Primata Endemik Mentawai Paling terancam di Dunia

Posted on Posted in IPB

Oleh : KPM Himakova

Simakobu (Simias concolor)
Simakobu (Simias concolor)

Simakobu (Simias concolor) merupakan salah satu primata endemik Kepulauan Mentawai yang memiliki nama lokal monyet ekor babi.Simakobu memiliki ciri ciri morfologi berupa tubuh yang ditumbuhi rambut berwarna coklat kehitaman dengan wajah ditumbuhi rambut berwarna kehitaman.Simakobu memiliki ekor yang lumayan pendek sekitar 15 cm ditumbuhi sediki rambut.Hidung simakobu pesek dan terkesan menghadap keatas.

Simakobu mendiami habitat hutan di lereng bukit di pedalaman pulau maupun di hutan hujan dataran rendah, hutan daerah rawa air payau dan tawar di dalam kelompok kelompok kecil yang terdiri dari satu pejantan, satu atau lebih betina dan anakan.Monyet ekor babi ini merupakan satwa diurnal yang melakukan aktivitas diatas pepohonan.Makanan utama simakobu adalah dedaunan dan juga buah buahan.Simakobu memiliki dua subspesies yaitu Subspesies Simias concolor concolordan Simias concolorsiberu.Subspesies Simias concolor concolor mendiami pulau Pagai Selatan, Pagai Utara, dan Sipora. Sedangkan subspesies Simias concolorsiberu hanya dapat ditemui di pulau Siberut.

Menurut IUCN,simakobu masuk ke dalam status konservasi dengan tingkat keterancaman tertinggi (Critically Endangered).Primata ini juga masuk ke dalam “The World’s 25 Most Endangered Primates” (25 Primata Paling Terancam di Dunia) menurut Primate Specialist Group).Hal ini terjadi karena populasi monyet ekor babi selama 10 tahun terakhir mengalami penurunan hingga 80 %.Laju penurunan populasi monyet ekor babi ini akibatkan oleh perburuan liar dan rusaknya habitat akibat deforestasi dan perambahan hutan.

Untuk mencegah tingkat kepunahan salah satu primata endemik ini perlu diadakan kajian serius mengenai peran satwa tersebut dalam menjaga keseimbangan alam.Untuk itu tindakan perburuan dan perambahan hutan guna mengurangi laju populasi simakobu perlu ditindaklanjuti lebih dalam dalam menjaga kelestarian satwa endemik tersebut.Sosialisasi antara masyarakat dan pemerintah daerah setempat perlu ditingkatkan untuk mengatasi penurunan populasi tersebut.

Sumber gambar : arkive.org

FacebookTwitterGoogle+LineGoogle GmailShare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *