IPB

Hari Lahan Basah Sedunia 2020

Lahan Basah, Biodiversitas, dan Ekonomi

Pada 2 Februari 1971, ditandatangani perjanjian multilateral berkaitan lingkungan hidup pertama. Konvensi Lahan Basah yang lebih dikenal dengan istilah konvensi Ramsar dilaksanakan di suatu kota di selatan laut Kaspia, badan air terbesar di dunia. Australia, Finlandia, Yunani, Iran, Norwegia, Afrika Selatan, dan Swedia menjadi tujuh negara pertama yang meratifikasi perjanjian ini pada 21 Desember 1975. Hingga 18 Oktober 2019, telah ditunjuk 2.372 situs lahan basah Ramsar dengan luas gabungan 253.603.511 hektar.

Tattersal (1998) menyatakan bahwa manusia telah bermukim di lahan basah sejak awal evolusi jenisnya. Lahan basah memiliki banyak sekali fungsi; penyediaan dan purifikasi air, sistem pengontrol badai dan banjir, bank karbon, regulator iklim, penyediaan bahan baku papan dan pangan, penelitian, serta rekreasi dan wisata (Russi et al. 2013). Indonesia, negara pemilik lebih dari setengah luas gambut tropis dunia (Giesen dan Sari 2018), “baru” meratifikasi konvensi Ramsar pada 1992. Penelitian Margono et al. pada 2014 menyatakan bahwa 21% lahan Indonesia masuk ke dalam kategori lahan basah (gambut, bakau, air tawar, rawa, dan lain-lain). Indonesia “memanfaatkan” betul kekayaan sumberdaya ini. Terbukti dengan laju konversi lahan basah yang terus meningkat sejak awal dekade 1980 (Suprajaka 2012). Lahan basah dikonversi menjadi tambak, pertanian, perkebunan, ditimbun untuk jalan, pembuatan bendungan, pengubahan jalur-jalur hidrologi, dan banyak rekayasa lain oleh manusia (Notohadiprawiro 1997).

Apakah ada dampak akan hal ini? Tentu saja.

Gibbs (2000) menyatakan bahwa satwa adalah pihak pertama yang akan merasakan dampak akibat konversi lahan basah, lalu diikuti oleh tumbuhan akuatik. Kehilangan habitat berdampak pada penurunan jumlah keanekaragaman spesies. Penurunan keanekaragaman spesies berdampak pada pengurangan pilihan sumber makanan bagi manusia. “Monokonsumsi” adalah skenario yang paling mungkin terjadi setelah penurunan jenis sumber makanan. Ada beberapa pilihan yang bisa “dengan bebas” kita pilih jika hal ini terjadi; ekstensifikasi lahan atau peningkatan harga pangan. Indonesia telah berpengalaman dengan ekstensifikasi lahan, sejak pemerintahan Orde Baru mengambil keputusan untuk tiap rakyat Indonesia bahwa nasi adalah pangan utama. Apakah ini hal yang tepat? Entah, coba buka kolom pencarian google (atau Geevv, jika ingin mengikuti saran Novel Bamukmin) dan ketik kata kunci “PLG Satu Juta Hektar”.

Cohen dan Garett (2009) menyatakan bahwa miskin keanekaragaman  sumber pangan berarti kenaikan harga dan risiko tinggi gizi buruk. Hal ini tidak hanya berdampak pada produktifitas lahan dalam menyediakan bahan baku pangan, tetapi juga berbagai jenis sumber daya alam. Kekurangan (kualitas dan/atau kuantitas) sumberdaya bukan satu-satunya dampak “nyata” yang akan dirasakan pada kehidupan sehari-hari akibat konversi lahan basah. Sagala et al. (2013) telah mengingatkan untuk memperlambat atau bahkan menghentikan konversi rawa di kota Palembang melalui penelitiannya jika ingin menghindari banjir. Bentuk “nyata” konversi lahan yang telah rutin dicicipi oleh sebagian kecil rakyat Indonesia adalah banjir tahunan Jakarta. Terpampang jelas bukti konversi lahan melalui nama-nama tempat yang ada di (calon mantan) ibukota negara kita; Rawasari, Rawabebek, dan sebagainya. Tempat yang seharusnya menjadi daerah resapan air dikonversi; ditimbun dan dijadikan jalan atau perumahan, atas nama kemajuan ekonomi (Abdullah 2016, Surono 2013).

Masih banyak dampak nyata yang akan kita nikmati di kehidupan sehari-hari jika masih fanatik dan menjadi buta oleh dalih kemajuan, pembangunan, dan upaya akselerasi ekonomi tanpa mempertimbangkan dampak ekologi, terutama lahan basah. Belum lagi dampak “tidak nyata” konversi lahan basah; gangguan siklus hidrologi, emisi besar-besaran cadangan karbon, intrusi air laut, dan banyak lagi. Namun, itu semua memang takdir yang tidak bisa kita hindari. Mari biarkan roda ekonomi berjalan dengan normal, dengan penuh semangat terus menggilas lingkungan hidup, dan mengabaikan fungsi lahan basah.

Oh, ya!

Jangan lupa untuk menyalahkan pemerintah dan orang lain bila telah tiba saatnya dampak-dampak nyata pengabaian lahan basah datang dan berkunjung untuk mengetuk pintu depan rumah kita dalam bentuk biawak, banjir, ular, kemiskinan, dan lain-lain.

Penulis: Andre Bonardo Yonathan Sitorus

 

Daftar Pustaka:

Tattersall I. 1998. Becoming Human: Evolution and Human Uniqueness. Oxford (UK): Oxford University Press.

Russi D, Brink PT, Farmer A, Badura T, Coates D, Förster J, Kumar R, Davidson N. 2013. The Economics of Ecosystems and Biodiversity for Water and Wetlands. London (UK): IEEP Ramsar Secretariat

Giesen W, Sari ENN. 2018. Tropical Peatland Restoration: Indonesian case. Jakarta (ID): Millenium Challange Account.

Margono B, Bwangoy JB, Potapov P. 2014. Mapping wetlands in Indonesia using Landsat and PALSAR data-sets and derives topographical indices. Geo-spatial Information Science. 17(1): 60 – 71

Suprajaka S. 2012. Indeks fragmentasi spasial dan dampak terhadap ekosistem lahan basah di Surabaya dan sekitarnya. Geomatika: 18(1): 598 – 603.

Notohadiprawiro T. 1997. Makalah Seminar Nasional Pemberdayaan Lahan Basah Pantai Timur Sumatera Berwawasan Lingkungan Menyongsong Abad ke-21 Fakultas Pertanian Universitas Jambi. 22 Desember 1997.

Gibbs JP. 2000. Wetland loss and biodiversity conservation. Conservation Biology. 14 (1): 314 – 317.

Cohen MJ, Garett JL. 2009. The food price crisis and urban (in) security. London (UK): IIED

Sagala S, Dodon, Wimbardana R, Lutfiana D. 2013. Alih Fungsi Lahan Rawa dan Kebijakan Pengurangan Risiko Bencana Banjir: Studi Kasus Kota Palembang. Bogor (ID): LIPI

intisari online.com. Surono A. 2013. Asal Usul Nama Tempat di Jakarta (1). Diakses di https://intisari.grid.id/read/0374355/asal-usul-nama-tempat-di-jakarta-1

Jakarta.bisnis,com. Abdullah N. 2016. JAKARTA TEMPO DOELOE: Asal Usul Nama Rawasari Jakarta Pusat. Diakses di https://jakarta.bisnis.com/read/20160515/387/547558/jakarta-tempo-doeloe-asal-usul-nama-rawasari-jakarta-pusat

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *