COMING SOON ! EKSPEDISI RAFFLESIA 2018

Posted on Leave a commentPosted in IPB

cooming soon rafflesCOMING SOON !
EKSPEDISI RAFFLESIA 2018

Hai penanti Ekspedisi. Tidak sabar bukan dengan Ekspedisi Rafflesia HIMAKOVA?
Rafflesia merupakan program kerja tahunan HIMAKOVA yang berkegiatan mengeksplorasi keanekaragaman hayati, inventarisasi potensi ekowisata, kajian sosial budaya masyarakat lokal dan kajian kawasan karst.

Ekspedisi Rafflesia 2018 merupakan ekspedisi yang ke 11 dari yang sebelumnya di tahun 2017 telah dilaksanakan di Cagar Alam Leuweung Sancang.
Tapi Ekspedisi Rafflesia 2018 berbeda loh dengan sebelumnya. Penasaran dengan Rafflesia 2018?
Terus ikuti informasinya dari media sosial resmi HIMAKOVA!

“Berkarya kami sepenuh jiwa, berbakti kami sepanjang masa.
Konservasi, konservasi!”

#RAFFLESIA2018
#HIMAKOVAIPB
_______________________
web: http://himakova.lk.ipb.ac.id
instagram: @himakova
twitter: @himakova
facebook: HIMAKOVA IPB
line@: @himakova
e-mail: himakova@gmail.com

FacebookTwitterGoogle+LineGoogle GmailShare

Press Release HIMAKOVA : SURILI 2017

Posted on Leave a commentPosted in IPB

SURILI 2017

HIMAKOVA dalam  Studi Konservasi Lingkungan (SURILI) 2017 pada tahun ini melaksanakan ekspedisi ke tanah Borneo tepatnya di Taman Nasional Kutai, Kalimantan Timur. Taman Nasional Kutai atau biasa disingkat TNK adalah sebuah taman nasional yang berada di wilayah Kabupaten Kutai Timur dan sebagian kecil wilayah Kota Bontang yang memiliki lahan total seluas 198.629 ha. TN Kutai membentang di sepanjang garis khatulistiwa mulai dari pantai Selat Makassar sebagai batas bagian timur menuju arah daratan sepanjang kurang dari 65 km. Kawasan ini juga dibatasi Sungai Sangatta di sebelah utara, sebelah selatan dibatasi Hutan Lindung Bontang.

Selama 11 hari tim Surili 2017 yang terdiri dari 7 kelompok pemerhati, satu kelompok minat bakat dan juga satu tim sosial ekonomi dan budaya menjelajah keindahan sumberdaya alam di Taman Nasional Kutai. Tema yang diusung dalam kegiatan surili kali ini yaitu : “Studi konservasi keanekaragaman hayati, kawasan karst, ekowisata,  serta kearifan lokal di Taman Nasional Kutai, Provinsi Kalimantan Timur”.

Dari hasil kajian sosial, ekonomi dan budaya masyarakat di sekitar kawasan TN Kutai menyatakan bahwa masyarakat sedang berada pada proses menuju modernisasi. KP ekowisata menyampaikan bahwa untuk meningkatkan kunjungan wisata perlu diadakan kegiatan berskala massal, pengunjung tidak mengeluarkan biaya yang besar untuk kegiatan wisata alam (tiket, akomodasi dan makan) serta wisatawan tidak terlalu tertarik dengan souvenir karena lebih banyak yang berasal dari wilayah Sangatta dan Bontang. KP Goa memaparkan telah berhasil mengeksplor 6 Goa yang ada di Taman Nasional Kutai dari 17 goa yang telah diketahui keberadaannya. Termin II yaitu KP flora, KP Mamalia, KP Burung. KP flora lebih menitikberatkan pengamatan pada etnobotani masyarakat yang ada di sekitar Taman Nasional Kutai. Hasil yang diperoleh yaitu 5 jenis anggrek yaitu 2 dari jenis Bulbophyllum sp. dan 3 dari jenis Dendrobium sp.  masyarakat tidak mengambil jenis obat dari TN Kutai sebanyak 27 Jenis dari 23 famili. KP mamalia memperoleh hasil 5 mamalia yang dijumpai secara langsung dan 6 dari perjumpaan tidak langsung. KP Burung memperoleh hasil 72 jenis burung di site Rantau Pulung dan 26 jenis di site Salebba. Hasil ekspedisi KP burung memperoleh tambahan 3 jenis burung dari 365 jenis burung yang telah ada di data TN Kutai. Termin III yaitu pemaparan hasil ekspedisi dari KP Herpetofauna dan KP Kupu-kupu. Hasil KP Herpetofauna yaitu 21 jenis herpetofauna dari 9 famili yaitu 6 jenis reptil dan 15 jenis amfibi Hasil yang diperoleh ini dapat menambah kekayaan data herpetofauna TN Kutai sebayak 9 jenis. KP Kupu-kupu berhasil mengumpulkan 84 jenis kupu-kupu dari 195 jenis kupu-kupu yang telah tercatat di data TN Kutai. 84 jenis kupu-kupu tersebut tergolong 5 famili yaitu famili Hesperidae, Lycaenidae, Nymphalidae, Papilionidae dan Pieridae.

