IPB

Hari Meteorologi Dunia

Krisis Air dan Kepunahan Massal: v6.0?

oleh: Andre Bonardo Y.S

Usia harapan hidup rata-rata orang Indonesia adalah 71 tahun (The World Bank 2019). Sedangkan bumi berusia kurang lebih berusia 4,5 milyar tahun. Kondisi yang sekarang kita lihat tidak tercipta hanya dalam satu jentikan jari; pergantian musim yang kita rasakan, panjang hari, sinar matahari yang membantu mengeringkan pakaian kita, dan setiap tetes air yang pernah melewati kerongkongan kita, adalah bagian dari proses panjang yang menakjubkan.

2/3 dari luas permukaan bumi ditutupi oleh air. Lalu, mengapa ada pihak-pihak yang meneriakkan krisis air? Bahkan, mengapa PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa, bukan partai politik Indonesia) melalui UN Water dan World Meteorogical Organization mengusung tema “Water and Climate Change?” Kondisi apa yang sedang dihadapi oleh umat manusia?

Well, tidak semua air dapat digunakan oleh spesies kita yang manja ini.

National Geographic (2020) mengunggah sebuah artikel yang menyatakan bahwa 0.007% dari air yang ada yang bertanggung-jawab atas MCK dan kebutuhan 7.700.000.000 individu per hari. Let it sink.

Apakah hal ini “benar-benar berdampak pada kehidupan sehari-hari?”

Laut Aral adalah bukti nyata dari ekstraksi air yang berlebihan. Aral yang dulu menjadi “pusat” bagi pemukiman di sekitar nya kini meninggalkan bangkai-bangkai kapal yang menjadi hantu pengingat akan kelalaian manusia dan sedikit air. Lebih dekat dari Aral? Mundur ke awal tahun 2020, ibukota Republik ini diberi hadiah tahun baru dalam bentuk curah hujan tertinggi dalam kurun waktu kurang lebih 16 tahun (Jakarta Post 2020). Apa yang dihasilkan hujan? Kerugian finansial, kerusakan infrastruktur, berbagai macam penyakit, dan tentu saja korban jiwa. Tidak hanya DKI Jakarta, provinsi lain yang juga terletak di bagian barat pulau Jawa mengalami longsor. Banjir Jakarta dan longsor kabupaten Lebak digerakkan oleh air.

Apa “dosa” manusia sehingga “bencana alam” ini terus terjadi?

Kecerdasan umat manusia adalah dua ujung mata pisau. 90% dari total emisi karbon yang dihasilkan manusia berasal dari 85 tahun belakangan (Ghosh 2019). Untuk membandingkan nya, sejarah tercatat umat manusia berusia kurang lebih 5.220 – 5.420 tahun. Apa yang dapat kita capai dalam 5, 10, 50, bahkan jika masih selamat, 100 tahun ke depan?

Warning: spoiler ahead!

Bumi akan selamat. Sepanjang sejarah nya, bumi telah menghadapi 5 kepunahan besar. Kemungkinan, 3 dari 5 kepunahan besar itu disebabkan oleh perubahan iklim. Apakah kita sedang mempersiapkan nomor 4 dari 6? Kepunahan besar pasti akan terjadi; entah karena manusia atau perubahan iklim yang disebabkan manusia, atau faktor lain. Namun, kekeringan berkepanjangan, longsor, banjir, kebakaran hutan, seharusnya sudah lebih cukup untuk menjadi notifikasi dari bumi ini.

Selamat hari meteorologi sedunia!

 

Daftar Pustaka:

Kahfi K. 2020. ‘Not ordinary rain’: Worst rainfall in over decades causes massive floods in Jakarta. https://www.thejakartapost.com/news/2020/01/01/not-ordinary-rain-worst-rainfall-in-over-decade-causes-massive-floods-in-jakarta.html. Diakses pada 23 Maret 2020.

Ghosh I. 2019. All the World’s Carbon Emissions in One Chart. https://www.visualcapitalist.com/all-the-worlds-carbon-emissions-in-one-chart/. Diakses pada 23 Marret 2020.

Anonim. 2020. Freshwater crisis. https://www.nationalgeographic.com/environment/freshwater/freshwater-crisis/. Diakses pada 23 Maret 2020.

Anonim. 2020. Life expectancy at birth, total (years) – Indonesia. https://data.worldbank.org/indicator/SP.DYN.LE00.IN?locations=ID. Diakses pada 23 Maret 2020

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *