MENGENAL LESSER DOG-FACED FRUIT BAT: MAMALIA TERBANG PENGHUNI KAMPUS PERTANIAN

Posted on Posted in IPB
FOTO: Codot krawar terjerat mist net
FOTO: Codot krawar terjerat mist net

Bogor — 5 Mei 2016, Tak ada kata lelah bagi Himakova untuk terus melakukan kajian mengenai potensi keanekaragaman hayati di kampusnya para petani berdasi. Hari rabu malam (4/5) beberapa anggota Himakova melakukan pemasangan mist net (jaring kabut) di Arboretum DKSHE, dan hasilnya didapatkan 12 individu kelelawar yang tertangkap. Melalui identifikasi yang dilakukan, 12 individu kelelawar tersebut merupakan kelelawar jenis codot krawar (Cynopterus brachyotis). Codot krawar atau dalam bahasa inggris disebut sebagai Lesser Dog-faced Fruit Bat merupakan jenis frugivora (pemakan buah). Makanan utama codot krawar adalah buah-buahan kecil, menghisap sari buah dan daging buah-buahan yang lunak, namun juga memakan nektar dan serbuk sari.

FOTO: Handling codot krawar untuk melepaskan codot krawar dari mist net
FOTO: Codot krawar terjerat mist net

Codot krawar memiliki tubuh berukuran kecil dan memiliki ekor kecil, tepi telinga berwarna putih, dengan panjang lengan bawah sayap 54,7 – 66,7 mm, panjang betis 18,7 – 26,3 mm, dan panjang telinga 15 – 17 mm. Rambut berwarna coklat keabu-abuan, dibagian perut lebih cerah, dan kekuningan dibagian leher. Moncong pendek khas pemakan buah.

Kelelawar dengan status konservasi Least Concern (LC) menurut IUCN redlist version 3.1 ini hidup tersebar luas mulai dari Nepal, India, Sri Lanka, Asia Tenggara, Filipina, dan Indonesia. Persebaran mamalia ini di Indonesia meliputi Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Maluku. Distribusi yang relatif luas tersebut merupakan salah satu alasan spesies ini dikategorikan beresiko rendah, selain karena kelelawar ini juga toleran dari berbagai habitat dan dianggap memiliki populasi besar sehingga dianggap tidak mungkin populasinya akan menurun drastis.

FOTO: Codot krawar
FOTO: Codot krawar

Spesies kelelawar ini di Asia Selatan secara lokal terancam oleh deforestasi yang umumnya dihasilkan dari operasi penebangan dan konversi lahan untuk pertanian dan penggunaan lainnya. Meskipun spesies ini tidak mendapatkan ancaman yang cukup serius khususnya di Indonesia kita harus tetap menjaga dan melestarikannya karena Tuhan tidak akan menciptakan sesuatu dengan sia-sia dan tidak ada gunanya. Terlebih kita adalah bangsa Indonesia yang berfalsafah Pancasila yang telah mengikrarkan dirinya untuk berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mari kita bergerak bersama untuk melestarikan anugerah Tuhan sampai akhir zaman.

“Punahnya suatu spesies akan berpengaruh terhadap rantai makanan dan lebih jauh lagi akan mempengaruhi ekosistem dan lebih kompleks lagi akan mempengaruhi keseimbangan alam.”

Salam lestari! Salam Konservasi!

Oleh: Muhamad Fahmi Mafruchi (Biro Sosial Lingkungan Himakova)

FacebookTwitterGoogle+LineGoogle GmailShare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *