INTERNATIONAL POLAR BEAR DAY

Posted on Posted in Mamalia

beruang

     Hari Beruang Kutub Internasional atau International Polar Bear Day adalah hari untuk meningkatkan dan menyebarluaskan kesadaran masyarakat kepada nasib beruang kutub yang semakin hari semakin terancam kelestariannya. Hari ini  diinisiasi oleh organisasi Polar Bears International (PBI) dan diperingati pada tanggal 27 Februari setiap tahunnya. Beruang kutub (Ursus maritimus) memiliki status konservasi “Rentan” atau Vulnerable (VU) menurut IUCN (The International Union for Conservation of Nature) (Wiig et al. 2015).

     Penyebab utama dari semakin menurunnya populasi beruang kutub adalah semakin sempitnya habitat. Habitat beruang kutub mayoritas berupa bongkahan es tebal di Kutub Utara yang mencair akibat suhu air laut yang meningkat sebagai salah satu dampak dari fenomena pemanasan global (global warming). Bongkahan-bongkahan es berperan sebagai platform bagi beruang kutub untuk berkembangbiak dan berburu (Stirling dan Latour 1978), serta sebagai tempat berirstirahat antara lokasi sarang, berburu, dan berkembangbiak ketika lokasi-lokasi ini berjauhan satu sama lain (Amstrup 2003). Semakin sedikitnya bongkahan es menyebabkan beruang kutub harus berenang lebih lama tanpa istirahat yang dapat menyebabkan kematian akibat kelelahan atau tenggelam saat badai. Selain itu, beruang kutub juga terpaksa untuk tinggal di daratan lebih lama yang dapat mengakibatkan meningkatnya konflik dengan manusia. Mangsa utama beruang kutub yaitu anjing laut yang hidupnya juga sangat tergantung pada bongkahan es mengakibatkan penurunan jumlah bongkahan es juga mendorong turunnya populasi anjing laut (NRDC 2010).

     Hal lain yang mengancam beruang kutub adalah polutan kimia di laut. Beruang kutub diklasifikasikan sebagai mamalia laut akibat tergantungannya yang besar terhadap sumber pakan yang berasal dari laut. Beruang kutub berada pada tingkat teratas piramida ekologi (top predator) di ekosistemnya dan terutama mengkonsumsi lemak dari mangsanya. Polutan kimia yang berada di laut diantaranya adalah organochlorine yang bersifat sangat lipophilic (mudah terikat dengan lemak) dan sulit terurai secara alami (Muir et al. 1988; Barrie et al. 1992). Oleh karena itu, beruang kutub menerima akumulasi terbesar dari senyawa-senyawa kimia yang terkandung dalam mangsanya (biomagnification) (Stirling 2009). PCB (polychlorinated biphenyl) dan Hg (merkuri) adalah beberapa senyawa yang dapat ditemukan di dalam tubuh beruang kutub (Andersen dan Aars 2016; Born et al. 1991). PCB adalah senyawa yang dibuat untuk digunakan pada barang-barang elektronik. Senyawa-senyawa ini dapat berdampak pada sistem hormon dan sistem reproduksi beruang kutub yang secara langsung menurunkan kemampuan burung kutub untuk berkembangbiak.

      Berita mengenai 52 ekor beruang kutub yang “menginvansi” desa Belushya Guba di Kepulauan Novaya Zemlya, Rusia pada akhir 2018 hingga Februari 2019 mengakibatkan perang opini antara berbagai pihak. Sebenarnya siapakah yang “menginvansi”? Manusia atau beruang kutub? Seperti halnya berita harimau sumatera ‘Bonita’ yang sempat menjadi berita hangat pada tahun 2018 karena diduga menewaskan pekerja perkebunan kelapa sawit di Riau, apakah ‘Bonita’ yang memulai konflik? Beruang kutub-beruang kutub Rusia ini dikabarkan mengais tempat sampah untuk mendapatkan makanan. Berdasarkan wawancara kepada Ian Sterling, peneliti yang telah bekerja bersama beruang kutub selama lebih dari 45 tahun, hal ini diakibatkan bongkahan es di bagian barat Kepulauan Novaya Zemlya, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya pada waktu yang sama, belum juga terbentuk sehingga beruang kutub tidak dapat berburu (Becker 2019). Peristiwa ini semakin menunjukkan dampak pemanasan global terhadap beruang kutub dan juga kehidupan manusia.

     Beruang kutub yang hidup jauh di Kutub Utara terasa sangat tidak relevan dengan kehidupan kita sebagai masyarakat Indonesia, namun pemanasan global adalah hasil akumulasi dari tindakan berbagai pihak, termasuk kita. Apa yang dapat kita lakukan untuk membantu pelestarian beruang kutub? Kita dapat mengurangi pemakaian listrik dan kendaraan bermotor yang menghasilkan gas rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan global. Yuk, bantu selamatkan beruang kutub dan satwaliar lainnya dari ancaman pemanasan global!

Daftar Pustaka

Amstrup S. 2003. Polar Bear. Dalam: Wild Mammals of North America: Biology, Management, and Conservation.            Thompson BC, Feldhammer GA, Chapman JA, editor. Baltimore (US): Johns Hopkins University Press.

Andersen M, Aars J. 2016. Barents Sea polar bears (Ursus maritimus): population biology and anthropogenic                        threats. Polar Research. 35 (1).

Barrie LA, Gregor D, Hargrave B, Lake R, Sherer R, Tracey B, Bidleman T. 1992. Arctic contaminants: sources,                      occurrence and pathways. Science of the Total Environment. 122: 1–74.

Becker R. 2019. Why polar bears invaded a Russian village: A combination of climate change and garbage [Internet].            [diunduh pada 2019 Feb 24]. Tersedia pada: https://www.theverge.com/2019/2/12/18222072/polar-bear-                   invasion-novaya-zemlya-russia-garbage-climate-change

Born EW, Renzoni A, Dietz R. 1991. Total mercury in hair of polar bears (Ursus maritimus) from Greenland and                   Svalbard. Polar Research. 9 (7): 113-120.

Muir DCG, Norstrom RJ, Simon M. 1988. Organochlorine contaminants in the Arctic marine food chains:                               accumulation of specific polychlorinated biphenyls and chlordane-related compounds. Environmental                           Science & Technology. 22: 1071–1079.

[NRDC] Natural Resources Defense Council. 2010. Climate Facts: Polar Bear on Thin Ice [Internet]. [diunduh pada               2019 Feb 24]. Tersedia pada: https://www.nrdc.org/sites/default/files/polarbearsonthinice-v2.pdf

Stirling I, Latour PB. 1978. Comparative hunting abilities of polar bear cubs of different ages. Can. J. Zool. 56: 1768–           1772.

Stirling I. 2009. Polar Bear: Ursus Maritimus. Dalam: Encyclopedia of Marine Mammals. Perrin WF, Würsig B,                   Thewissen JGM, editor. Cambridge (US): Academic Press.

Wiig Ø, Amstrup S, Atwood T, Laidre K, Lunn N, Obbard M, Regehr E, Thiemann G. 2015. Ursus maritimusThe                    IUCN Red List of Threatened Species 2015: e.T22823A14871490 [Internet]. [diunduh pada 2019 Feb 24].                      Tersedia pada: http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2015-4.RLTS.T22823A14871490.en.

FacebookTwitterGoogle+LineGoogle GmailShare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *