PRIMATA KECIL BERMATA MERAH KHAS SULAWESI

Posted on Posted in Biodiversitas, KPM (Kelompok pemerhati Mamalia) "Tarsius", Mamalia

Oleh: KPM Himakova

Gambar 1   Tarsius Sulawesi
Gambar 1 Tarsius Sulawesi

Sulawesi merupakan pulau yang memiliki keanekaragaman hayati yang beragam, meliputi keanekaragaman flora dan fauna endemik di Indonesia. Adapun tingkat endemisitas yang tinggi terjadi pada kelompok Mamalia. Salah satu mamalia endemik tersebut adalah TARSIUS. Primata kecil ini sering di sebut monyet terkecil pada malam hari. Tetapi sebenarnya tarsius tidak termasuk kedalam famili monyet (Cercopithecidae), tarsius memiliki famili tersendiri yaitu Tarsiidae. Sedikitnya terdapat 9 jenis tarsius di dunia dan 7 diantaranya terdapat di Sulawesi Indonesia.

Nama Tarsius diambil berdasarkan ciri fisik tubuh mereka yang istimewa, yaitu tulang tarsal yang memanjang, yang membentuk pergelangan kaki mereka. Tarsius memiliki rambut tebal dan halus yang menutupi tubuhnya. Warna rambut bervariasi, tergantung dari jenis, yaitu merah tua, coklat hingga keabu-abuan. Berat tubuh tarsius jantan dewasa sekitar 75 – 165 g. Panjang tubuh 85 – 160 mm, dan panjang ekornya 135 – 275 mm. Ekor panjang tarsius yang tidak berbulu, kecuali pada bagian ujungnya dapat menjadi pembeda dari setiap jenis seperti dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2  Perbedaan morfologi jenis-jenis tarsius yang terdapat di Sulawesi (Shekelle et al. 2008)
Gambar 2 Perbedaan morfologi jenis-jenis tarsius yang terdapat di Sulawesi (Shekelle et al. 2008)

Tarsius termasuk kedalam mamalia yang dilindungi berdasarkan berdasarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar Tahun 1931 dan Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999. Primata ini tergolong ke dalam Appendiks II Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) dan termasuk vulnerable dalam Red List yang dikeluarkan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).

            Primata ini dapat dijumpai tersebar secara endemik di pulau Sulawesi dari Kepulauan Sangihe di sebelah utara, hingga Pulau Selayar. Sedangkan pohon tidur atau sarang tarsius umumnya ditemukan di sekitar hutan sekunder dan perladangan dengan vegetasi yang rapat. Pohon tidur atau sarang tarsius lebih banyak menempati jenis-jenis pohon Bambusa sp.,  Ficus sp., Imperata cylindrica, Arenga pinnatadan Hibiscus tiliaceus. Ketinggian sarang pada pohon tidur berkisar antara 0 – 20 meter di atas permukaan tanah.

Primata ini juga dipilih sebagai lambang dan nama dari Kelompok Pemerhati Mamalia HIMAKOVA yaitu disingkat KPM “Tarsius”.

Daftar Pustaka

Shagir K. 2012. Primata Kecil Tarsius (Tarsius fuscus) di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. [internet]. [Diakses pada 2016 June16]. Tersedia pada : http://www.tn-babul.org/index.php?option=com_content&view=article&id=483:primata-kecil-tarsius-tarsius-fuscus-di-taman-nasional-bantimurung-bulusaraung-&catid=49:artikel

FacebookTwitterGoogle+LineGoogle GmailShare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *