EXPO HIMAKOVA 2017, “Konservasi Masa Kini”

Posted on Leave a commentPosted in IPB

EXPO 2 PASTI FIX

Dewasa ini perkembangan zaman semakin cepat, paradigma konservasi pun turut berubah. Awalnya, perlindungan sumberdaya alama menjadi prioritas utama. Konservasi dalam pengertian sekarang, sering diterjemahkan sebagai pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana dan lestari. HIMAKOVA mencoba mengangkat isu tersebut dan mengemasnya dalam sebuah pameran yang tentunya informatif dan menarik. Expo HIMAKOVA 2017 yang bertemakan “Konservasi Masa Kini” mencoba mengangkat isu- isu yang saat ini sedang merambah dunia melalui kajian dari Kelompok Pemerhati HIMAKOVA. Kajian tersebut antara lain penangkaran mamalia langka dari Kelompok Pemerhati Mamalia, migrasi burung dari Kelompok Pemerhati Burung, edukasi herpetofauna dari Kelompok Pemerhati Herpetofauna, Pemanfaatan Kupu-kupu dari Kelompok Pemerhati Kupu-kupu, Pemanfaatan Tumbuhan Obat dari Kelompok Pemerhati Flora, Ayo ke Taman Nasional dari Kelompok Pemerhati Ekowisata, Caving technique dari Kelompok Pemerhati Gua, dan Panorama Kehidupan dari Kelompok Minat Bakat Fotografi Konservasi. Expo HIMAKOVA 2017 juga menampilkan ekspedisi – ekspedisi terdahulu HIMAKOVA sebagai informasi kepada pengunjung.

Kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari di Koridor Pinus IPB ini cukup menarik perhatian civitas kampus IPB.  Adapun luaran dari kegiatan ini adalah membangun persepsi civitas IPB terhadap kondisi dari Konservasi Masa Kini.

 

Capture EXPO

FacebookTwitterGoogle+LineGoogle GmailShare

Tim Surili 2017 Menyapa Tanah Borneo

Posted on Leave a commentPosted in IPB

SURILI 2017

Kegiatan Studi Konservasi Lingkungan (SURILI) telah rutin dilaksanakan setiap tahun oleh Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB terhitung sejak tahun 2003. surili telah menyapa lebih dalam pesona panorama alam di tanah air Indonesia. Kekayaan alam dengan berbagai macam karakteristik khasnya dari 13 Taman Nasional dan 1 Suaka Margasatwa telah ditelusuri dan setiap jengkal keindahan alam maupun budayanya diabadikan dalam sebuah tulisan, laporan ilmiah, laporan semi popular, film dan seminar nasional.

 

Suatu kebanggaan pencapaian Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (HIMAKOVA) pada tahun 2015 telar dianugerahi rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) atas prestasi dan konsistensinya mengkaji kekayaan flora fauna, kawasan karst,  ekowisata serta sosial budaya di 13 Taman Nasional dan 1 Suaka Margasatwa di Indonesia.

1496718841388

Tahun 2017 ini Himakova berkesempatan mengkaji keberagaman biodiversitas, ekowisata dan keunikan budaya di Taman Nasional Kutai Kalimantan Timur.  Adapun tema yang diusung dalam kegiatan surili kali ini yaitu : “Studi konservasi keanekaragaman hayati, kawasan karst, ekowisata,  serta kearifan lokal di Taman Nasional Kutai, Provinsi Kalimantan Timur”.

 

Tidaklah mudah bagi Tim Surili untuk mempersiapkan apa yang dibutuhkan untuk mengambil data dilapang. Perlu adanya persiapan yang matang baik jasmani, rohani maupun finansial. Untuk menyukseskan kegiatan ekspedisi Surili ini HIMAKOVA telah bekerja sama dengan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Balai Konservasi Sumberdaya Alam, Balai Taman Nasional, Lembaga Kemahasiswaan IPB, Perguruan tinggi non-IPB, serta berbagai lembaga swadaya masyarakat, media partner dan perusahaan..

 

Tim Surili2017 kembali memohon doa restu semua kalangan demi kelancaran ekpedisi yang akan diselenggarakan pada tanggal 21-30 Agustus 2017 mendatang di Taman Nasional Kutai, Provinsi Kalimantan Timur.

 

“Berkarya Kami Sepenuh Jiwa,  Berbakti Kami Sepanjang Masa Demi Konservasi di Indonesia”


BIODIVERSITAS LEBIH DARI SEKEDAR ANGKA

Posted on Leave a commentPosted in Himakova, IPB, Kampus Biodiversitas, Konservasi

KAMBIO 500

 

Oleh : Biro Sosial Lingkungan HIMAKOVA

 

Kampus  Institut Pertanian Bogor (IPB) Darmaga dengan luas kurang lebih 250 ha memiliki ruang terbuka hijau yang luas.  kampus yang terletak di Kecamatan Dramaga Bogor ini memiliki berbagai tipe habitat seperti kawasan Arboretum Lansekap, Arboretum Fakultas Kehutanan, Arboretum Cikabayan, tegakan bambu, tegakan di sekitar Mesjid Alhurriyah, serta Danau LSI merupakan habitat penting bagi satwa di kampus ini. Berdasarkan hasil monitoring kampus yang dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (HIMAKOVA), tercatat sebanyak 173 spesies tumbuhan, 22 spesies mamalia, 88 spesies burung, 12 spesies amfibi, 38 spesies reptil, dan 75 spesies kupu-kupu. Hasil ini merupakan salah satu dasar pendeklarasian IPB sebagai kampus Biodiversitas oleh rektor yang dilakukan tepat setahun yang lalu (22 April 2016).

Kampus IPB Darmaga dicanangkan sebagai Kampus Biodiversitas pada tanggal 22 Mei 2011, bertepatan dengan Hari Biodiversitas Dunia. Pencanangan ini kemudian diikuti dengan berbagai kegitan salah satu diantaranya yaitu melakukan diskusi dengan berbagai pihak termasuk dosen serta LK dan LS di IPB yang dimotori oleh Himakova demi terwujudnya Kampus IPB Darmaga sebagai kampus Biodiversitas. Kemudian pada tanggal 22 April 2016, bersamaan dengan gerakan hijau (green movement), kampus IPB Darmaga dideklarasikan sebagai Kampus Biodiversitas.

Deklarasi IPB sebagai satu-satunya kampus Biodiversitas diharapkan tidak hanya membahas tentang banyaknya jumlah flora dan fauna yang ada di lingkungan kampus tetapi juga diikuti dengan upaya melindungi, melestarikan, dan mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan yang menjadi modal dasar pembangunan untuk kesejahteraan bersama baik Civitas Akademika maupun masyarakat sekitar. Biodiversitas kampus yang tinggi secara tidak langsung berpengaruh terhadap lingkungan. Sebut saja Serak Jawa (Tyto alba), menurut penelitian sepasang Serak jawa di dalam sangkar mampu memangsa 3650 ekor tikus per tahun, dan seekor burung ini mampu memangsa tikus 2 – 5 ekor per hari dengan radius terbang 12 Km (Erik, 2008). Lain halnya dengan Kelelawar Ladam Umum (Rhinolophus affinis), kelelawar jenis ini mampu memakan 2,65 gram serangga (1 gram serangga yang dimakan kelelawar setara dengan 500 individu) dengan kata lain kelelawar ini mampu memangsa 1320 individu serangga (Prakarsa dan Ahmadin 2013). Begitu pula dengan jenis reptilia, amfibi, dan Kupu-kupu yang memiliki peranannya masing-masing dalam ekosistem untuk menciptakan lingkungan yang seimbang demi mendukung kehidupan civitas akademika IPB serta masyarakat sekitarnya.

Hal-hal tersebut diatas setidaknya mampu menjadi alasan untuk mewujudkan pembangunan yang bijaksana dan berkelanjutan di Kampus IPB darmaga. Karena beragamnya jenis-jenis flora dan fauna tersebut mampu menjadi potensi sumberdaya alam di masa mendatang atau hanya sebatas data yang tak lagi memiliki perwujudan jika tidak mampu dikelola dengan prinsip-prinsip kelestarian.

Fotografi Kawasan Karst “FOKARST”

Posted on Leave a commentPosted in Goa, Himakova, KPG (Kelompok Pemerhati Goa) "Hira"

1489896755354

Oleh : KPG HIMAKOVA

Gua Cikaray, Citeureup, Kabupaten Bogor merupakan lokasi dilaksanakannya Fokarst yang pertama pada tahun 2017. Gua Cikaray menyimpan berbagai keindahan yang tersembunyi di perut bumi, namun tidak semua orang berkesempatan utuk mengetahui bahkan merasakan keindahan tersebut. Pada hari Sabtu, 18 Maret 2017 tim Fokarst yang terdiri dari gabungan anggota Kelompok Pemerhati Gua “Hira” dan Fotografi Konservasi Himakova berkesempatan untuk dapat menguak sedikit misteri gua Cikaray dengan menerapkan teknik fotografi gua.
Kegiatan Fokarst menggunakan teknik fotografi dalam gelap, yaitu upaya meminimalkan kecepatan bukaan lensa kamera guna menangkap lebih banyak cahaya dalam proses pengambilan gambar sehingga dapat menghasilkan foto yang baik walaupun dalam keadaan gelap gua. Proses pengambilan gambar dalam fotografi menggabungkan tiga unsur dalam penggunaan kamera atau segitiga Exposure yaitu ISO yang merupakan pengatur banyak atau sedikitnya cahaya yang ditangkap oleh lensa kamera, Apperture yang mengatur besar atau kecilnya bukaan lensa pada kamera, serta Shutter speed yang merupakan pengaturan kecepatan sebuah kamera dalam pengambilan gambar.
Walaupun fotografi gua menggunakan sumber cahaya tambahan berupa headlamp, senter, maupun lentera, dalam penerapannya alat bantu tersebut masih belum cukup untuk memberikan penerangan yang maksimal untuk menghasilkan foto lorong gua yang gelap pekat. Fotografi gua berupaya untuk menangkap sebanyak mungkin cahaya dengan cara mengurangi kecepatan pengambilan gambar (shutter speed) serta memperbesar bukaan lensa (apperture) sehingga dapat mengurangi kegelapan gua pada foto yang dihasilkan. Menurunkan ISO dapat membantu mengurangi noise atau bercak hitam yang terdapat pada foto yang dihasilkan, namun ISO yang terlalu rendah mengakibatkan foto yang dihasilkan menjadi lebih gelap, maka dari itu keseimbangan dalam tiga unsur exposure sangat diperlukan dalam fotografi.
Dokumentasi dalam gua memiliki tingkat kesulitan yang tinggi karena dalam penerapannya teknik fotografi dalam gelap mengharuskan fotografer memiliki konsentrasi tinggi untuk dapat menyeimbangkan tiga unsur exposure sembari melakukan penelusuran gua serta melindungi kamera dari kerusakan. Kerusakan kamera pada penelusuran gua sangat mungkin terjadi karena lingkingan gua yang terkadang berair dengan kelembaban tinggi serta memiliki kontur batuan yang licin sehingga dapat terjadi kerusakan seperti lensa kamera yang berembun, kamera terjatuh, serta kerusakan lain yang dapat terjadi.
Objek dalam fotografi gua yaitu bentukan, ornamen, biota gua, serta penelusur gua yang dapat dijadikan objek foto yang berguna untuk membandingkan ukuran ruangan dalam gua dengan objek manusia sebagai pembanding. Proses pengambilan gambar mengharuskan fotografer untuk selektif dalam memilih objek foto serta sudut pandang yang digunakan dalam pengambilan gambar objek tersebut. Pengambilan gambar dengan penelusur gua sebagai objek foto merupakan hal yang penting dalam menggambarkan kondisi gua, hal ini membantu dalam pemetaan gua untuk menggambarkan bentukan maupun ruangan gua yang terlalu sulit untuk dipetakan sehingga membantu dalam meningkatkan keakuratan dalam pemetaan gua.

Pelatihan Kupu-Kupu Sekolah Menengah Atas

Posted on Leave a commentPosted in Himakova, IPB, KPK (Kelompok Pemerhati Kupu-Kupu) "Sarpedon", Kupu-Kupu

 

356312

 

Oleh : KPK HIMAKOVA

Pelajar SMAN 4 Bogor melakukan kunjungan ke Kelompok Pemerhati Kupu-kupu “Sarpedon” Himakova dengan jumlah peserta 15 orang anggota ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja SMAN 4 Bogor. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 18 Maret 2017. Kunjungan ini diisi dengan pemberian materi pengenalan dan metode penangkapan kupu-kupu, pembuatan offset dan embedding kupu-kupu, serta pengenalan penangkaran kupu-kupu. Acara ini bertujuan untuk menambah wawasan pelajar SMAN 4 Bogor terhadap kupu-kupu serta melatih keterampilan pelajar untuk membuat offset dan embedding sehingga mereka dapat mengembangkan hal tersebut untuk menunjang keterampilannya dalam membuat karya ilmiah. Selama acara berlangsung, pelajar SMAN 4 Bogor terlihat antusias terhadap kupu-kupu. Hal ini terlihat dari banyaknya pertanyaan yang mereka ajukan berkaitan  dengan kupu-kupu, offset dan embedding, serta penangkarannya.  Semoga melalui kunjungan ini siswa-siswi SMAN 4 Bogor mendapatkan ilmu yang bermanfaat serta dapat memahami dan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan konservasi selanjutnya.