Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia

HARI PENANGGULANGAN DEGRADASI LAHAN DAN KEKERINGAN SEDUNIA

Oleh: Aliya Arijil Mumtaz

Degradasi lahan adalah proses penurunan produktivitas lahan yang sifatnya sementara maupun tetap, dicirikan dengan penurunan sifat fisik, kimia dan biologi. Kecenderungan penurunan (degradasi) sumberdaya lahan akan semakin meningkat, sebagai dampak pertumbuhan penduduk. Lahan terdegradasi bukan saja merupakan lahan yang tidak produktif, tetapi juga dapat menjadi sumber bencana, mulai dari kekeringan, banjir, tanah longsor, sampai kebakaran yang bisa berdampak terhadap terjadinya percepatan pemanasan global dan berdampak pada kekeringan jangka panjang yang melanda banyak daerah di dunia. WMO melaporkan bahwa sejak tahun 2000 hingga tahun 2021 jumlah dan durasi kekeringan meningkat 29%. Akibat negatif adanya lahan terdegradasi dan kekeringan tidak hanya dirasakan di lokasi di mana lahan terdegradasi berada, tetapi menyebar sangat jauh dan luas.  Dampak degradasi lahan di kawasan Puncak-Bogor, banjirnya sampai Jakarta, dan efek pemanasan global dirasakan sampai di Eropa (Wahyunto dan Dariah 2014).

Semakin meluasnya lahan yang terdegradasi, baik di kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan, di lahan kering maupun di lahan basah/lahan rawa serta meningkatnya persen kenaikan jumlah dan durasi kekeringan di dunia akan berakibat terhadap semakin parahnya kerusakan lingkungan, yang mendorong terjadinya bencana alam yang intensitasnya semakin tinggi. Mengingat besarnya dampak negatif dari terjadinya degradasi lahan dan kekeringan tersebut, menjadi latar belakang sejak tahun 1994, PBB mendeklarasikan tanggal 17 Juni sebagai Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia (The World Day to Combat Desertification and Drought) melalui Resolusi Sidang Umum PBB No. A./RES/49/115 oleh Majelis Umum PBB.

Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia (The World Day to Combat Desertification and Drought) diperingati oleh seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia untuk meningkatkan kesadaran publik akan upaya internasional untuk memerangi penggurunan. Tahun ini Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia memiliki tema “Bangkit dari Kekeringan Bersama” atau “Rising up from Drought Together” yang menekankan perlunya tindakan dini untuk menghindari konsekuensi bencana bagi manusia dan ekosistem. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memiliki kewajiban untuk menyuarakan dan menggerakan peran masyarakat memahami penting dan berharganya lahan serta lingkungan yang stabil untuk masa depan.

Upaya yang bisa dilakukan masayarakat untuk mengurangi kasus degradasi lahan dan kekurangan antara lain melakukan reboisasi, membuat saluran pelepas air, memanfaatkan lahan kosong menjadi hutan, melakukan penerapan pertanian organik yang ramah lingkungan dan cara lainnya. Dunia membutuhkan peran manusia dari hal-hal tersebut yang dilakukan sesegera mungkin sehingga ancaman yang timbul dari kasus degradasi lahan dan kekeringan dapat dihindari.

 

Sumber:

Wahyunto, Dariah A. 2014. Degradasi lahan di Indonesia : kondisi existing, karateristik, dan penyeragaman definisi mendukung gerakan menuju satu peta. Jurnal Sumberdaya Lahan 8(2): 81-93.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia

HARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA

Oleh: Muhammad Ibrahim Ismail

Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati setiap tahun pada tanggal 5 Juni. Peringatan ini pertama kali dilaksanakan pada tahun 1972 dengan tema Only One Earth dalam Konferensi Lingkungan Manusia atau Konferensi Stockholm, yang digelar di Stockholm, Swedia pada tanggal 5-16 Juni 1972. Usulan mengenai diperingatinya Hari Lingkungan Hidup Sedunia disampaikan oleh Jepang dan Senegal. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran global dalam melestarikan kondisi lingkungan.

Lingkungan hidup menjadi isu penting yang sudah menjadi perhatian sejak lama. Dampak pandemi Covid-19 secara langsung juga berpengaruh terhadap potensi risiko di aspek lingkungan pada tahun 2021. IESA mencatat ada empat hal terkait potensi risiko lingkungan pada tahun ini yang perlu menjadi perhatian. Pertama, permasalahan lingkungan seperti kebakaran hutan dan lahan, banjir, longsor, dan perubahan iklim diprediksi masih akan terus berlangsung. Kedua, Undang-Undang Cipta Kerja dapat mengubah pola tata kelola yang ada saat ini. Penyusunan peraturan teknis harus melibatkan pemangku kepentingan tata kelola lingkungan dan kehutanan Ketiga, perubahan tatanan perilaku selama masa pandemi Covid-19 telah membawa dampak langsung pada pengelolaan sampah. Saat ini, kita semua membutuhkan masker untuk melindungi diri dari penyebaran virus Covid-19. Namun perlu ada upaya mitigasi terhadap risiko penularan kembali virus Covid-19 dari sampah masker yang telah digunakan. Sampah medis yang sudah digunakan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, khususnya di perairan. Keempat, tekanan terhadap kapasitas fiskal yang terjadi pada tingkat pemerintah daerah dan pemerintah pusat berpotensi mempengaruhi ketersediaan anggaran pemerintah untuk pengelolaan lingkungan.

Adapun usaha yang dapat dilakukan untuk melestarikan lingkunga hidup diantaranya yaitu:
1. Melakukan pengolahan tanah sesuai kondisi dan kemampuan lahan
2. Memberikan perlakuan khusus kepada limbah
3. Melakukan reboisasi pada lahan-lahan yang kritis
4. Menciptakan dan menggunakan barang-barang hasil industri yang ramah lingkungan
5. Melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap perilaku para pemegang Hak Pengusahaan Hutan
6. Menghemat penggunaan kertas dan pensil,
7. Membuang sampah pada tempatnya,
8. Memanfaatkan barang-barang hasil daur ulang,
9. Menghemat penggunaan listrik, air, dan BBM, serta,
10. Menanam dan merawat pohon di sekitar lingkungan rumah tinggal

 

Sumber :

https://news.detik.com/berita/d-5590479/sejarah-hari-lingkungan-hidup-sedunia-diperingati-tiap-5-juni

http://ditjenppi.menlhk.go.id/berita-ppi/3568-elamat-hari-lingkungan-hidup-sedunia-5-juni-2020-time-for-nature.html

https://dlh.paserkab.go.id/detailpost/cara-menjaga-lingkungan-hidup

Burung-Madu Sriganti, Si Mungil yang Pandai Bersembunyi

Ruang Pemerhati 6: Burung

Madu sriganti (Cinnyris jugularis)

Oleh: Kelompok Pemerhati Burung “Perenjak”

Burung-madu sriganti (Cinnyris jugularis) atau biasa disebut dengan Olive-backed Sunbird merupakan spesies burung yang masuk ke dalam famili nectariniidae, yaitu burung yang memiliki peran sebagai penyerbuk tanaman. Burung – burung ini dapat ditemukan hampir diseluruh jenis habitat, terutama pada habitat yang memiliki pohon berbunga. Hal ini disebabkan karena burung ini pada umumnya memiliki pakan utama berupa nektar bunga. Kebiasaan mereka yang suka hinggap dan juga menghisap nektar bunga inilah yang dapat membantu proses penyerbukan tanaman atau bunga yang mereka hinggapi (Iwanda et al. 2018). Selain itu, burung madu sriganti ini memiliki persebaran global yang cukup besar, yaitu di Cina, Asia tenggara, Papua Nugini, dan Australia bagian utara.

Burung ini memiliki bentuk morfologis yang cukup mungil atau kecil dengan panjang tubuh burung dewasa hanya mencapai kurang lebih 11 cm. Untuk warna bulunya sendiri burung ini identik dengan warna hijau olive pada bagian punggung dan warna kuning terang pada bagian bawah atau perut mereka. Namun untuk warna bulu pada jantan dan betina sendiri memiliki perbedaan khusus, yaitu untuk burung berjenis kelamin jantan pada bagian muka, dagu, dan dada mereka berwarna hitam-keunguan, sedangkan untuk betinanya sendiri hanya memiliki warna kuning terang pada bagian bawah tubuh mereka. Ketinggian terbang burung ini cenderung rendah hingga sedang disekitar pepohonan dan rerumputan.

Burung ini cukup mudah di identifikasi jika berada di tegakan atau vegetasi yang cukup terbuka dan tidak terlalu rapat. Namun jika burung ini ditemukan di daerah yang vegetasinya rapat, maka proses identifikasi burung ini memerlukan fokus dan konsentrasi extra. Hal ini disebabkan karena warna bulu burung ini hampir menyerupai dengan warna semak-semak dan juga daun-daun pepohonan yang biasa mereka hinggap yang membuat burung ini seakan-akan “bersembunyi” dan menyatu dengan alam. Selain warna bulu mereka yang menyerupai vegetasi tempat mereka hinggap, bentuk morfologi mereka yang hampir menyerupai dengan salah satu kerabat mereka yaitu madu kelapa (Anthreptes malacensis) membuat burung ini juga sulit untuk di identifikasi jika kedua spesies burung tersebut berada dalam satu lokasi. Untuk mengurangi kesulitan dan juga kesalahan dalam mengidentifikasi burung madu sriganti ini diperlukan ketelitian dan juga pengamatan lapang yang banyak untuk meminimalisir kesalahan dalam mengidentifikasi burung ini.

 

Sumber:

BirdLife International. 2016. Cinnyris jugularisThe IUCN Red List of Threatened Species 2016: e.T103804139A94552679. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2016-3.RLTS.T103804139A94552679.en. Accessed on 11 April 2022.

https://eresources.nlb.gov.sg/infopedia/articles/SIP_1512_2009-04-27.html

http://datazone.birdlife.org/species/factsheet/olive-backed-sunbird-cinnyris-jugularis

Iwanda R, Parikesit DW, Kenria ND, Rinaldi D. 2018. Distribusi dan aktivitas harian burung madu sriganti dan burung madu kelapa di Kampus Dramaga, Bogor. Di dalam: Yuda P, Hadiprakoso Y, Utami NR, editor. Konferensi Peneliti dan Pemerhati Burung di Indonesia (KPPBI) 4 Semarang. Semarang: LPPM UNNES. hlm 284–292.

Hari Bumi

HARI BUMI

Oleh: Melia Fathika Rochmah

Halo teman-teman, apakah kalian tahu ada apa dengan hari ini? Iya, 22 April merupakan Hari Bumi (Earth Day). Hari Bumi ini merupakan sebuah event tahunan yang diadakan sebagai penghargaan dan apresiasi publik terhadap bumi sebagai tempat tinggal, juga sebagai pengingat bagi manusia akan pelestarian lingkungan yang harus terus digalakkan. (more…)

Hari Meteorologi Sedunia

HARI METEOROLOGI SEDUNIA

Oleh: Robie Muhammad Ramadhan

Meteorologi berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari dua  kata yaitu “meteoros” dan “logos” Meteoros sendiri berasal dari kata “meteor”. Meteoros artinya jauh tinggi di udara, sedangkan logos berarti pembahasan, dan meteor itu merupakan benda-benda langit, seperti hidrometeor, optik meteor, dan yang mencakup angin, halilintar, pelangi dan sebagainya yang terjadi akibat adanya peristiwa fisika di udara. (more…)

Hari Hutan Sedunia

HARI HUTAN SEDUNIA

Oleh: Ahmad Rizky

Hari Hutan Sedunia (International Day of Forests) ditetapkan oleh PBB dalam resolusi PBB 67/200 pada 21 Desember 2012.  Peringatan International Day of Forests dilaksanakan setiap tanggal 21 Maret dengan tujuan untuk mengingatkan kepada masyarakat tentang pentingnya hutan bagi kelangsungan hidup manusia. Hari Hutan Sedunial pada tahun 2022 ini mengangkat tema “Forests and Sustainable Production and Consumption”.  (more…)

Hari Bakti Rimbawan

HARI BAKTI RIMBAWAN

Oleh: Erlina Tri Wulandari 

Hari Bakti Rimbawan diperingati setiap tanggal 16 Maret. Hal ini menjadi momentum spesial bagi para rimbawan di seluruh Indonesia. Hari Bakti Rimbawan dirayakan setiap tahun sebagai tanda lahirnya Departemen Kehutanan saat itu, setelah berpisah dari Departemen Pertanian pada tanggal 16 Maret 1983. (more…)

Hari Strategi Konservasi Sedunia

HARI STRATEGI KONSERVASI SEDUNIA

Oleh: Rumman Azidana

Setiap tanggal 6 Maret diperingati sebagai Hari Strategi Konservasi Sedunia. Konservasi merupakan pengelolaan dan penggunaan biosfer secara bijaksana sehingga memungkinkan diperoleh keuntungan terbesar secara lestari untuk generasi sekarang dan tetap terpeliharanya potensi untuk memenuhi kebutuhan generasi penerus yang akan datang. (more…)

Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2021

Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2021

Kenali dan Lindungi Satwa Nasional Indonesia Ini Sebelum Terlambat!

Penulis: Adhani Putri Andini

Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1993 tentang Satwa dan Bunga Nasional yang dikeluarkan oleh Presiden Soeharto menjadi awal mula ditetapkannya Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (more…)