PRO-KONTRA PEMBANGUNAN PABRIK SEMEN DI KAWASAN KARST REMBANG

Posted on Posted in IPB

KPG

Kontra yang terjadi antara warga rembang dengan PT Semen Indonesia bermula saat pihak PT Semen Indonesia ingin membangun pabrik penambangan semen di kawasan karst Pegunungan Kendeng Utara, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Lokasi tersebut ditolak oleh warga karena adanya daerah CAT watuputih (Cekungan Air Tanah) yang merupakan daerah resapan, aliran dan pelepasan air yang menyuplai kebutuhan air di Pegunungan Kendeng Utara dan sekitarnya. Penolakan tersebut tidak hanya melibatkan warga setempat namun juga melibatkan mantan Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Surono.  Data dalam catatan Surono bahwa CAT watuputih termasuk dalam kawasan karst diantaranya terdapat mata air dan sungai bawah tanah. Pernyataan ini dipertegas dengan Keputusan Presiden nomor 26/2011 tentang penetapan CAT bahwa daerah Pegunungan Kendeng Utara merupakan daerah CAT. CAT seluas 31 kilometer memilki potensi suplai air yang sangat besar bagi 14 kecamatan di Rembang. Berdasarkan pasal 25 UU Nomor 7/2004 tentang Sumber Daya Air, CAT merupakan kawasan konservasi yang perlu dilindungi dan dikelola.

Berbeda dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bahwa belum adanya keputusan mengenai CAT Watuputih berada di kawasan karst sehingga PT Semen Indonesia mendapatkan izin dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk membangun pabrik semen. Untung Sudadi merupakan peneliti geologi asal Institut Pertanian Bogor, mengatakan bahwa kawasan Kendeng Utara merupakan karst mirip dengan Cekungan Air Tanah. Berbeda dengan pendapat PT Semen Indonesia, Budi Sulistijo seorang koordinator penelitian Lembaga Afiliasi Penelitian Indonesia Institut Teknlogi Bandung yang membuat studi kelayakan untuk perusahaan tersebut, mengatakan bahwa karst yang berada dilokasi tambang hanya jenis karst biasa dan tidak dilindungi. Sampai sekarang warga rembang bersama Surono terus berjuang untuk menolak kegiatan pertambangan di CAT Watuputih.

Maret 2017 petani Kendeng melakukan aksi pasung kaki dengan semen di depan Istana Negara sebagai bentuk penolakan pembangunan pabrik semen di kawasan karst rembang dan menagih janji presiden Joko Widodo untuk melakukan moratorium izin pabrik Semen Gresik di Rembang. Aksi memasung kaki dengan semen ini sudah kedua kalinya, yang pertama yaitu pada tahun 2016 selama 3 hari dan kedua pada tahun 2017 susudah selama 5 hari namun belum ada kejelasan mengenai diterima atau ditolaknya gugatan tersebut. Gugatan peninjauan kembali (PK) dari petani Kendeng sempat dikabulkan, yakni dalam putusan PK Mahkamah Agung Nomor 99 PK/TUN/2016 tertanggal 5 Oktober 2016. Namun kabar terbaru menyebutkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menerbitkan izin untuk PT Semen Indonesia, yang ditandatangani lewat Keputusan Gubernur Nomor 660.1/6 Tahun 2017 tentang Izin Lingkungan Kegiatan Penambangan dan Pembangunan Pabrik Semen PT Semen Indonesia di Kabupaten Rembang. Sehingga petani setempat menagih janji presiden Joko Widodo yang akan mencabut izin yang dikeluarkan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo tersebut yang melawan Perintah Pengadilan yang berkekuatan Hukum tetap.

FacebookTwitterGoogle+LineGoogle GmailShare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *