Papilio karna

Posted on Leave a commentPosted in IPB

 

 

PApilioSebagian besar perubahan yang ada di kampus IPB Dramaga berupa pembagunan sarana dan prasarana untuk menunjang perkulihan, pembangunan ini secara langsung mengakibatkan habitat kupu-kupu semakin berkurang luasan dan berubahnya komponen habitat kupu-kupu. Hasil penelitian Gunadharma (2013) di wilayah Kampus IPB Dramaga menyatakan bahwa berubahannya komponen habitat berdampak langsung pada komunitas kupu-kupu. Pembinaan habitat kupu-kupu adalah salah satu solusi untuk mengembalikan keberadaan kupu-kupu yang dahulu sempat menghilang lalu di jumpai kembali dengan adanya feeding site yang berfungsi sebagai penanaman pakan bagi kupu-kupu serta di sebarkannya pakan kupu-kupu di sekitar IPB Dramaga merupakan langkah awal untuk mengembalikan habitat kupu-kupu. Jenis Papilio karna pernah di jumpai pada April 2015 di Kampus IPB Dramaga tepatnya di sekitaran pekarangan Al-Hurriyah dengan aktivitas mengisap nektar bunga soka, lalu tahun 2017 dijumpai kembali jenis yang sama yaitu Papilio karna di Aboretum lanskap dengan aktivitas terbang mengarah ke Rektorat. Pembinaan habitat dengan cara menanam jenis pakan seperti pakan larva yaitu pohon jeruk (citrus sp) dan sirih hutan (Piper eduncum) lalu untuk pakan kupu-kupu dewasa (imago) seperti pagoda, bunga kupu-kupu, asoka, dan lantana. Harapannya setelah adanya pembinaan habitat dengan ditanami pakan kupu-kupu dapat mengembalikan kupu-kupu yang sudah lama tidak ada atau menarik kupu-kupu ke kampus IPB Dramaga sehingga IPB Dramaga merupakan Kampus Biodiversitas yang aman bagi flora dan faunanya maupun manusia.

FacebookTwitterGoogle+LineGoogle GmailShare

Anggrek Hantu Baru dari Indonesia, Suka Kegelapan dan Berbau Busuk

Posted on Leave a commentPosted in IPB

Gastrodia_bambu-novataxa_2017-Metusala

 

Jenis anggrek baru yang ditemukan oleh taksonom dari Kebun Raya Purwodadi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan biolog Universitas Indonesia benar-benar unik.

Anggrek itu merepresentasikan dunia kematian.

Secara taksonomi, anggrek tersebut termasuk golongan holomikotropik. Anggrek dari golongan ini menyukai lingkungan gelap, kemunculannya tak dapat diduga, tidak memiliki daun sehingga tidak berfotosintesis tetapi pada saat yang sama juga tidak bersifat parasit.

Dengan ciri-ciri tersebut, holomikotropik kerap disebut anggrek hantu.

Jenis baru yang ditemukan, punya nama ilmiah Gastrodia bambu, juga bukan seperti anggrek umumnya yang tampak menarik. “Bunga menghasilkan aroma ikan busuk untuk mengundang serangga polinator,” kata Destario Metusala, peneliti Kebun Raya Purwodadi yang mendeskripsikan spesies ini.

Daripada sebagai calon tanaman hias baru, G bambu lebih menjadi simbol tantangan konservasi.

Anggrek ini sangat peka terhadap kekeringan, intensitas cahaya berlebih, dan perubahan pada media tumbuh. Gangguan pada habitatnya, misalnya pembukaan rumpun bambu, dapat mengganggu pertumbuhan populasi anggrek unik ini.

Konservasi anggrek tersebut jadi tantangan besar karena membudidayakannya saja sulit.

“Penelitian terkait kemampuan adaptasi spesies ini dalam menghadapi perubahan iklim masih terus dilakukan melalui analisis anatomi dan fisiologi,” kata Destario dalam keterangannya lewat surat elektronik, Sabtu (26/8/2017).

Gastrodia bambu memiliki bunga berbentuk lonceng dengan ukuran panjang 1,7-2 cm dan lebar 1,4-1,6 cm.

Bunga didominasi warna coklat gelap dengan bagian bibir bunga berbentuk mata tombak memanjang bercorak jingga. Pada satu perbungaan dapat menghasilkan hingga 8 kuntum bunga yang mekar secara bergantian. Perbungaan muncul dari tanah berseresah di bawah rumpun-rumpun bambu tua pada ketinggian 800 – 900 m dpl.

Riset tentang keragaman anggrek menjadi prioritas Kebun Raya Purwodadi dan Universitas Indonesia lewat program Indigenous Studies.

Spesies baru ini juga bisa dideskripsikan berkat keaktifan organisasi kemahasiswaan Canopy (Departemen Biologi, Universitas Indonesia) dan BiOSC (Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada) dalam membantu proses pengamatan habitat dan pencatatan record populasi.

 

Teknik Pengayaan Habitat Untuk Konservasi Keanekaragaman Kupu-Kupu

Posted on Leave a commentPosted in IPB

 

 

KPK

Indonesia yang beriklim tropis merupakan negara yang memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang tinggi termasuk di dalamnya fauna kupu-kupu. Kupu-kupu berperan sebagai polinator yang membantu terjadinya polinasi pada bunga-bunga sehingga reproduksi tumbuhan dapat berlangsung dengan baik. Selain itu, di dalam ekosistem, kupu-kupu merupakan penyedia makanan karena perannya sebagai herbivora dan juga sumber makanan bagi hewan-hewan karnivora. Hal ini membuktikan bahwa perlunya dilakukan upaya pelestarian terhadap kupu-kupu. Penghijauan yang seringkali dilakukan dilahan kritis seringkali menggunakan beberapa spesies saja, terkadang juga bukan tumbuhan lokal. Hal ini menjadi masalah karena tidak tersedianya pakan-pakan bagi satwa. Maka dari itu perlu dilakukannya pemulihan lahan kritis. Agar pemulihan lahan kritis dapat dilakukan, diperlukan informasi tentang konservasi kupu-kupu dan data awal lahan kritis.

Kobayashi (2001) menjelaskan bahwa tujuan rehabilitasi ekosistem hutan tropika yang rusak adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan biodiversitas, nilai prosuksi kayu yang komersial, produksi non-kayu dan lain sebagainya. Teknik pengayaan habitat merupakan suatu cara untuk memperbaiki dan memperkaya habitat dengan penanaman sumberdaya tumbuhan lokal yang mendukung kehidupan beranekaragam kupu-kupu. Dalam mendukung siklus hidup kupu-kupu, dua kelompok tumbuhan yang dibutuhkan yaitu kelompok tumbuhan inang pakan larva dan kelompok tumbuhan inang berbunga sebagai pakan imago (kupu-kupu). Teknik Pengayaan habitat diharapkan mampu meningkatkan tingkat keanekaragam kupu-kupu di wilayah tersebut.

BIRD MIGRATORY

Posted on Leave a commentPosted in IPB

Tak banyak orang tahu pada hari tanggal 10 Mei 2017 kemarin diperingati sebagai Hari Migrasi Burung Sedunia (World Migratory Bird Day/WBMD). Untuk tahun ini tema yang diusung adalah “Their future is our future. A healthy planet for migratory birds and people.” Konservasi burung melalui pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan juga penting bagi kelangsungan masa depan umat manusia. Perayaan Hari Migrasi Burung Sedunia ini merupakan agenda rutin berupa kampanye untuk meningkatkan  kesadaran secara global dengan tujuan memberikan perlindungan burung migran dan habitatnya.

Migrasi burung merupakan fenomena yang luar biasa. Makhluk yang berukuran kecil tersebut sanggup melakukan terbang jarak jauh hingga ribuan bahkan belasan ribu kilometer pulang pergi. Burung merupakan makhluk penting yang mampu menandai adanya kerusakan lingkungan dan perubahan iklim. Karena migrasi merupakan salah satu cara untuk beradaptasi dengan perubahan cuaca burung di tempat asalnya. Alam serta iklim yang terganggu, juga akan mengganggu siklus hidup burung migran.

Kemampuan burung migran dengan struktur morfologi, fisiologi, dan kemampuan terbang serta menentukan arah hingga saat ini masih menjadi bagian penelitian para ahli. Kegiatan migrasi ini berulang setiap tahun dengan presisi yang menakjubkan. Umumnya burung yang melakukan migrasi adalah jenis burung-burung air dan burung pemangsa (raptor).

Indonesia sebagai salah satu negara yang dilewati migrasi burung air di jalur terbang Asia Timur-Australasia, memiliki peran penting dalam pelestarian burung ini. Ancaman utama yang dihadapi burung saat migrasi adalah hilangnya habitat alami, hilangnya tempat persinggahan, dan hilangnya habitat tempat tujuan migrasi akibat pembangunan dan alih fungsi lahan.

Konservasi habitat mutlak diperlukan bagi daerah-daerah yang sudah diketahui sebagai tempat persinggahan dan tempat tujuan burung migran. Fenomena migrasi burung ini sangat menarik dan edukatif jika dilihat dari lokasi yang tepat. Fenomena ini dapat menjadi salah satu atraksi wisata yang jarang ada, karena periode waktunya yang mungkin cuma bisa dilihat 1 kali dalam setahun.

Dari fenomena migrasi burung ini dapat dipelajari banyak hal, seperti waktu migrasi, jalur migrasi, asal kedatangan burung, puncak waktu migrasi, dan indikator waktu migrasi burung terhadap iklim global.

PRO-KONTRA PEMBANGUNAN PABRIK SEMEN DI KAWASAN KARST REMBANG

Posted on Leave a commentPosted in IPB

KPG

Kontra yang terjadi antara warga rembang dengan PT Semen Indonesia bermula saat pihak PT Semen Indonesia ingin membangun pabrik penambangan semen di kawasan karst Pegunungan Kendeng Utara, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Lokasi tersebut ditolak oleh warga karena adanya daerah CAT watuputih (Cekungan Air Tanah) yang merupakan daerah resapan, aliran dan pelepasan air yang menyuplai kebutuhan air di Pegunungan Kendeng Utara dan sekitarnya. Penolakan tersebut tidak hanya melibatkan warga setempat namun juga melibatkan mantan Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Surono.  Data dalam catatan Surono bahwa CAT watuputih termasuk dalam kawasan karst diantaranya terdapat mata air dan sungai bawah tanah. Pernyataan ini dipertegas dengan Keputusan Presiden nomor 26/2011 tentang penetapan CAT bahwa daerah Pegunungan Kendeng Utara merupakan daerah CAT. CAT seluas 31 kilometer memilki potensi suplai air yang sangat besar bagi 14 kecamatan di Rembang. Berdasarkan pasal 25 UU Nomor 7/2004 tentang Sumber Daya Air, CAT merupakan kawasan konservasi yang perlu dilindungi dan dikelola.

Berbeda dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bahwa belum adanya keputusan mengenai CAT Watuputih berada di kawasan karst sehingga PT Semen Indonesia mendapatkan izin dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk membangun pabrik semen. Untung Sudadi merupakan peneliti geologi asal Institut Pertanian Bogor, mengatakan bahwa kawasan Kendeng Utara merupakan karst mirip dengan Cekungan Air Tanah. Berbeda dengan pendapat PT Semen Indonesia, Budi Sulistijo seorang koordinator penelitian Lembaga Afiliasi Penelitian Indonesia Institut Teknlogi Bandung yang membuat studi kelayakan untuk perusahaan tersebut, mengatakan bahwa karst yang berada dilokasi tambang hanya jenis karst biasa dan tidak dilindungi. Sampai sekarang warga rembang bersama Surono terus berjuang untuk menolak kegiatan pertambangan di CAT Watuputih.

Maret 2017 petani Kendeng melakukan aksi pasung kaki dengan semen di depan Istana Negara sebagai bentuk penolakan pembangunan pabrik semen di kawasan karst rembang dan menagih janji presiden Joko Widodo untuk melakukan moratorium izin pabrik Semen Gresik di Rembang. Aksi memasung kaki dengan semen ini sudah kedua kalinya, yang pertama yaitu pada tahun 2016 selama 3 hari dan kedua pada tahun 2017 susudah selama 5 hari namun belum ada kejelasan mengenai diterima atau ditolaknya gugatan tersebut. Gugatan peninjauan kembali (PK) dari petani Kendeng sempat dikabulkan, yakni dalam putusan PK Mahkamah Agung Nomor 99 PK/TUN/2016 tertanggal 5 Oktober 2016. Namun kabar terbaru menyebutkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menerbitkan izin untuk PT Semen Indonesia, yang ditandatangani lewat Keputusan Gubernur Nomor 660.1/6 Tahun 2017 tentang Izin Lingkungan Kegiatan Penambangan dan Pembangunan Pabrik Semen PT Semen Indonesia di Kabupaten Rembang. Sehingga petani setempat menagih janji presiden Joko Widodo yang akan mencabut izin yang dikeluarkan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo tersebut yang melawan Perintah Pengadilan yang berkekuatan Hukum tetap.