SURILI

 

Adapun hasil dari kegiatan ekspedisi Surili 2017 akan diseminarkan secara nasional dalam Seminar Nasional HIMAKOVA dengan bentuk luaran berupa laporan ilmiah, laporan semi popular dan video documenter hasil ekspedisi.

SEKILAS TENTANG PANGLIMA BURUNG RANGKOVA (MASKOT COVA CUP 2017)

Posted on Leave a commentPosted in IPB

RANGOA

RANGKOVA adalah nama mascot COVA CUP 2017, RANGKOVA merupakan akronim Rangkong Badak Konservasionis. Rangkova adalah seekor burung dengan jumlah bulu 10 yang menunjukkan jumlah cabang olahraga pada COVA CUP 2017. Badan Rangkong Badak terdapat bola voli yang melambangkan salah satu cabang olahraga yang ada di COVA CUP 2017. 2 sayap pada Rangkong badak melambangkan api yang menunjukkan bahwa pada COVA CUP 2017 terdapat cabang olahraga Bola api. Rangkong Badak dipilih sebagai mascot COVA CUP Karena Rangkong bagi suku Dayak merupakan salah satu tanda kedekatan masyarakat Nusantara dengan alam sekitar. Rangkong adalah lambang kesucian, kekuatan, dan kekuasaan. Kebiasaannya yang hinggap di tempat tinggi disimbolkan layaknya pemimpin, seseorang yang selalu di tempat tertinggi. Suaranya yang menggelegar dianggap sebagai simbol seorang pemimpin yang selalu didengar rakyatnya. Sayapnya yang tebal sebagai simbol pemimpin perkasa yang dapat melindungi rakyatnya. Rangkong badak sebagai maskot Covacup 2017 diharapkan dapat menjadikan civitas DKSHE sebagai sosok pemimpin yang dihormati dan memberikan manfaat bagi masyarakat yang dipimpinnya.

PRESS RELEASE HIMAKOVA : MANSION 2017

Posted on Leave a commentPosted in IPB

MANISON

Hari Jumat, 28 April 2017, civitas DKSHE mulai dari dosen, staf, hingga mahasiswa lama dan baru dari angkatan 54 hingga 50 up duduk bersama dalam Auditorium Silva Pertamina untuk menghadiri acara Malam Apresiasi Konservasionis (MANSION) 2017. Acara ini bertemakan Spooktacular Night yang membawa para penonton merasakan sensasi berpesta di Grand Opening Hotel Transylva Pertamina

Acara dihadiri pembina HIMAKOVA Dr.Ir. Agus Hikmat, MSc.F beserta dosen-dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata lainnya. MANSION 2017 menampilkan berbagai penampilan dari penampilan masing-masing angkatan dan juga penampilan pengurus. Terlihat mahasiswa baru angkatan 54 sangat antusias dalam menampilkan drama tentang memaknai perjuangan pahlawan, tidak kalah juga penampilan dari angkatan lainnya yang juga memeriahkan suasana pada malam itu.

MANISON 2

Acara ini diharapkan dapat menjadi wadah para civitas DKSHE untuk mengapresiasi seni dan juga menjadi ajang silaturahmi seluruh civitas DKSHE.

Pepohonan Bisa Bantu Mengurangi Dampak Seismik Gempa

Posted on Leave a commentPosted in IPB

Capture

Para ilmuwan sedang bekerja keras di sebuah hutan cemara dekat desa Mimizan di barat daya Perancis. Mereka melakukan eksperimen skala besar tentang pengaruh pohon pada gelombang seismik

Basis para peneliti itu berada di bagian lain Perancis, yaitu di laboratorium ilmu kebumian ISTerre di Grenoble. Pakar fisika di institut itu menemukan sesuatu yang mengejutkan.

Dalam eksperimen yang bertujuan untuk menstimulasi guncangan di permukaan bumi, mereka menciptakan getaran pada sebuah lempengan logam yang dihubungkan dengan batang logam yang posisinya vertikal.

Pakar gempa bumi Mathieu Rupin dan Philippe Roux menemukan bahwa di titik tempat kedua benda bertemu, getaran diredam signifikan. Itu disebut area hijau. Kedua orang ilmuwan memutuskan, mengulang eksperimen dengan skala lebih besar, yaitu dengan pohon-pohon. Tujuannya untuk melihat apakah pohon bisa mengurangi perambatan getaran seismik di dalam tanah.

Sensor gelombang seismik

Awalnya tim itu menggali tanah di sekitar pohon untuk mencari tahu komposisi tanah dan kondisi fisiknya. Mereka hendak menentukan, apakah tanah menyerap getaran yang direkayasa di kawasan itu.

Pakar gempa Philippe Roux menjelaskan: “Itu tantangannya — untuk mencari tahu apakah eksperimen di lapangan menunjukkan bahwa fenomena fisika yang kami demonstrasikan sama hasilnya, tak peduli materinya. Apakah fisika penyebaran gelombang tetap berlaku, walaupun ada perbedaan?”

Mula-mula para ilmuwan meneliti tanah dengan radar sehingga nanti mereka bisa memperhitungkan ketidakteraturan yang mereka catat. Gelombang radar menembus tanah hingga kedalaman dua meter.

Tim memasang hampir 1.000 sensor seismik ke dalam tanah, separuh di dalam hutan, dan separuhnya lagi di lahan di dekatnya. Mereka juga memasang sensor pada pohon-pohon. Philippe Guégen yang bertanggung jawab. Ia spesialis gempa bumi.

Ia biasanya menempatkan sensor pada bangunan, untuk melihat bagaimana reaksinya terhadap gelombang seismik. Dalam waktu tiga hari, semua sensor sudah ditempatkan dan dites.

Rekayasa getaran

Sekarang, yang diperlukan adalah gelombang seismik. Gelombangnya diciptakan generator getaran yang bisa diprogram dan portabel. Silinder seberat 70 kilogram bergetar sesuai kebutuhan. Tim peneliti menyebut generator portabel itu R2D2 karena sosoknya mirip robot dalam film Star Wars itu.

Tentu generator ini tidak bisa meniru sempurna getaran besar seperti saat terjadi gempa bumi. Tapi mencukupi untuk eksperimen ini. R2D2 mulai bekerja, dan sensor mengumpulkan data. Pola sebaran getaran normal dan tak terganggu apapun di lahan terbuka, tetapi berkurang drastis di dalam hutan. Jadi apakah hasil eksperimen sudah membenarkan asumsi para peneliti?

“Kami belum menganalisa data yang terkumpul. Tapi efek yang tampak, sesuai dengan dugaan kami. Pengamatan awal  menimbulkan dugaan, bahwa hutan bereaksi seperti sekelompok resonator, dan melemahkan gelombang. Mungkin hutan bisa memunahkan getaran sepenuhnya,” papar pakar gempa Philippe Roux.

Menyelamatkan nyawa

Riset ini diharap bisa menghasilkan cara baru untuk menanggapi guncangan sesungguhnya dan untuk jangka panjang bisa menyelamatkan nyawa jika terjadi gempa bumi.

Pakar gempa  Philippe Guégen menjelaskan lebih jauh: “Orang bisa menarik analogi misalnya untuk daerah pemukiman, di mana bangunan yang bergetar, seperti halnya pohon. Jumlahnya banyak, dan berreaksi serta melemahkan gelombang seismik. Untuk jangka panjang, idenya adalah mengadakan eksperimen untuk melihat apakah kita bisa menerapkan apa yang diamati di hutan ke daerah perkotaan. Serta menciptakan struktur perkotaan yang bisa membantu melindungi dari getaran seismik.”

Tampaknya cukup menjanjikan, tapi jalannya masih panjang. Mulai dari pohon cemara di Mimizan ke pembuatan mantel untuk melapisi gedung-gedung perkotaan dan menjaganya dari gempa bumi.