BENTET COKLAT: PEMANGSA KECIL PENGHUNI KAMPUS IPB DRAMAGA

Posted on Posted in Burung

bentetKegiatan monitoring Burung Kampus IPB Dramaga oleh Kelompok Pemerhati Burung (KPB) ‘Perenjak’ kembali menghasilkan data jenis burung yang baru ditemukan pada kegiatan monitoring burung 2018. Monitoring burung kampus ini sebagai kegiatan  rutin bulanan dan merupakan salah satu program kerja KPB ‘Perenjak’ Himakova, sebagai upaya untuk memonitoring keberadaan jenis burung di Kampus Biodiversitas ini. Metode yang digunakan dalam kegiatan monitorig burung ini adalah metode daftar jenis MacKinnon dan point count.

Jenis yang baru ditemukan adalah jenis bentet coklat (Lanius cristatus). Burung ini berwarna coklat dengan ukuran sedang (20 cm), memiliki mahkota dan bagian tubuh atas coklat, dahi dan alis putih, setrip mata hitam lebar dan tubuh bagian bawah putih kuning tua. Jenis ini termasuk kedalam famili Laniidae dengan genus Lanius. Bentet loreng merupakan jenis burung migran dari kawasan Siberia, Mongolia, dan Asia Timur seperti China dan Jepang. Biasanya mampir ke Indonesia menjelang musim dingin yaitu bulan Agustus – September dan pada bulan April jenis ini kembali ke habitat aslinya untuk berkembang biak.

 Bentet coklat mendiami daerah migrasi biasanya pada lahan pertanian terbuka termasuk areal perkebunan dengan ketinggian sekitar 1.500 mdpl. Kebiasaannya yaitu bertengger sendirian pada semak-semak, kabel, atau pohon paling atas untuk memantau lingkungan sambil mencari mangsanya kemudian menyambarnya. Adapun pada monitoring burung ini, bentet coklat ditemukan di sekitar Cikabayan, Kampus IPB Dramaga, yang merupakan salah satu daerah di dalam kampus dengan luasan kurang lebih 22 ha. Daerah ini ditanami jagung, singkong, kacang, sayuran dan lainnya. Sementara bagian perkebunannya ditanami karet, kakao, sawit, dan cengkeh.

Bentet coklat menerapkan cara hidup teritorial. Dalam mempertahankan teritorialnya, jenis ini sering berperilaku agresif dan kadang terlihat berkelahi, saling mengejar, dan mengeluarkan suara yang agresif satu sama lain. Selama perkelahian biasanya dua individu akan bergulat dan berhenti ketika ada yang jatuh ke tanah. Bahkan kadang mereka akan saling berhadapan selama beberapa detik hingga salah satunya melarikan diri (Saveringhaus, 1996).

Selain itu menurut Yosef dan Phinshow (2005), betet coklat yang termasuk Shrikes ini memiliki cara hidup yang mirip dengan raptor diurnal (Falconi formes) dalam perilaku  predatornya. Hanya saja mereka tidak memiliki cakar yang kuat dan ukuran yang besar seperti yang digunakan raptor untuk mencabik mangsanya. Kekurangan ini menyebabkannya berevolusi perilaku sehingga memungkinkan mereka meningkatkan ukuran eksploitasi terhadap sumber pakan. Beberapa jenis pakan bentet loreng yang diburu adalah berupa burung kecil, kadal, serta serangga.

Daftar Pustaka

Yosef R, Pinshow B. 2005. Impaling intrue shrikes (Laniidae): a behavioral and ontogenetic perspective. Behavioral Procesess. 69: 363 – 367.

Severinghaus LL. 1996. Territory strategy of the migratory Brown Shike Lanius cristatus. IBIS. 138: 460 – 465.

FacebookTwitterGoogle+LineGoogle GmailShare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *