LAHAN BASAH UNTUK MASA DEPAN PERKOTAAN YANG BERKELANJUTAN

Posted on Posted in Peringatan Hari Lingkungan

wwd-logo-220Oleh: Firman Arief Maulana

Februari merupakan bulan paling berejarah seantero dunia, tepat tanggal 2 Februari Hari Lahan Basah Se-dunia di peringati. Peringatan ini disepakati dan ditandatanganinya suatu Konvensi Internasional tentang lahan basah, tepatnya tanggal 2 Februari 1971 di kota Ramsar, Iran yang kemudian diratifikasi melalui Keputusan Presiden RI No. 48 tahun 1991.

Kemudian pengelolaan lahan basah dirumuskan dengan penetapan ramsar site untuk melindungi kelestarian dan fungsi lahan basah di dunia. Menurut Ramsar (2011), Terdapat 7 lokasi persebaran ramsar site di Indonesia meliputi SM Pulau Rambut di Kep. Seribu (90 Ha) , TN Berbak di Jambi (162.700 Ha), TN Sembilang di Jambi (202.986 Ha), TN Danau Sentarum di Kalimantan Barat (80.000 Ha), TN Rawa Aopa Watumohai di Sulawesi Tenggara (105.194 Ha), TN Tanjung Puting (Kotawaringin) dan TN Wasur di Papua (413.810 Ha). Lahan basah di Indonesia tersebar dalam 566 kawasan konservasi diantaranya 490 Kawasan Konservasi Daratan dan 76 Kawasan Konsrvasi Perairan (Partono, 2011) yang kemudian dikategorikan menjadi Lahan Basah Pesisir & Lautan, Lahan Basah Daratan, dan Lahan Basah Buatan.

Potensi lahan basah indonesia tidak terbatas hanya dalam kawasan ramsar site ataupun kawasan konservasi, masih banyak lahan basah Indonesia di luar kawasan tersebut yang tentunya memiliki peran masing-masing di daerahnya. Luas lahan basah di Indonesia diperkirakan 20,6 juta ha atau sekitar 10,8% dari luas daratan Indonesia (Rahmawaty et al. 2014). Mengingat peranan penting keberadaan lahan basah untuk perkotaan, Ramsar Convention menetapkan Tema Lahan Basah untuk tahun ini yaitu  “Lahan Basah untuk Masa Depan Perkotaan yang Berkelanjutan”. Pemanfaatan lahan basah di perkotaan oleh masyarakat umumnya masih kurang memahami manfaatnya secara berkelanjutan.

Penataan rumah di bantaran sungai masih banyak dijumpai di kota-kota besar di Indonesia yang berakibat penumpukan limbah rumah tangga dan menghambat aliran air sehingga terjadi banjir di beberapa lokasi. Upaya pemerintah dalam perumusan kebijakan tidak cukup untuk menanggulangi hal tersebut, perlu kesadaran bersama untuk memahami fungsi sungai sebagai lahan basah yang berkelanjutan. Pola penggunaan lahan basah lainnya seperti danau dan waduk pun sangat banyak dijumpai di perkotaan baik untuk destinasi wisata, pembangkit tenaga listrik, ataupun pembangunan dam sebagai pengatur debit air sungai.

Beberapa hal yang umumnya kita jumpai pada pengelolaan lahan basah danau sebagai destinasi wisata yaitu densitas pengunjung yang tinggi sehingga komposisi sampah juga bertambah. Hal ini menyebabkan penurunan daya dukung lingkungan untuk biota perairan dan juga mengurangi estetika dari danau tersebut. Salah satu lahan basah yang terdapat di Kampus IPB Dramaga (Bogor) yaitu Danau LSI yang terletak di belakang perpustakaan IPB. Keadaan lingkungan yang mendukung menjadikan danau LSI sebagai habitat bagi satwa-satwa perairan, salah satunya Kowak Malam Kelabu (Nycticorax nycticorax). Selain itu, keasrian lingkungan di danau LSI sering digunakan oleh civitas IPB untuk tempat beristirahat dengan potensi estetikanya. Namun, keberadaan danau LSI bukan berarti terlepas dari masalah lingkungan. Persebaran spesies invasif seperti kiambang (Salvinia molesta) kian mengurangi potensi danau LSI baik secara ekologis untuk habitat satwa perairan, maupun secara estetika. Maka dari itu, pada 9 April 2016 silam, HIMAKOVA bersama dengan organisasi kemahasiswaan lainnya turut aktif membersihkan danau LSI dari kiambang sebagai upaya pelestarian lahan basah yang berada di kampus IPB Dramaga.

Keberadaan lahan basah indonesia menyediakan beragam manfaat bagi kawasan perkotaan, dan juga tidak luput dari ancaman ancamannya. Bagaimana langkahmu untuk melestarikan lahan basah Indonesia? Mengenali lahan basah merupakan langkah awal untuk peduli terhadapnya sehingga dapat terwujud langkah langkah pelestarian lahan basah, khususnya di kawasan perkotaan. “Selamatkan Lahan Basah kita, agar tetap terjaga untuk anak cucu kelak”.WEB LAHAN BASAH

FacebookTwitterGoogle+LineGoogle GmailShare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *