HARI PRIMATA NASIONAL

Posted on Posted in IPB

hari primata

Oleh: Salwa Nadhira

Hari Primata Indonesia 2019: Stop Berburu Primata!

                Mayoritas masyarakat Indonesia tidak mengetahui bahwa Hari Primata Indonesia diperingati pada tanggal 30 Januari setiap tahunnya. Wajar saja sebab tidak ada peraturan pemerintah yang secara resmi mendedikasikan tanggal tersebut untuk meningkat kesadaran masyarakat terhadap konservasi primata-primata Indonesia. Meskipun demikian, bukan berarti hari tersebut dicanangkan tanpa alasan. Alasan utama mengapa primata-primata Indonesia mendapatkan hari peringatan tersendiri adalah fakta bahwa Indonesia memiliki kurang lebih 40 jenis primata dari lebih 200 jenis primata yang terdapat di dunia. 24 jenis diantaranya merupakan mamalia endemik, yang berarti mamalia tersebut hanya ada Indonesia. Namun, hampir semua jenis mamalia ini berstatus terancam punah.  32 jenis dari 40 jenis primata yang ada di Indonesia telah tercatat dalam Daftar Merah IUCN (The International Union for Conservation of Nature) (Fauzi et al. 2017). 4 jenis mamalia Indonesia bahkan masuk ke dalam daftar “25 Primata Terlangka Dunia 2016-2018” yaitu monyet ekor babi atau simakobu (Simias concolor), kukang jawa (Nycticebus javanicus), monyet hitam sulawesi atau yaki (Macaca nigra), dan orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) (Schwitzer et al. 2017).

           Tema yang diangkat pada Hari Primata Indonesia tahun ini adalah “Stop Berburu Primata!”. Perburuan yang bertujuan untuk menjual satwa sebagai hewan peliharaan menjadi ancaman utama bagi kelestarian primata. Berdasarkan laporan ProFauna (2012) mengenai Perdagangan Primata di Palembang, Sumatera Selatan yang merupakan salah satu pusat perdagangan satwa liar di Sumatera ditemukan berbagai jenis primata yang diperdagangkan antara lain kukang (Nycticebus sp.), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), siamang (Hylobates syndactylus), Ungko (Hylobates agilis) dan lutung jawa (Trachypithecus auratus). Penurunan populasi kukang jawa di alam disebabkan meningkatnya perdagangan hewan kesayangan (pet animals) dalam beberapa tahun terakhir (Nekaris dan Campbell 2012). Hal ini diperburuk dengan efek media sosial yang mendorong masyarakat untuk memelihara satwaliar. Eksploitasi satwaliar di media sosial sudah menjadi suatu isu internasional. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa memperlihatkan keberadaan satwa-satwa di lingkungan manusia (foto dan video bersama manusia misalnya) meningkatkan anggapan bahwa satwa-satwa tersebut bukan merupakan satwa langka sehingga dapat dijadikan hewan peliharaan (Kitson dan Nekaris 2017). Hasil penelitian Nekaris et al. (2013) pada isi komentar-komentar video YouTube berjudul ‘Tickling Slow Loris’ yang menampilkan ‘kelucuan’ kukang menunjukkan bahwa banyak dari komentar-komentar yang ada berisikan keinginan untuk memiliki kukang sebagai hewan peliharaan tanpa disertai peningkatan kepedulian terhadap konservasi dan ekologi kukang.

          Meski media sosial dapat berampak negatif terhadap satwaliar, media sosial juga dapat digunakan sebagai media kampanye konservasi satwaliar. Akun Instagram Kukangku adalah aktivis yang menjadikan Instagram sebagai media untuk melakukan perlawanan terhadap pemeliharaan kukang. Kukangku melakukan pengintaian dan pengawasan terhadap masyarakat yang memamerkan kukang di Instagram (Herlambang 2017). Oleh karena itu, mendukung kegiatan konservasi dapat dilakukan dengan cara yang mudah, salah satunya dengan memanfaatkan media sosial untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap konservasi satwaliar. Yuk, gunakan media sosial secara bijak, salah satunya dengan menyuarakan pesan-pesan konservasi primata Indonesia. Selamat Hari Primata Indonesia!

Sumber Pustaka:

Herlambag RPT. 2017. Media Sosial sebagai Bentuk Edukasi terhadap Pemeliharaan Satwa Liar Jenis Primata   Kukang [skripsi]. Depok (ID): Universitas Indonesia.

Fauzi F, Rahmawati R, Sandan P. 2017. Estimation of population density and food sort of kelasi (Presbytis rubicunda Muller 1838) in Nyaru Menteng Arboretum of Palangka Raya. Jurnal Daun. 4(1): 7–16.

Kitson H, Nekaris KAI. 2017. Instagram-fuelled illegal slow loris trade uncovered in Marmaris, Turkey. Oryx. 51(3): 391–399.

Nekaris KAI, Campbell N.  2012.  Media attention promotes conservation of  threatened asian slow lorises. Oryx. 46: 169−170.

Nekaris KAI, Campbell N, Coggins TG, Rode EJ, Nijman V. 2013. Tickled to death: analysing public perceptions of ‘cute’ videos of threatened species (slow lorises – Nycticebus spp.) on Web 2.0 Sites. PLOS ONE. 8(7).

ProFauna dan International Primate Protection League (IPPL). 2012. Perdagangan Primata di Palembang Sumatera Selatan [Internet]. [dinduh pada 2019 Jan 30]. Tersedia pada: https://www.profauna.net/sites/default/files/downloads/publikasi-2012-perdagangan-primata-di-palembang-sumatera-selatan.pdf

FacebookTwitterGoogle+LineGoogle GmailShare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *