PERINGATAN HARI SEJUTA POHON – Pohon dan Manusia

Posted on Posted in IPB

02

 

Oleh Hani Ristiawan

“Pohon adalah syair yang ditulis bumi pada langit. Kita tebang pohon itu dan menjadikannya kertas, dan di atasnya kita tulis kehampaan kita.”

(Kahlil Gibran)

Pernahkah kita membayangkan apa andil pohon untuk kehidupan manusia selain pengasil oksigen, tempat berteduh, bahan baku tisu toilet, atau dahan-dahannya menjadi tempat asyik untuk bermain di masa kecil kita? Pohon melekat erat dengan kehidupan manusia. Bahkan pemaknaan manusia terhadap pohon sebagai salah satu penunjang kehidupan yang penting telah membentuk peradaban manusia.

Pemaknaan pohon menjadi bagian dari banyak budaya, kepercayaan, dan inspirasi manusia sejak dahulu kala. Kita sebut Sidharta Gautama yang memperoleh pencerahan dan kebijaksanaan di bawah pohon budha (Ficus religiosa), legenda Hindu memunculkan adanya Kalpataru atau Pohon Kehidupan, pohon pengetahuan atau pohon kuldi turut mewarnai drama kosmik diturunkannya Adam dan Hawa dari Eden, penggambaran surga dipenuhi oleh pepohonan dan bebuahan dalam agama-agama Samawi, suku Orang Rimba menanam pohon di setiap kelahiran baru, Issaac Newton merumuskan gravitasi setelah melihat buah apel yang jatuh dari pohonnya, hingga Soekarno yang terinspirasi menulis butir-butir Pancasila di bawah teduhnya tajuk pohon sukun ketika diasingkan di Ende. Bisa dibilang peradaban manusia secara romantis tumbuh bersama dengan bertumbuhnya pepohonan.

Sebenarnya hubungan kita dengan alam tidak melulu baik. Kita pernah menebang pepohonan dengan membabi buta dan itu menjadi dosa masa lalu kita. Waktu itu kita hanya menebang tanpa kembali menanam. Lalu alam mencoba menyeimbangkan gunung-gunung gundul dan dataran yang tandus, hingga sabdanya dianggap bencana yang meluluhkan manusia. Perlu beberapa kelahiran dan kematian generasi-generasi manusia hingga akhirnya kita sadar bahwa kita kurang menanam pohon, kita mengambil diluar kemampuan alam memberi, dan terlalu banyak pohon dan nyawa manusia saudara kita sendiri yang kita renggut. Lalu manusia mencoba memperbaiki hubungannya dengan alam, dengan pepohonan, dan merasakan kembali kesejukan yang dihadirkannya dan kembali menjadi sumber inspirasi.

Pohon semakin tidak bisa lepas dari kehidupan manusia kita semakin menempatkan pohon sebagai unsur penting dalam khidupan manusia. Seiring perkembangan manusia pohon tidak hanya menjadi bagian usaha konservasi tetapi juga elemen estetika spasial. Di kampung kita, pohon menghasilkan buah-buahan dan daunnya bisa untuk pakan ternak. Pohon tidak hanya menjadi sumber kayu dan selulosa, tetapi juga obat dan energi. Pohon tidak lagi dianggap sebagai seonggok kayu dengan daun lebat dan tempat hantu beranak pinak tetapi menjadi lambang atau ikon kelestarian hubungan manusia dengan alam.

Kiranya tidak perlu lagi panjang lebar menguraikan manfaat dan fungsi pohon terhadap manusia dan lingkungan di sini karena kita semua sudah paham begitu banyak manfaat positifnya. Mari di Hari Sejuta Pohon Sedunia ini kita terus menanam, merawat, dan memaknai kembali manfaat pohon untuk kita, untuk kemanusiaan. Karena ketika manusia menanam dan merawat pohon, manusia juga menanam dan merawat benih-benih kemanusiaan.

Selamat Hari Sejuta Pohon Sedunia.[HR]

sumber foto: jurnalasia.id

FacebookTwitterGoogle+LineGoogle GmailShare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *