. BMKG Ajak BPBD dan Perguruan Tinggi Gencarkan Edukasi Risiko Gempabumi dan Tsunami. Diakses pada tanggal 20 Maret 2022 melalui https://www.bmkg.go.id/berita/?p=bmkg-ajak-bpbd-dan-perguruan-tinggi-gencarkan-edukasi-risiko-gempabumi-dan-tsunami&lang=ID

Isaneni Robani. 19 Maret 2022. Hari Meteorologi ke-72 : BMKG Gelar Sosialisasi Edukasi Risiko Gempabumi dan Tsunami. Diakses pada tanggal 20 Maret 2022 melalui https://www.lintaspewarta.com/nasional/pr-1932993172/hari-meteorologi-ke-72-bmkg-gelar-sosialisasi-edukasi-risiko-gempabumi-dan-tsunami