Fotografi Kawasan Karst “FOKARST”

Posted on Leave a commentPosted in Goa, Himakova, KPG (Kelompok Pemerhati Goa) "Hira"

1489896755354

Oleh : KPG HIMAKOVA

Gua Cikaray, Citeureup, Kabupaten Bogor merupakan lokasi dilaksanakannya Fokarst yang pertama pada tahun 2017. Gua Cikaray menyimpan berbagai keindahan yang tersembunyi di perut bumi, namun tidak semua orang berkesempatan utuk mengetahui bahkan merasakan keindahan tersebut. Pada hari Sabtu, 18 Maret 2017 tim Fokarst yang terdiri dari gabungan anggota Kelompok Pemerhati Gua “Hira” dan Fotografi Konservasi Himakova berkesempatan untuk dapat menguak sedikit misteri gua Cikaray dengan menerapkan teknik fotografi gua.
Kegiatan Fokarst menggunakan teknik fotografi dalam gelap, yaitu upaya meminimalkan kecepatan bukaan lensa kamera guna menangkap lebih banyak cahaya dalam proses pengambilan gambar sehingga dapat menghasilkan foto yang baik walaupun dalam keadaan gelap gua. Proses pengambilan gambar dalam fotografi menggabungkan tiga unsur dalam penggunaan kamera atau segitiga Exposure yaitu ISO yang merupakan pengatur banyak atau sedikitnya cahaya yang ditangkap oleh lensa kamera, Apperture yang mengatur besar atau kecilnya bukaan lensa pada kamera, serta Shutter speed yang merupakan pengaturan kecepatan sebuah kamera dalam pengambilan gambar.
Walaupun fotografi gua menggunakan sumber cahaya tambahan berupa headlamp, senter, maupun lentera, dalam penerapannya alat bantu tersebut masih belum cukup untuk memberikan penerangan yang maksimal untuk menghasilkan foto lorong gua yang gelap pekat. Fotografi gua berupaya untuk menangkap sebanyak mungkin cahaya dengan cara mengurangi kecepatan pengambilan gambar (shutter speed) serta memperbesar bukaan lensa (apperture) sehingga dapat mengurangi kegelapan gua pada foto yang dihasilkan. Menurunkan ISO dapat membantu mengurangi noise atau bercak hitam yang terdapat pada foto yang dihasilkan, namun ISO yang terlalu rendah mengakibatkan foto yang dihasilkan menjadi lebih gelap, maka dari itu keseimbangan dalam tiga unsur exposure sangat diperlukan dalam fotografi.
Dokumentasi dalam gua memiliki tingkat kesulitan yang tinggi karena dalam penerapannya teknik fotografi dalam gelap mengharuskan fotografer memiliki konsentrasi tinggi untuk dapat menyeimbangkan tiga unsur exposure sembari melakukan penelusuran gua serta melindungi kamera dari kerusakan. Kerusakan kamera pada penelusuran gua sangat mungkin terjadi karena lingkingan gua yang terkadang berair dengan kelembaban tinggi serta memiliki kontur batuan yang licin sehingga dapat terjadi kerusakan seperti lensa kamera yang berembun, kamera terjatuh, serta kerusakan lain yang dapat terjadi.
Objek dalam fotografi gua yaitu bentukan, ornamen, biota gua, serta penelusur gua yang dapat dijadikan objek foto yang berguna untuk membandingkan ukuran ruangan dalam gua dengan objek manusia sebagai pembanding. Proses pengambilan gambar mengharuskan fotografer untuk selektif dalam memilih objek foto serta sudut pandang yang digunakan dalam pengambilan gambar objek tersebut. Pengambilan gambar dengan penelusur gua sebagai objek foto merupakan hal yang penting dalam menggambarkan kondisi gua, hal ini membantu dalam pemetaan gua untuk menggambarkan bentukan maupun ruangan gua yang terlalu sulit untuk dipetakan sehingga membantu dalam meningkatkan keakuratan dalam pemetaan gua.

