SANG BURUNG BIDADARI (Semioptera Wallacea) DIPUSARAN KAULIN

Posted on Posted in IPB

Oleh: KPB Himakova

KPB_wbSemua orang pasti akan bertanya berhubungan apa antara Burung Bidadari dan Kaulin. Keduanya memiliki perbedaan yang cukup jauh. Satu dari jenis makhluk hidup, satunya lagi adalah bahan tambang. Tapi yang jelas keduanya sama-sama berada di dataran Pulau Halmahera, yakni di Desa Damato, Kecamatan Jailolo Selatan.

Burung Bidadari atau nama Indonesia yaitu Bidadari Halmahera atau lebih sering dikenal dengan nama ilmiahnya Semioptera Wallacei, salah satu spesies burung yang hanya terdapat di dataran Halmahera, Kabupaten Halmahera Barat (Halbar).

Burung ini juga bagi penemu Wallacei, salah seorang peneliti burung dari Belanda, mengelompokkannya sebagai burung langka di dunia. Ia hanya terdapat di Halmahera dan lebih khusus lagi hanya disekitar tiga empat di wilayah Halbar, yaitu di Talaga Gamkonora, air terjun Goal serta di Bukit Tanah Putih, Desa Domato, Kecamatan Jailolo Selatan. Di Tanah Putih ini merupakan habitat induk dari Burung Bidadari yang ada di Halmahera, sedangkan dua tempat lainnya hanya sebagai habitat cadangan sehingga setiap saat tidak ditempati oleh burung ini.

Kita mencoba mendiskripsikan keberadaan Burung Bidadari ini. Burung Bidadari atau Semioptera Wallacei bagi penemunya, Wallacei menggolongkannya sebagai burung yang cukup indah. Karena keindahan dan kecantikannya itu, burung ini oleh penemunya menggelari dia dengan nama burung-burung surgawi.

Secara garis besar burung ini nyaris sama dengan burung Cendrawasih. Namun, Bidadari lebih memiliki kelebihan dan keindahan terutama dari struktur bulu yang dihiasi dengan berbagi warna. Ada kelebihan tersendiri yang dimiliki burung Bidadari, dibandingkan dengan Cendrawasih. Keindahan itu terlihat saat burung ini memasuki masa produksi atau masa kawin. Dengan seluruh kelebihan yang dimiliki burung Bidadari jantan mencoba menarik pasangannya untuk bisa memadu kasih.

Kini nama besar serta keindahan burung ini mungkin tinggal kenangan, sejalan dengan kemajuan daerah yang memaksa habitat dari burung-burung ini dirambah tangan-tangan manusia demi kepentingan pembangunan.

Di wilayah Desa Domato selain sebagai tempat berteduhnya habitat burung Bidadari, isi kandungan perut buminya mengandung bahan tambang potensial yaitu Kaulin, yang dijadikan sebagai bahan baku pembuatan marmer atau bahan keramik lainnya.

Oleh Pemda Halbar, potensi Kaulin ini kemudian dijual ke investor yang ingin menanamkan modalnya untuk usaha ini. Tanpa melalui promosi yang panjang, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan pun menyambut promosi ini dengan bersedia menanamkan modalnya untuk mengelola Kaulin.

Kesiapan perusahaan asal Korea disambut oleh Pemda Halbar. Izin prinsip pun dikeluarkan untuk perusahaan tersebut, guna melakukan kegiatan penambangan. Namun sosialisasi atau penyuluhan ke masyarakat disekitar hutan atau ditempat pemukiman belum dilakukan oleh pihak pemda terkait.

Wajar saja, jika langkah yang diambil oleh pemerintah Halbar ini membuat sejumlah orang terutama para peneliti dan pencinta burung yang ada di daerah ini merasa prihatin. “saya tidak bisa melawan lagi karena semua sudah dijual oleh pemerintah daerah. Padahal di hutan ini cukup banyak burung termasuk burung Bidadari,” ungkap Demianus Bagali, salah seorang pemerhati burung-burung Wallacea, (kompas, edisi Jum’at 25 Mei 2007).  Ungkapan kekecewaan ini pantas  diutarakan oleh Demianus Bagali, karena dia yang selama ini terus memanatau pergerakan burung burung wallacea yang ada didaratan Halmahera merasakan langsung burung tersebut. Bahkan dengan burung ini masyarakat internasional bisa mengetahui pulau Halmahera dan Maluku Utara padan umumnya.

FacebookTwitterGoogle+LineGoogle GmailShare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *