Hari Bumi

HARI BUMI

Oleh: Melia Fathika Rochmah

Halo teman-teman, apakah kalian tahu ada apa dengan hari ini? Iya, 22 April merupakan Hari Bumi (Earth Day). Hari Bumi ini merupakan sebuah event tahunan yang diadakan sebagai penghargaan dan apresiasi publik terhadap bumi sebagai tempat tinggal, juga sebagai pengingat bagi manusia akan pelestarian lingkungan yang harus terus digalakkan. Hari Bumi pertama kali pada tahun 1970 dirayakan oleh 20 juta orang Amerika yang kemudian mendunia pada tahun 1990 dengan 141 negara yang berpartisipasi dalam perayaan tersebut dan mulai dikoordinasikan oleh Earth Day Network pada tahun 2016 (Morton 2016). Berbagai kegiatan yang mampu menumbuhkan kesadaran mengenai pelestarian lingkungan dilakukan pada Hari Bumi yang bertujuan melindungi bumi agar tetap layak dan sehat untuk dihuni seluruh makhluk hidup.

Saat ini perubahan iklim menjadi tantangan serius yang harus dihadapi. Isu pemanasan global (global warming) menjadi hal yang hangat untuk dibicarakan, tidak terkecuali sebagai pengingat pada Hari Bumi ini. Pemanasan global menyebabkan berbagai perubahan dalam ekosistem di bumi seperti perubahan iklim yang ekstrim, perubahan pola presipitasi, serta naiknya permukaan air laut yang berdampak pada berkurangnya luasan daratan di seluruh dunia. Selain itu pemanasan global juga mengakibatkan adanya perubahan tekanan udara, suhu, arah angin sehingga mengakibatkan adanya perubahan jalur migrasi ikan dan kerusakan berbagai terumbu karang sebagai habitat berbagai jenis satwa dan flora laut yang berdampak pada hasil laut baik perikanan tangkap maupun tanaman laut yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat (Utina 2008). Hal ini juga berdampak pada kualitas hasil pertanian dan mengakibatkan punahnya berbagai jenis flora dan satwa di dunia.

Pemanasan global terjadi salah satunya akibat efek rumah kaca. Energi matahari merupakan energi utama bagi setiap energi di bumi yang Sebagian besar berbentuk radiasi gelombang pendek yang memancar menuju bumi. Permukaan bumi menyerap sebagian energi panas matahari dan sebagian akan dipantulkan kembali ke luar angkasa. Hal ini menyebabkan bumi menjadi hangat sehingga kehidupan tetap terjadi di bumi. Namun adanya gas rumah kaca seperti metana, karbondioksida dan uap air yang menumpuk dalam jumlah besar yang diakibatkan oleh berbagai aktivitas manusia, mengakibatkan sebagian panas berbentuk inframerah tetap terperangkap, ditambah dengan efek pantulan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan oleh permukaan bumi oleh atmosfer sehingga panas tersebut tetap terperangkap di permukaan bumi. Hal tersebut mengakibatkan suhu rata-rata bumi meningkat tiap tahunnya (Utina 2008).

Hari Bumi ada salah satunya untuk menumbuhkan rasa peduli pada bumi dan mengingatkan bahaya adanya pemanasan global. Berbagai cara sederhana dapat dilakukan untuk mengurangi dampak pemanasan global, kerusakan lingkungan, dan menumbuhkan kepedulian pelestarian lingkungan kepada orang di sekeliling kita yakni sebagai berikut:

  1. Mengutamakan penggunaan transportasi umum daripada transportasi bermotor milik pribadi. Hal ini dilakukan selain mengurangi jumlah karbon yang terlepas ke udara juga mengurangi resiko kemacetan di jalan raya, sehingga jika kesadaran tersebut muncul oleh banyak orang secara bertahap dapat mengurangi kemacetan jalan raya dan mampu memperbaiki kualitas udara secara bertahap pula.
  2. Penerapan 3R: Reduce, Reuse, Recycle. Penerapan ini diharapkan mampu mengurangi jumlah sampah yang beresiko merusak lingkungan yakni dengan memperpanjang umur penggunaan suatu barang seperti dengan melakukan daur ulang dan menggunakan kembali suatu barang yang masih bisa digunakan. Penerapan 3R ini tidak hanya bisa dilakukan sendirian namun dapat dilakukan Bersama dengan mengajak orang di sekitar kita sehingga resiko kerusakan lingkungan dapat berkurang.
  3. Pengembangkan masyarakat peduli lingkungan. Gerakan peduli lingkungan di tengah masyarakat diharapkan dapat efektif disampaikan melalui pendidikan lingkungan sekolah contohnya yakni Pendidikan konservasi (Desfandi 2015). Penyampaian Pendidikan konservasi secara formal dan non formal dapat membantu masyarakat untuk memahami dampak perilaku manusia di bumi serta pentingnya bumi sebagai tempat hidup yang berkelanjutan.

 

Sumber:

Desfandi, M. 2015. Mewujudkan masyarakat berkarakter peduli lingkungan melalui program adiwiyata. Jurnal Sosio Didaktika 2(1):31-37.

Morton J. 2016. The story behind earth day. Refuge Notebook 33-34.

Utina R. 2008. Pemanasan global: dampak dan upaya meminimalisasinya. Jurnal SAINTEK Universitas Negeri Gorontalo 3(1):1-11.