FacebookTwitterGoogle+LineGoogle GmailShare

Pelatihan Kupu-Kupu Sekolah Menengah Atas

Posted on Leave a commentPosted in Himakova, IPB, KPK (Kelompok Pemerhati Kupu-Kupu) "Sarpedon", Kupu-Kupu

 

356312

 

Oleh : KPK HIMAKOVA

Pelajar SMAN 4 Bogor melakukan kunjungan ke Kelompok Pemerhati Kupu-kupu “Sarpedon” Himakova dengan jumlah peserta 15 orang anggota ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja SMAN 4 Bogor. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 18 Maret 2017. Kunjungan ini diisi dengan pemberian materi pengenalan dan metode penangkapan kupu-kupu, pembuatan offset dan embedding kupu-kupu, serta pengenalan penangkaran kupu-kupu. Acara ini bertujuan untuk menambah wawasan pelajar SMAN 4 Bogor terhadap kupu-kupu serta melatih keterampilan pelajar untuk membuat offset dan embedding sehingga mereka dapat mengembangkan hal tersebut untuk menunjang keterampilannya dalam membuat karya ilmiah. Selama acara berlangsung, pelajar SMAN 4 Bogor terlihat antusias terhadap kupu-kupu. Hal ini terlihat dari banyaknya pertanyaan yang mereka ajukan berkaitan  dengan kupu-kupu, offset dan embedding, serta penangkarannya.  Semoga melalui kunjungan ini siswa-siswi SMAN 4 Bogor mendapatkan ilmu yang bermanfaat serta dapat memahami dan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan konservasi selanjutnya.

Pentingnya Interpretasi yang Berwawasan

Posted on Leave a commentPosted in Ekowisata, Himakova, IPB, KPE (Kelompok Pemerhati Ekowisata) "Tapak"

Papan

Papan Interpretasi HIMAKOVA

Oleh : KPE HIMAKOVA

Indonesia, kepingan surga yang jatuh ke bumi, begitulah sebutannya. Indonesia adalah negeri dengan sejuta pesona, dari  Sabang sampai Merauke  akan kita jumpai surga-surga tersembunyi, objek wisata yang sudah berkembang maupun yang masih kental dengan kearifan lokal. Namun tidak semua masyarakat Indonesia mengetahui hal itu. Banyak dari mereka lebih memilih wisata ke luar negeri dibandingkan menjelajah Indonesia. Banyak dari mereka  belum mengetahui seberapa indah Indonesia.

Tempat-tempat tersembunyi  ini tentu tidak akan terungkap jika tidak dipublikasikan. Banyak macam cara yang dapat dilakukan untuk memperkenalkan keindahan Indonesia. Membuat seseorang ingin melakukan perjalanan menikmati Indonesia. Tidak sekedar melakukan perjalanan, tetapi memberikan kesan kepada pengunjung tentang perjalanan mereka. Salah satunya adalah melalui kegiatan interpretasi. Interpretasi adalah suatu aktifitas pendidikan yang bertujuan menyingkap  berbagai makna dan hubungan melalui objek-objek menarik (asli), pengalaman langsung dan gambar/ ilustrasi, jadi tidak semata-mata menyampaikan fakta/informasi (Tilden 1992). Kegiatan ini tentu akan meningkatkan pariwisata di Indonesia.

Ketika seseorang tertarik mengunjungi suatu kawasan wisata, maka interpretasi sangat berperan penting untuk membuat pengunjung berkesan dan tidak merasa membuang waktunya percuma untuk datang ke tempat tersebut. Interpretasi sebagai bentuk pendidikan memberikan pengunjung berbagai informasi, data dan cerita tentang alam, budaya dan aset-aset lainnya (atraksi).

Teknik interpretasi alam bersifat mendidik yang bertujuan untuk mengungkapkan arti dan hubungan melalui penggunaan objek asli dan pengalaman tangan pertama serta dengan media ilutrasi, lebih dari sekedar mengkomunikasikan informasi aktual. Dalam interpretasi utamanya adalah merupakan proses komunikasi, untuk mengungkapkan makna alam dan budaya dengan cara memahami dan mendidik.

Proses informasi ke interpretasi yang pertama adanya pemandu wisata mempunya pengetahuan yang akan menjadi informasi, kemudian adanya ketrampilan mengolah informasi yang akan di interpretasikan ke pengunjung sehingga pengunjung dapat memperoleh pengetahuan dan makna baru.

Tangkaran’s Day : Satu Hari untuk Sekretariat Tercinta (Tahap 1)

Posted on Leave a commentPosted in Himakova, IPB

1487388939921

Bogor,2017 – Tangkaran’s Day (Tahap I) HIMAKOVA

Tangkaran’s Day adalah satu hari dimana anggota HIMAKOVA berkumpul di sekretariat Tangkaran dan melakukukan kegiatan bersih-bersih, inventarisasi barang, dan pengadaan sarana dan prasarana yang sekiranya dibutuhkan. Tak hanya itu saja, kegiatan ini juga merupakan kegiatan yang dapat mengakrabkan antar pengurus, senior, dan alumni.Tangkaran’s Day merupakan program kerja dari Biro Kesekretariatan HIMAKOVA. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 19 Februari 2017. Pukul 08.00 WIB anggota HIMAKOVA sudah berkumpul di sekretariat Tangkaran HIMAKOVA..Tercatat 33 pengurus hadir pagi itu bersama- sama membersihkan Tangkaran.

Adapun bagian yang dibersihkan meliputi ruangan dalam Tangkaran, gudang,kamar mandi, halaman, saung, dan meja internet. Anggota HIMAKOVA dari berbagai angkatan bekerja bersama dalam menciptakan suasana sekretariat yang kondusif dan nyaman. Waktu menunjukkan pukul 12.30 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan makan dan sholat Dzuhur bersama.

Sekretariat Tangkaran merupakan tempat utama bagi para anggota HIMAKOVA untuk berkumpul bersama. Kegiatan Tangkaran’s Day akan dilaksanakan tiga kali dalam satu tahun kepengurusan. Tiga hari dalam satu tahun disiapkan untuk berbakti kepada sekretariat tercinta.

Gagak, Si Cerdas yang Ditakuti

Posted on Leave a commentPosted in Biodiversitas, Burung, Himakova, Kampus Biodiversitas, KPB (Kelompok Pemerhati Burung) "Prenjak"
Burung Gagak Hutan (Karya Mark Jason Villa)

      Apa yang terlintas pertama kali di kepala kita jika mendengar kata gagak? Pastilah hal-hal semacam burung hitam yang suaranya serak dan parau, pertanda berita buruk, pembawa berita kematian, dan sebagainya. Selama ini burung yang berasal dari genus Corvus dan famili Corvidae ini memang sering dianggap sebagian orang sebagai burung yang menakutkan dan sering dikaitkan dengan hal-hal negatif dan mistis. Dalam berbagai kebudayaan dan mitologi, termasuk Indonesia, stereotip jelek terlanjur tercap pada burung yang memiliki bulu dominan hitam ini. Gagak sering dianggap sebagai pembawa berita buruk sekaligus sebagai hewan peliharaan nenek sihir. Suaranya yang keras dan parau sering dianggap menakutkan bagi banyak orang. Sayang sekali, tak banyak orang yang tahu bahwa ternyata spesies burung yang satu ini memiliki keistimewaan tersendiri. Penelitian yang dilakukan terhadap kecerdasan gagak mendapatkan hasil menakjubkan.

     Maurice Burton dan Robert Burton menyatakan bahwa burung Gagak mempunyai tingkat kecerdasan tertinggi diantara semua burung, dalam publikasi hasil penelitian mereka yang berjudul “Crow” dalam The International Wildlife Encyclopedia, Volume 10 tahun 2002. Penelitian serupa juga dilakukan oleh Bernd Heinrich dan Thomas Bugnyar dari Vermont University (Kanada) dan St Andrews University (Skotlandia) yang dipublikasikan oleh Majalah American Scientific. Hal senada juga diungkapkan oleh Anna Smirnova, Zoya Zorina dan Tanya Obozova, para peneliti di Lomonosov Moscow State University, Rusia. Thomas Bugnyar, seorang ahli biologi di Universitas Wina (Austria) menyatakan bahwa burung Gagak memiliki kemampuan kognitif setara dengan anak manusia berusia 2 tahun.

     Burung gagak dinyatakan mampu menggunakan logika mereka untuk memecahkan masalah, terutama bila diukur menurut kemampuan menghubungkan konsep-konsep. . Penelitian terkini juga menunjukkan mereka memiliki kekuatan otak untuk mengerjakan tugas pencocokan tingkat tinggi, dapat mengingat muka dan menggunakan perkakas. Bahkan beberapa kemampuannya melampaui kemampuan yang dimiliki oleh kera besar yang dianggap cerdas.

     Ada sekitar 40-an jenis gagak di dunia, dan di Indonesia ada sekitar 9 jenis, yakni Gagak Hutan (Corvus enca), Gagak Flores (Corvus florensis), Gagak Kepala Cokelat (Corvus fuscicapillus), Gagak Kampung (Corvus macrorhynchos), Gagak Orru (Corvus orru), Gagak Kelabu (Corvus tritis), Gagak Sulawesi (Corvus typicus), Gagak Banggai (Corvus unicolor), dan Gagak Halmahera (Corvus validus).Di Kampus IPB Dramaga sendiri, hanya terdapat 2 jenis gagak, yaitu Gagak Hutan dan Gagak Kampung.

     Hmm… kalau gagak dari sananya saja sudah cerdas, apalagi jika tinggal di lingkungan kampus biodiversitas yang jadi peringkat 3 se-Indonesia ini, ya. Pasti akan tambah cerdas. Hehe..