IPB

Hari Air Sedunia

AIR DI KEHIDUPAN SETELAH SAPAAN DUNIA

(Dalam Rangka Peringatan Hari Air Sedunia)

Oleh Nafisatun Khasanah

Tahun 2020 merupakan tahun yang cukup membuat negara-negara di dunia saling sapa, saling berjabat, dan bahkan beberapa saling merangkul. Bukan hanya dunia, tetapi alam dari berbagai belahan bumi pun saling bertemu. Beberapa fenomena alam yang kembali menyapa dunia ramai diberitakan. Tidak jarang fenomena tersebut membawa petaka yang mengkawatirkan. Fenomena-fenomena tersebut antara lain yaitu bumi mengalami peningkatan suhu tertinggi dalam sejarah (Driantama 2020), banjir yang merendam Jakarta dan sekitarnya (BBC 2020), perubahan iklim di beberapa daerah di dunia (Herlinda 2020), dan sebagainya.

Perubahan iklim yang terjadi di dunia memberikan dampak yang cukup mengkhawatirkan di kehidupan manusia. Baru-baru ini, Ibukota Indonesia terendam banjir yang cukup parah di awal tahun 2020. Dalam kurun waktu dua bulan, kawasan DKI Jakarta sudah enam kali terendam banjir dengan luas wilayah yang signifikan (Lova 2020). Air yang merupakan sumber kehidupan pun dapat menjadi sumber kematian bagi umat manusia. Peringatan Hari Air Sedunia tahun ini cukup memberikan duka.

Peran air di kehidupan manusia tidak ternilai harganya, terlebih air merupakan sumber kehidupan manusia. Air digunakan di berbagai kebutuhan rumah tangga maupun kebutuhan lain untuk bertahan hidup. Tidak hanya untuk manusia, keberadaan air sangat vital bagi kelangsungan kehidupan makhluk lainnya di bumi. Akan tetapi, pentingnya air tidak disertai dengan “perawatan” air yang dapat “memperpanjang” umur air. Kurang perhatiannya manusia terhadap air dapat menjadikannya bencana seperti banjir yang telah terjadi di awal 2020.

Keberadaan hutan sebagai penampung air sangat berpengaruh besar di  masa-masa kini. Sayangnya dewasa ini banyak hutan yang gundul atau dialihkan menjadi lahan-lahan pertanian dan perkebunan. Hal tersebut, selain mengurangi pasokan oksigen dan menyebabkan perubahan iklim, juga dapat menghambat atau bahkan menghilangkan fungsi hutan sebagai penampung air sehingga air tersebut berubah menjadi banjir yang akhirnya mengalir ke pemukiman warga. Kurangnya daerah resapan air di kota-kota besar juga berperan dalam fenomena banjir yang terjadi.

Pentingnya menjaga lingkungan dari risiko yang ditimbulkan karena perubahan iklim dan fenomena-fenomena alam lain merupakan kewajiban seluruh manusia di dunia. Peringatan Hari Air Sedunia tahun ini, 22 Maret 2020, merupakan peringatan yang cukup menyadarkan kita semua bahwa air juga memiliki “jiwa” yang dapat ditunjukan kepada dunia. Mari “jaga” air untuk kehidupan di bumi yang lebih baik.

 

Daftar Pustaka

BBC. 2020. Banjir Jakarta: Sejumlah Kawasan Terendam, RSCM Terpapar ‘Genangan’. Diakses di www.bbc.com [20 Maret 2020].

Driantama A. 2020. Januari 2020, Bumi Mengalami Peningkatan Suhu Tertinggi dalam Sejarah. Diakses di www.nationalgeographic.co.id [20 Maret 2020].

Herlinda O. 2020. Yang Terabaikan dalam Perubahan Iklim. Diakses di m.detik.com/news/kolom/d-4861160/yang-terabaikan-dalam-perubahan-iklim [20 Maret 2020].

Lova C. 2020. Sejak Awal 2020 Sudah Enam Kali Jakarta Kebanjiran, Anies Diminta Dengarkan Saran Jokowi. Diakses di www.kompas.com [20 Maret 2020].

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *