Hari Bakti Rimbawan ke-36: Hutan Untuk Kesejahteraan Rakyat dan Lingkungan Sehat.

Posted on Posted in IPB

134081

Oleh: Yulia Raudhatul BZ

Salam Rimbawan!

Keputusan yang pasti dalam menjalani kehidupan seorang Rimbawan haruslah diimbangi dengan kerja nyata, sebagai bentuk realisasi atas janji dan bakti. Proses belajar tentang teori pendidikan dan kehidupan tidak habis didapat dari masa sekolah, perkuliahan, bahkan dunia kerja. Mendapat gelar Lulusan Kehutanan yang kemudian menjadikan kita dipercaya sebagai sosok Rimbawan tidak lantas membuat permasalahan Kehutanan yang pelik saat ini secara mudah terselesaikan. Kompleksitas sebab akibat problematika Kehutanan terutama konflik yang terjalin dari pihak-pihak tertentu, memicu timbulnya masalah baru di masyarakat, sebagai subjek yang bersentuhan langsung dengan hutan. Pentingnya niat yang murni dalam mendedikasikan jiwa dan raga untuk mengurus dan mengelola hutan demi tercapainya cita-cita mulia, terutama masyarakat yang sejahtera dan kelestarian lingkungan yang terjaga, menjadi perlu dilibatkannya seluruh pengisi komponen yang saling berhubungan secara aktif.

Wahai Para Rimbawan

                Peringatan Hari Bakti Rimbawan Ke-36, pada 16 Maret 2019 saat ini mengambil tema “Hutan Untuk Kesejahteraan Rakyat dan Lingkungan Sehat ”. Dinamika kehutanan Indonesia telah mengalami fluktuasi yang sering tidak terduga oleh masyarakat karena aktor dari pemangku kekuasaan menjadi faktor kemerosotan penegakan hukum yang masih lemah, rumit, dan hanya sebagai formalitas belaka. Maka di tahun 2019 ini, sejak empat tahun pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bergabung menjadikan ruang lingkup kerja kementrian bersinergi. Penanganan masalah kehutanan dan lingkungan hidup secara koheren dapat diaktualisasikan lebih baik. Orientasi proyek kerja secara fokus mengatasi dua isu, yaitu green issues dan brown issues. Green Issues berkenaan dengan soal-soal hutan seperti produksi, konservasi, penghijauan, deforestasi, tumbuhan dan satwa liar, dan lain-lain. Brown Issues berkenaan dengan soal-soal lingkungan seperti pencemaran, sampah, dan lain-lain.

                Sejak tahun 2018-2019, pencapaian kinerja KLHK dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat lewat Perhutanan Sosial, yaitu sistem pengelolaan hutan lestari yang dilaksanakan dalam kawasan hutan negara, hutan hak atau hutan adat yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat maupun masyarakat hukum adat, sebagai pelaku utama untuk meningkatkan kesejahteraannya, keseimbangan lingkungan dan dinamika sosial budaya dalam bentuk Hutan Desa, Hutan Kemasyarakatan, Hutan Tanaman Rakyat, Hutan Rakyat, Hutan Adat,  dan Kemitraan Kehutanan. Nilai perhutanan sosial yang mengemuka dan diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan dari rancangan pelestarian hutan dan lingkungan dengan menyejahterakan masyarakat diantaranya adalah pemanfaatan untuk kesejahteraan (hasil hutan kayu, hasil hutan bukan kayu, jasa lingkungan), partisipasi dan kapasitas masyarakat, produktivitas rakyat, menjaga lingkungan dan fungsi alam, serta jiwa konservasi dan perlindungan hutan, suksesi, keseimbangan/homeostasis dan kesadaran untuk preservasi, restorasi, dan rehabilitasi. Target ideal akses seluas 12.7 -13.8 juta Ha, maka untuk periode 2015-2019 diproyeksikan target penyelesaian sekitar 3.5 juta ha, dan diproyeksikan selanjutnya pada 2020-2024 seluas 5 juta Ha.

                Kualitas masyarakat yang mampu sejalan dengan peningkatan kesejahteraan dianggap dapat mendorong perubahan kondisi lingkungan yang jauh lebih baik. Pergeseran paradigma masyarakat tentang kualitas hidup mereka secara otomatis langsung membuat masing-masing individu merasa butuh dan memiliki akan sumberdaya alam yang lestari guna memenuhi kebutuhan mendatang. Pergerakan dari masyarakat yang telah sadar akan hal itu menginisiasi aksi yang mengajak masyarakat lain untuk ikut bergabung dan berkolaborasi dalam peduli akan lingkungan. Pergerakan ini dapat dimulai dari hal kecil dan sederhana, mulai dari kebiasaan sehari-hari sampai aktivitas khusus yang dilakukan bersama-sama. Mulai dari mengurangi penggunaan Single Use atau barang-barang yang digunakan sekali terutama bahan plastik, hingga gerakan bersih-bersih laut sebagai upaya pengendalian sampah platik yang telah dilakukan di Bali, Labuan Bajo, dan beberapa pantai yang juga menjadi objek wisata.

                Aksi pergerakan itu hanya sebagian contoh kecil dari upaya kita sebagai Rimbawan dalam mengisi dan berpartisipasi aktif untuk lingkungan. Masih banyak kesempatan kita untuk terus mengeksplorasi upaya inovasi dalam mendukung dan mewujudkan cita-cita bangsa, karena bakti kita sebagai Rimbawan dapat dilihat dari apa yang sudah kita berikan untuk sekitar. Rimbawan adalah sosok yang kuat dalam identitas, skill, perspektif berpikir, solidaritas dan bergotong-royong. Rimbawan juga sosok yang teguh dan tangguh, kuat dan disiplin dalam kerja dan pantang surut dalam menghadapi tantangan di lapangan. Maka teruslah maju dalam memajukan Indonesia dengan jiwa korsa yang satu, demi bangsa yang bersatu.

FacebookTwitterGoogle+LineGoogle GmailShare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *