World Wetlands Day 2019 : Wetlands and Climate Change

Posted on Posted in IPB

lahan basah

 

Oleh: Yulia Raudhatul Balaqis Zahro

     Keberadaan lahan basah menjadi penyeimbang dalam berbagai siklus kehidupan dan komponen lainnya, terutama menjadi penyediaan air yang sangat krusial bagi kebutuhan makhluk hidup di muka bumi. Lahan basah merupakan tempat yang cukup basah selama waktu cukup panjang bagi pengembangan vegetasi dan organisme lain yang beradaptasi khusus1. kategori lahan basah ini beranekaragam. Terdapat 30 kategori lahan basah alami dan 9 kategori lahan basah buatan. Namun dalam bidang keilmuan tertentu, kategori ini diringkas menjadi 7 satuan bentang lahan yang menjadi fokus utama konservasi lingkungan, yaitu estuari, pantai terbuka, dataran banjir, rawa air tawar, danau, lahan gambut, dan hutan rawa2. Kontroversi dalam menangani isu konservasi lahan basah yang berkepanjangan menjadi perhatian dunia. Eksistensi peranan besar lahan basah yang mencakup penyedia jasa bagi lingkungan baik secara langsung dan tidak langsung, kesejahteraan satwa dan vegetasi, pemelihara mutu lingkungan, serta penopang fungsi dan struktur ekosistem yang sifatnya adalah komoditas renewable.

     Melihat kepedulian manusia dalam menjaga kelestarian lahan basah yang masih mementingkan segi ekonomi lewat pembangunan dan industri secara besar-besaran, mengakibatkan lahan basah banyak dikonversi peran dan fungsinya, sehingga struktur tanah berubah dari semestinya. Kegiatan dominan ini menyebabkan kualitas lahan basah mengalami degradasi, lalu terjadi ketidakseimbangan ekosistem yang berdampak pada kasus lingkungan secara global. Maka beberapa negara di dunia menjadi sadar bahwa aktivitas manusia yang kurang peduli akan keberadaan dan peranan lahan basah sebelumnya adalah penting. Terbentuklah sebuah inisiasi persatuan negara-negara yang melakukan usaha dalam menjadikan lahan basah tetap lestari. Konvensi Ramsar yang telah diselenggarakan pada 2 Februari 1971 di Iran, dan mulai berlaku 21 Desember 1975 adalah langkah awal kepedulian terhadap lahan basah.  Upaya negara-negara pencetus Konvensi Ramsar ini berangkat dari timbulnya dampak buruk terhadap ekosistem. Hingga saat ini anggota Konvensi Ramsar semakin bertambah hingga pada bulan Februari 2018 telah terlibat 170 negara yang menjadi anggota konvensi3. Semakin tahun upaya lewat pergerakan konvensi ini telihat lewat perubahan stigma masyarakat dunia bahwa aktivitas konversi lahan basah bukan hanya menggunakan lahan basah secara lebih baik. Namun upaya konservasi secara optimal menjadi hal utama dalam pelestarian ekosistem lahan basah.

Hari lahan basah sedunia tahun 2019 mengangkat tema “Wetland and Climate Change”. Keterkaitan dari perubahan iklim dunia menjadi salah satu faktor tekanan bagi lahan basah pada sistem hidrologi, perubahan suhu, dan konversi lahan.  Dampak yang bisa diproyeksikan pada peristiwa iklim ekstrem meliputi perubahan aliran dasar hidrologi, peningkatan stres panas satwa liar, jangkauan yang luas dan aktivitas beberapa faktor hama dan penyakit, peningkatan kerusakan alam  berupa banjir dan tanah lonsor, peningkatan erosi, dan ketidakteraturan siklus cuaca dan angin. Dampak dari perubahan ini bisa berbeda di setiap jenis lahan basah yang karakteristiknya, sehingga membutuhkan tahap rehabilitasi dan restorasi yang berbeda.

     Strategi konservasi lahan basah adalah mencegah dan meminimalisir tekanan yang dapat mengurangi kemampuan lahan basah untuk menanggapi perubahan iklim, seperti mempertahankan kualitas hidrologi secara baik, mengurangi polusi, mengendalikan vegetasi eksotis, dan melindungi keanekaragaman hayati lahan basah serta integritas adalah kunci utama dalam meningkatkan ketahanan ekosistem lahan basah, sehingga jasa dan layanan komoditas ini tetap lestari3. Menurut IPCC memperkirakan bahwa suhu global akan naik 1-5oc selama abad ke-21. Suhu akan memengaruhi biota pantai secara langsung dan menyebabkan perubahan curah hujan, mempercepat kenaikan permukaan laut, dan di daerah tropis mendapat lebih banyak panas sehingga pengangkutan uap air yang lebih besar menuju garis lintang yang lebih tinggi. Beberapa hasil penelitian bahkan menunjukkan kekeringan ekstrem dapat menyebabkan perubahan mendadak dan dramatis dalam kelimpahan dan penataan ruang tanaman dominan, pada jenis satwa tertentu dalam kelas aves akan mengalami secara langsung paparan perubahan iklim dan mengakibatkan  siklus sirkadian alami mereka terganggu. Terutama Burung Migran Neotropis akan terpapar perubahan iklim di habitat musim dingin, pengembangbiakan, dan koridor migrasi.

      Menanggulangi dampak dari perubahan iklim terhadap kualitas lahan basah salah satunya adalah dengan Pemantauan, elemen penting dari manajemen ekosistem yang diperuntukkan mendeteksi perubahan ekosistem jangka panjang; Pelatihan tenaga ahli dan ilmuwan dalam mengonservasi lahan basah; Upaya pengendalian spesies invasif yang menyebar karena kemampuan adaptasi tinggi mereka, dan menyebabkan gangguan terhadap spesies asli; Restorasi dan pengelolaan lahan basah dengan memasukkan osilasi iklim yang diketahui guna mendukung proses pemantauan dan restorasi; Sosialisasi bagi sektor publik dan swasta dalam memikirkan urgensi lahan basah di dunia yang menyokong keseimbangan kehidupan.

       Peringatan Hari Lahan Basah Dunia 2019 ini mengajak kita semua untuk mengambil peran untuk turut ikut serta memaksimalkan kontribusi dan partisipasi dalam mencegah kerusakan bumi akibat perubahan iklim global yang tak hanya akan mencairkan kutub utara, membuat bumi semakin panas, menjadikan laut mengalami perubahan suhu air, ataupun Coral Bleaching. Namun tanpa menutup kemungkinan, keterancaman ekosistem lahan basah di seluruh dunia akan mengalami ketidakseimbangan terutama bagi sistem hidrologi dan hilangnya habitat satwa endemik lahan basah.

  1. Maltby E. 1986. Waterlogged Wealth, An Earthscan Paperback. London
  2. Dugan PJ. 1990. Wetland Conservation. Gland, Switzerland: The World Conservation Union
  3. Kusler J, Brinson M, Niering W, Patterson J, Burkett V, Willard D. 1999. Wetlands and climate change: scientific knowledge and management options. White Paper Institute for Wetland Science and Public Policy. Association of Wetland Managers/Wetland International, Berne Ferrati R, Canziani GA, Moreno DR. 2005. Estero del Ibera: hydrometeorological and hydrological characterization. Ecol Model (186):3–15
FacebookTwitterGoogle+LineGoogle GmailShare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *