Melestarikan Kebudayaan, Mewujudkan Ketahanan Pangan

Posted on Posted in IPB

“Pangan merupakan soal mati-hidupnya suatu bangsa. Apabila kebutuhan pangan rakyat tidak dipenuhi maka malapetaka. Karena itu, perlu usaha secara besar-besaran, radikal, dan revolusioner.”

-Ir Soekarno-

FOTO: Aksi Pemuda Peduli Pangan dalam Kegiatan Peringatan Hari Pangan Sedunia 2011 SUMBER: http://www.spi.or.id/
FOTO: Aksi Pemuda Peduli Pangan dalam Kegiatan
Peringatan Hari Pangan Sedunia 2011
SUMBER: http://www.spi.or.id/

Berdasarkan Undang-undang No. 7 tahun 1996 tentang pangan, pengertian ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari ketersediaan yang cukup, baik dalam jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Dari pengertian tersebut, tersirat bahwa upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional harus lebih dipahami sebagai pemenuhan kondisi kondisi:

1) Terpenuhinya pangan dengan kondisi ketersediaan yang cukup, dengan pengertian ketersediaan pangan dalam arti luas, mencakup pangan yang berasal dari tanaman, ternak dan ikan dan memenuhi kebutuhan atas karbohidrat, vitamin dan mineral serta turunan, yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan kesehatan manusia.

2) Terpenuhinya pangan dengan kondisi aman, diartikan bebas dari pencemaran biologis, kimia, dan benda lain yang lain dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia, serta aman untuk kaidah agama.

3) Terpenuhinya pangan dengan kondisi yang merata, diartikan bahwa distribusi pangan harus mendukung tersedianya pangan pada setiap saat dan merata di seluruh tanah air.

4) Terpenuhinya pangan dengan kondisi terjangkau, diartikan bahwa pangan mudah diperoleh rumah tangga dengan harga yang terjangkau.

Baliwaty (2004) dalam bukunya menyatakan bahwa secara umum, ketahanan pangan mencakup 4 aspek, yaitu Kecukupan (sufficiency), akses (access), keterjaminan (security), dan waktu (time). Dengan adanya aspek tersebut maka ketahanan pangan dipandang menjadi suatu sistem, yang merupakan rangkaian dari tiga komponen utama yaitu ketersediaan dan stabilitas pangan (food availability dan stability), kemudahan memperoleh pangan (food accessibility) dan pemanfaatan pangan.

Mengapa ketahanan pangan saat ini merupakan isu penting di Indonesia? Hal ini berkaitan dengan potensi pengembangan pangan berdasakan jenis pangan serta pengolahannya yang beragam berdasarkan kebudayaan masyarakat lokal di Indonesia. Namun dibalik potensi tersebut juga terdapat ancaman dari budaya asing akibat adanya globalisasi. Kondisi inipun seringkali tidak disadari masyarakat, perilaku konsumtif  dan mengkonsumsi fast food seringkali menjadi pilihan utama karena alasan praktis dan cepat. Tanpa adaya rasa bersalah ataupun kesadaran, perilaku kita ini telah ikut serta menurunkan kelestarian budaya pangan lokal. Kekayaan potensi pangan khas daerah lokal dianggap bukanlah suatu hal menarik dan terkesan kuno, khususnya pada generasi muda.

Memanfaatkan produk lokal merupakan bukti dukungan moral terhadap kelestarian budaya daerah dan peningkatan ketahanan pangan di Indonesia secara mandiri. Pandangan inilah yang harus ditanamkan pada semua aspek masyarakat dan para pejabat tanah air. Pendidikan secara dinipun dirasa penting, karena urusan makan adalah hal yang tidak dapat ditunda. Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia dan semua mengakui bahwa pangan adalah aspek penting dalam keberlanjutan kehidupan suatu bangsa. Dengan adaya ketahanan pangan berdasarkan karakteristik khas suatu budaya lokal yang berbeda dengan daerah lainnya, akan menurunkan tingkat permintaan impor pangan dari negara maju dan adanya peluang ketersediaan pangan bagi masyrakat. Sekarang saatnya Indonesia mewujudkan status negara agraris yang mampu menyediakan pangan secara berkelanjutan, dengan tetap mempertahankan kecukupan dan mutu yang terjamin. Sebagai genarasi di era globalisasi inipun kita dapat mempertahankan ketahanan pangan dengan tetap mempertahankan pangan lokal Indonesia.

Salam lestari! Salam Konservasi!

Sumber: Baliwati YF, dkk. 2004. Pengantar Pangan dan Gizi. Jakarta: Penebar Swadaya. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan.

Penulis: Noni Anggraeni Theresia (Biro Sosial Lingkungan Himakova)

Editor: Muhamad Fahmi Mafruchi (Biro Sosial Lingkungan Himakova)

FacebookTwitterGoogle+LineGoogle GmailShare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *