Hari Kehidupan Liar Dunia (World Wildlife Day) 2019

Posted on Posted in IPB

fix wwd

     Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (the United Nations General Assembly (UNGA)) pada 20 Desember 2013 menetapkan tanggal 03 Maret setiap tahunnya sebagai Hari Kehidupan Liar Dunia untuk memperingati dan meningkatkan kesadaran warga dunia terhadap hewan dan tumbuhan liar. 03 Maret dipilih sebagai Hari Kehidupan Liar Dunia bertepatan dengan hari penandatanganan Konvensi Perdagangan Internasional Tumbuhan dan Satwaliar Spesies Terancam atau CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). Hari Kehidupan Liar Dunia menjadi global event tahunan paling penting yang didedikasikan untuk kehidupan liar. Tema Hari Kehidupan Liar Dunia pada tahun 2019 adalah “Life below water: for people and planet” atau “Kehidupan bawah air: untuk manusia dan planet” yang merupakan salah satu dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Tahun 2019 merupakan pertama kalinya Hari Kehidupan Liar Dunia fokus kepada kelestarian kehidupan liar di lautan.

     Dalam Living Planet Report 2018 oleh WWF, Organisasi Pangan dan Pertanian atau FAO (Food and Agriculture Organization) memperkirakan bahwa perikanan dan budidaya perairan menjadi sumber penghidupan bagi 10-12% masyarakat dunia dan 4.3 milyar manusia bergantung pada ikan sebagai 15% dari total konsumsi protein mereka (FAO 2014). Tiga habitat kunci bagi kehidupan liar laut yang saat ini mengalami degradasi terparah adalah terumbuh karang, hutan mangrove, dan padang lamun. Sebagai dampak dari pemutihan karang terburuk sepanjang sejarah pada tahun 2016 adalah kematian massal dari spesies terumbu karang yang cepat tumbuh dan memiliki bentuk kompleks yang menyediakan habitat bagi banyak hewan laut. Terumbu karang ini tergantikan oleh jenis terumbu karang yang tumbuh lambat dan hanya mampu menjadi habitat bagi lebih sedikit hewan laut. Kejadian ini secara drastis mengubah komposisi spesies dari 29% dari 3863 spesies karang yang hidup di Karang Penghalang Besar (Great Barrier Reef) (Hughes et al. 2018). Ancaman lain bagi terumbu karang adalah penangkapan ikan berlebihan, praktik penangkapan ikan yang selektif dan destruktif, serta polusi yang mengotori perairan terumbu karang yang mengancam kesehatan terumbu karang (Hughes et al. 2003).

      Hutan mangrove merupakan aset penting bagi masyarakat yang hidup di pinggir laut sebagai penghalang alami dari badai dan abrasi (Spalding et al. 2010; Cummings dan Shah 2017). Hutan mangrove juga sangat penting dalam sekuestrasi karbon dunia dengan kemampuan untuk menyimpan karbon lima kali lebih besar dibandingkan hutan tropis (Donato et al. 2011) serta merupakan tempat pemijahan bagi banyak spesies ikan. Padang lamun merupakan salah satu dari ekosistem paling terancam di dunia. Padang lamun adalah kumpulan tumbuhan berbunga yang hidup di perairan laut intertidal hingga kedalaman 90 m yang ada di seluruh benua di dunia kecuali Antartika (Short et al. 2016). Padang lamun memberikan banyak manfaat bagi manusia antara lain sebagai habitat yang mendukung perikanan komersial maupun subsisten, daur ulang nutrisi, stabilisasi sedimen, serta menjadi sekuestrasi karbon global yang signifikan (Waycott et al. 2009). Kehidupan di daratan sangat memengaruhi kehidupan di lautan terutama dalam hal polusi dan sampah kita yang mengalir ke lautan. Oleh karena itu, kita juga dapat berperan menjadi kelestarian kehidupan liar di laut dengan membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan serta mengurangi pemanasan global dengan mengurangi pemakaian listrik dan kendaraan bermotor. Yuk, selamatkan bumi dari hal-hal kecil!

Daftar Pustaka

Cummings AR, Shah M. 2017. Mangroves in the global climate and environmental mix. Geography Compass. 12:                   e12353.

Donato DC et al. 2011. Mangroves among the most carbon-rich forests in the tropics. Nature Geoscience. 4: 293.

FAO. 2014. The State of World Fisheries and Aquaculture 2014: Opportunities and challenges. Rome (IT): UN                     Food and Agriculture Organization (FAO).

Hughes TP et al. 2003. climate change, human impacts, and the resilience of coral reefs. Science. 301: 929.

Hughes TP et al. 2018. Global warming transforms coral reef assemblages. Nature. 556: 492-496.

Spalding M, Kainuma M, Collins L. 2010. World Atlas of Mangroves. London (UK): Earthscan.

Short FT, Short CA, Novak A. 2016. Seagrasses. Dalam: The Wetland Book II: Distribution, Description and                            Conservation. Milton GR, rentice RC, Davidson NC, editor. Berlin (GR): Springer Science.

Waycott M et al. 2009. Accelerating loss of seagrasses across the globe threatens coastal ecosystems. Proceedings of 
            the National Academy of Sciences.
106: 12377.

WWF. 2018. Living Planet Report – 2018: Aiming Higher. Grooten M, Almond REA, editor. Gland (CH): WWF.

FacebookTwitterGoogle+LineGoogle GmailShare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *