HARI KATAK SEDUNIA – 20 MARET

Posted on Leave a commentPosted in IPB

hari katak

Oleh: Rahmadi Aulan

Hari katak sedunia diperingati tanggal 20 maret,walaupun belum memiliki tanggal pasti penetapannya. Adanya peringatan hari katak ini diperkenalkan pertama kali oleh organisasi/ komunitas  save the frogs pada tanggal 28 april  2009. Peringatan hari katak sedunia megawali tonggak sejarah gerakan konservasi katak  didunia dari laju kepunahan yang semakin cepat. Acara ini merupakan acara terbesar konservasi katak dan pendidikan lingkungan hidup  tentang katak. Katak merupakan salah satu amfibi yang digolongkan dalam ordo anura, dikelompokkan berdasarkan habitat dan kebiasaan hidup, yaitu terestrial, arboreal, akuatik, dan fossorial. Setidaknya tercatat 436 jenis katak yang hidup di Indonesia dan 20%  diantaranya adalah endemik, sehingga memeiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi terhadap kepunahan.

Katak memiliki wilayah penyebaran yang luas pada semua habitat daratan dan air tawar, seperti pemukiman penduduk, pepohonan, daerah sepanjang aliran sungai, persawahan, dan hutan primer hingga sekunder. Secara garis besar, populasi jenis  katak rentan terhadap kepunahan yang tinggi dibandingkan dengan taksa lainya. Laju kepunahan jenis katak akan semakin cepat seiring dengan banyaknya pembukaan wilayah hutan untuk kepentingan manusia yang semakin tidak terbatas. Kepunahan katak di alam disebababkan oleh adanya penangkapan berlebih untuk keperluan konsumsi. Tercatat sebanyak 4 jenis katak yang dikonsumsi, seperti Fejervarya cancrivora, Fejervarya limnocharis, Limnonectes macrodon, dan Rana castesbeina. Laju penurunan populasi katak juga dipengaruhi oleh adanya virus maupun jamur yang menyerang kulit katak. Selain itu, kerusakan habitat berupa hilangya lahan basah, pencemaran, spesies introdusir , dan kecacatan pada katak  juga mempunyai peran yang nyata terhadap laju kepunahan katak (Kusrini 2007).

Keberadan jenis katak di alam tidak hanya sebagai pengendali keseimbangan ekosistem saja, akan tetapi keberadan populasi katak ini juga berperan sebagai  sumber perekonomian. Beberapa jenis katak yang apabila dikelola dengan baik akan menghasilkan nilai perekonomian yang tinggi. Indonesia merupakan negara yang tercatat sebagai salah satu pengekspor paha katak beku terbesar di dunia. Rata-rata Indonesia mengekspor 4 juta kg/tahun dengan pasar utama Eropa dimana 80% merupakan spesies yang diambil dari alam, sehinnga memerlukan penanganan serius terhadap kegiata ini.

Momen peringatan hari katak sedunia ini merupakan suatu bentuk introspeksi diri kita terhadap alam dan makluk hidup lainya. Melalui momen ini, mari bersama kita berkaca kebelakang dan melihat kedepan tentang perilaku dan gaya hidup kita yang memberikan dampak positif dan negatif tentang alam sekitar kita. Hari katak sedunia ini merupakan bentuk evaluasi kita tentang sejauh mana keberhasilan program konservasi katak ini sehingga dapat dijadikan cerminan kegitan konservasi yang tepat terhadap  katak kedepannya. Peringatan hari katak sedunia ini juga  menjadi semangat perjuangan para konservasionis dan herpetologist untuk terus meningkatkan kemampuan untuk menjamin bahwa anak cucu kita kelak akan melihat katak di alam bebas.

“Tetap lestarikan hutan, terus gelorakan konservasi maka Tuhan akan bersama kita”

Kusrini MD. 2007. Konservasi amfibi di Indonesia : masalah global dan tantangan. Jurnal media konservasi 12(2) : 89-95.

FacebookTwitterGoogle+LineGoogle GmailShare

Hari Bakti Rimbawan ke-36: Hutan Untuk Kesejahteraan Rakyat dan Lingkungan Sehat.

Posted on Leave a commentPosted in IPB

134081

Oleh: Yulia Raudhatul BZ

Salam Rimbawan!

Keputusan yang pasti dalam menjalani kehidupan seorang Rimbawan haruslah diimbangi dengan kerja nyata, sebagai bentuk realisasi atas janji dan bakti. Proses belajar tentang teori pendidikan dan kehidupan tidak habis didapat dari masa sekolah, perkuliahan, bahkan dunia kerja. Mendapat gelar Lulusan Kehutanan yang kemudian menjadikan kita dipercaya sebagai sosok Rimbawan tidak lantas membuat permasalahan Kehutanan yang pelik saat ini secara mudah terselesaikan. Kompleksitas sebab akibat problematika Kehutanan terutama konflik yang terjalin dari pihak-pihak tertentu, memicu timbulnya masalah baru di masyarakat, sebagai subjek yang bersentuhan langsung dengan hutan. Pentingnya niat yang murni dalam mendedikasikan jiwa dan raga untuk mengurus dan mengelola hutan demi tercapainya cita-cita mulia, terutama masyarakat yang sejahtera dan kelestarian lingkungan yang terjaga, menjadi perlu dilibatkannya seluruh pengisi komponen yang saling berhubungan secara aktif.

Wahai Para Rimbawan

                Peringatan Hari Bakti Rimbawan Ke-36, pada 16 Maret 2019 saat ini mengambil tema “Hutan Untuk Kesejahteraan Rakyat dan Lingkungan Sehat ”. Dinamika kehutanan Indonesia telah mengalami fluktuasi yang sering tidak terduga oleh masyarakat karena aktor dari pemangku kekuasaan menjadi faktor kemerosotan penegakan hukum yang masih lemah, rumit, dan hanya sebagai formalitas belaka. Maka di tahun 2019 ini, sejak empat tahun pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bergabung menjadikan ruang lingkup kerja kementrian bersinergi. Penanganan masalah kehutanan dan lingkungan hidup secara koheren dapat diaktualisasikan lebih baik. Orientasi proyek kerja secara fokus mengatasi dua isu, yaitu green issues dan brown issues. Green Issues berkenaan dengan soal-soal hutan seperti produksi, konservasi, penghijauan, deforestasi, tumbuhan dan satwa liar, dan lain-lain. Brown Issues berkenaan dengan soal-soal lingkungan seperti pencemaran, sampah, dan lain-lain.

                Sejak tahun 2018-2019, pencapaian kinerja KLHK dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat lewat Perhutanan Sosial, yaitu sistem pengelolaan hutan lestari yang dilaksanakan dalam kawasan hutan negara, hutan hak atau hutan adat yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat maupun masyarakat hukum adat, sebagai pelaku utama untuk meningkatkan kesejahteraannya, keseimbangan lingkungan dan dinamika sosial budaya dalam bentuk Hutan Desa, Hutan Kemasyarakatan, Hutan Tanaman Rakyat, Hutan Rakyat, Hutan Adat,  dan Kemitraan Kehutanan. Nilai perhutanan sosial yang mengemuka dan diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan dari rancangan pelestarian hutan dan lingkungan dengan menyejahterakan masyarakat diantaranya adalah pemanfaatan untuk kesejahteraan (hasil hutan kayu, hasil hutan bukan kayu, jasa lingkungan), partisipasi dan kapasitas masyarakat, produktivitas rakyat, menjaga lingkungan dan fungsi alam, serta jiwa konservasi dan perlindungan hutan, suksesi, keseimbangan/homeostasis dan kesadaran untuk preservasi, restorasi, dan rehabilitasi. Target ideal akses seluas 12.7 -13.8 juta Ha, maka untuk periode 2015-2019 diproyeksikan target penyelesaian sekitar 3.5 juta ha, dan diproyeksikan selanjutnya pada 2020-2024 seluas 5 juta Ha.

                Kualitas masyarakat yang mampu sejalan dengan peningkatan kesejahteraan dianggap dapat mendorong perubahan kondisi lingkungan yang jauh lebih baik. Pergeseran paradigma masyarakat tentang kualitas hidup mereka secara otomatis langsung membuat masing-masing individu merasa butuh dan memiliki akan sumberdaya alam yang lestari guna memenuhi kebutuhan mendatang. Pergerakan dari masyarakat yang telah sadar akan hal itu menginisiasi aksi yang mengajak masyarakat lain untuk ikut bergabung dan berkolaborasi dalam peduli akan lingkungan. Pergerakan ini dapat dimulai dari hal kecil dan sederhana, mulai dari kebiasaan sehari-hari sampai aktivitas khusus yang dilakukan bersama-sama. Mulai dari mengurangi penggunaan Single Use atau barang-barang yang digunakan sekali terutama bahan plastik, hingga gerakan bersih-bersih laut sebagai upaya pengendalian sampah platik yang telah dilakukan di Bali, Labuan Bajo, dan beberapa pantai yang juga menjadi objek wisata.

                Aksi pergerakan itu hanya sebagian contoh kecil dari upaya kita sebagai Rimbawan dalam mengisi dan berpartisipasi aktif untuk lingkungan. Masih banyak kesempatan kita untuk terus mengeksplorasi upaya inovasi dalam mendukung dan mewujudkan cita-cita bangsa, karena bakti kita sebagai Rimbawan dapat dilihat dari apa yang sudah kita berikan untuk sekitar. Rimbawan adalah sosok yang kuat dalam identitas, skill, perspektif berpikir, solidaritas dan bergotong-royong. Rimbawan juga sosok yang teguh dan tangguh, kuat dan disiplin dalam kerja dan pantang surut dalam menghadapi tantangan di lapangan. Maka teruslah maju dalam memajukan Indonesia dengan jiwa korsa yang satu, demi bangsa yang bersatu.

HARI STRATEGI KONSERVASI SEDUNIA – 6 MARET

Posted on Leave a commentPosted in IPB

126561

Oleh: Arif Satrio Budiman

 

Konservasi tidak hanya berbicara tentang tiga prinsip dasar (Perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan) yang berjalan diatasnya. Konservasi lebih dari hanya sekedar menyelamatkan satwa yang terancam punah ataupun menanam kembali pohon yang ditebang secara sengaja. Konservasi mempunyai seribu makna yang harus kita ketahui setiap makna yang ada, karena dengan mengetahui maknanya kita akan lebih mudah dalam menjalankan prinsipnya.

Tempat kita tinggal, Indonesia merupakan salah satu negara yang dianugerahi kekayaan alam yang berlimpah sebagai modal dasar dalam pembangunan nasional. Indonesia memiliki kawasan konservasi dengan luas ±27 juta hektar dan dengan sumberdaya alam yang luar biasa tentunya kita harus berupaya melakukan perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan secara bijaksana terhadap sumberdaya alam yang ada. Di Indonesia penyelenggaraan upaya konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistem merupakan tanggung jawab pemerintah yang diwakilkan oleh Direktorat Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Tentu saja dalam pelaksaaannya konservasi tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja yang dalam hal ini adalah Pemerintah, tetapi pelaksanaan konservasi perlu dilakukan secara bersama-sama karena konservasi bukanlah hal yang mudah. Bicara mengenai konservasi dan ketiga prinsip dasar yang berjalan diatasnya kita tidak bisa melaksanakannya tanpa strategi, Pemerintah sendiri melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menyusun pedoman dan acuan dalam melaksanakan langkah-langkah strategis dalam pelaksaaan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistem.

Strategi dalam konservasi sangat penting untuk memastikan konservasi dapat berjalan pada arah yang benar, mencapai tujuan dan sasarannya secara efektif dan efisien, serta tercapainya multi manfaat keanekaragaman hayati yang ada. Direktorat Jenderal KSDAE sendiri memiliki beberapa nilai strategis yaitu pengelolaan dan pemangkuan kawasan hutan, kawasan konservasi sebagai benteng terakhir, potensi jasa ekosistem, serta konvensi dan kesepemahaman internasional.

Strategi konservasi tidak bisa diterapkan dalam satu negara atau wilayah saja, ada baiknya strategi konservasi dilakukan secara komprehensif dan terintegrasi dengan seluruh kawasan di dunia, mengingat setiap sistem ekologis memiliki ketergantungan wilayah, dan dunia internasional sendiri pernah mengalami kemunduran terhadap kekayaan sumberdaya alam dikarenakan banyaknya pembangunan dinegara berkembang.  Permasalahan dibidang pemanfaatan sumberdaya alam yang berlebihan, karena tidak diterapkannya prinsip pemanfaatan secara berkelanjutan membuat kita sangat perlu menerapkan strategi konservasi untuk tetap menjaga kelestarian alam.

Setiap manusia pastinya berharap generasi yang akan datang tetap dapat menikmati kekayaan alam yang ada, oleh karena itu marilah kita melaksanakan prinsip-prinsip dasar konservasi dan juga melakukannya dengan penuh strategi agar harapan dan tujuan kita dapat tercapai. Selamat Hari Strategi Konservasi Sedunia, semoga sumberdaya alam hayati yang telah kita perjuangkan dapat memberi manfaat yang sangat baik kedepannya. “Karena sejatinya manusia takkan pernah bisa terlepas dari alam, dan alam takkan pernah terganggu tanpa adanya manusia” Anonim.

 

Sumber : Rencana Strategis Tahun 2015-2019 (Direktorat Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem)

Hari Kehidupan Liar Dunia (World Wildlife Day) 2019

Posted on Leave a commentPosted in IPB

fix wwd

     Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (the United Nations General Assembly (UNGA)) pada 20 Desember 2013 menetapkan tanggal 03 Maret setiap tahunnya sebagai Hari Kehidupan Liar Dunia untuk memperingati dan meningkatkan kesadaran warga dunia terhadap hewan dan tumbuhan liar. 03 Maret dipilih sebagai Hari Kehidupan Liar Dunia bertepatan dengan hari penandatanganan Konvensi Perdagangan Internasional Tumbuhan dan Satwaliar Spesies Terancam atau CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). Hari Kehidupan Liar Dunia menjadi global event tahunan paling penting yang didedikasikan untuk kehidupan liar. Tema Hari Kehidupan Liar Dunia pada tahun 2019 adalah “Life below water: for people and planet” atau “Kehidupan bawah air: untuk manusia dan planet” yang merupakan salah satu dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Tahun 2019 merupakan pertama kalinya Hari Kehidupan Liar Dunia fokus kepada kelestarian kehidupan liar di lautan.

      Dalam Living Planet Report 2018 oleh WWF, Organisasi Pangan dan Pertanian atau FAO (Food and Agriculture Organization) memperkirakan bahwa perikanan dan budidaya perairan menjadi sumber penghidupan bagi 10-12% masyarakat dunia dan 4.3 milyar manusia bergantung pada ikan sebagai 15% dari total konsumsi protein mereka (FAO 2014). Tiga habitat kunci bagi kehidupan liar laut yang saat ini mengalami degradasi terparah adalah terumbuh karang, hutan mangrove, dan padang lamun. Sebagai dampak dari pemutihan karang terburuk sepanjang sejarah pada tahun 2016 adalah kematian massal dari spesies terumbu karang yang cepat tumbuh dan memiliki bentuk kompleks yang menyediakan habitat bagi banyak hewan laut. Terumbu karang ini tergantikan oleh jenis terumbu karang yang tumbuh lambat dan hanya mampu menjadi habitat bagi lebih sedikit hewan laut. Kejadian ini secara drastis mengubah komposisi spesies dari 29% dari 3863 spesies karang yang hidup di Karang Penghalang Besar (Great Barrier Reef) (Hughes et al. 2018). Ancaman lain bagi terumbu karang adalah penangkapan ikan berlebihan, praktik penangkapan ikan yang selektif dan destruktif, serta polusi yang mengotori perairan terumbu karang yang mengancam kesehatan terumbu karang (Hughes et al. 2003).

      Hutan mangrove merupakan aset penting bagi masyarakat yang hidup di pinggir laut sebagai penghalang alami dari badai dan abrasi (Spalding et al. 2010; Cummings dan Shah 2017). Hutan mangrove juga sangat penting dalam sekuestrasi karbon dunia dengan kemampuan untuk menyimpan karbon lima kali lebih besar dibandingkan hutan tropis (Donato et al. 2011) serta merupakan tempat pemijahan bagi banyak spesies ikan. Padang lamun merupakan salah satu dari ekosistem paling terancam di dunia. Padang lamun adalah kumpulan tumbuhan berbunga yang hidup di perairan laut intertidal hingga kedalaman 90 m yang ada di seluruh benua di dunia kecuali Antartika (Short et al. 2016). Padang lamun memberikan banyak manfaat bagi manusia antara lain sebagai habitat yang mendukung perikanan komersial maupun subsisten, daur ulang nutrisi, stabilisasi sedimen, serta menjadi sekuestrasi karbon global yang signifikan (Waycott et al. 2009). Kehidupan di daratan sangat memengaruhi kehidupan di lautan terutama dalam hal polusi dan sampah kita yang mengalir ke lautan. Oleh karena itu, kita juga dapat berperan menjadi kelestarian kehidupan liar di laut dengan membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan serta mengurangi pemanasan global dengan mengurangi pemakaian listrik dan kendaraan bermotor. Yuk, selamatkan bumi dari hal-hal kecil!

Daftar Pustaka

Cummings AR, Shah M. 2017. Mangroves in the global climate and environmental mix. Geography Compass. 12:                   e12353.

Donato DC et al. 2011. Mangroves among the most carbon-rich forests in the tropics. Nature Geoscience. 4: 293.

FAO. 2014. The State of World Fisheries and Aquaculture 2014: Opportunities and challenges. Rome (IT): UN                     Food and Agriculture Organization (FAO).

Hughes TP et al. 2003. climate change, human impacts, and the resilience of coral reefs. Science. 301: 929.

Hughes TP et al. 2018. Global warming transforms coral reef assemblages. Nature. 556: 492-496.

Spalding M, Kainuma M, Collins L. 2010. World Atlas of Mangroves. London (UK): Earthscan.

Short FT, Short CA, Novak A. 2016. Seagrasses. Dalam: The Wetland Book II: Distribution, Description and                            Conservation. Milton GR, rentice RC, Davidson NC, editor. Berlin (GR): Springer Science.

Waycott M et al. 2009. Accelerating loss of seagrasses across the globe threatens coastal ecosystems. Proceedings of 
            the National Academy of Sciences.
106: 12377.

WWF. 2018. Living Planet Report – 2018: Aiming Higher. Grooten M, Almond REA, editor. Gland (CH): WWF.

INTERNATIONAL POLAR BEAR DAY

Posted on Leave a commentPosted in Mamalia

beruang

     Hari Beruang Kutub Internasional atau International Polar Bear Day adalah hari untuk meningkatkan dan menyebarluaskan kesadaran masyarakat kepada nasib beruang kutub yang semakin hari semakin terancam kelestariannya. Hari ini  diinisiasi oleh organisasi Polar Bears International (PBI) dan diperingati pada tanggal 27 Februari setiap tahunnya. Beruang kutub (Ursus maritimus) memiliki status konservasi “Rentan” atau Vulnerable (VU) menurut IUCN (The International Union for Conservation of Nature) (Wiig et al. 2015).

     Penyebab utama dari semakin menurunnya populasi beruang kutub adalah semakin sempitnya habitat. Habitat beruang kutub mayoritas berupa bongkahan es tebal di Kutub Utara yang mencair akibat suhu air laut yang meningkat sebagai salah satu dampak dari fenomena pemanasan global (global warming). Bongkahan-bongkahan es berperan sebagai platform bagi beruang kutub untuk berkembangbiak dan berburu (Stirling dan Latour 1978), serta sebagai tempat berirstirahat antara lokasi sarang, berburu, dan berkembangbiak ketika lokasi-lokasi ini berjauhan satu sama lain (Amstrup 2003). Semakin sedikitnya bongkahan es menyebabkan beruang kutub harus berenang lebih lama tanpa istirahat yang dapat menyebabkan kematian akibat kelelahan atau tenggelam saat badai. Selain itu, beruang kutub juga terpaksa untuk tinggal di daratan lebih lama yang dapat mengakibatkan meningkatnya konflik dengan manusia. Mangsa utama beruang kutub yaitu anjing laut yang hidupnya juga sangat tergantung pada bongkahan es mengakibatkan penurunan jumlah bongkahan es juga mendorong turunnya populasi anjing laut (NRDC 2010).

     Hal lain yang mengancam beruang kutub adalah polutan kimia di laut. Beruang kutub diklasifikasikan sebagai mamalia laut akibat tergantungannya yang besar terhadap sumber pakan yang berasal dari laut. Beruang kutub berada pada tingkat teratas piramida ekologi (top predator) di ekosistemnya dan terutama mengkonsumsi lemak dari mangsanya. Polutan kimia yang berada di laut diantaranya adalah organochlorine yang bersifat sangat lipophilic (mudah terikat dengan lemak) dan sulit terurai secara alami (Muir et al. 1988; Barrie et al. 1992). Oleh karena itu, beruang kutub menerima akumulasi terbesar dari senyawa-senyawa kimia yang terkandung dalam mangsanya (biomagnification) (Stirling 2009). PCB (polychlorinated biphenyl) dan Hg (merkuri) adalah beberapa senyawa yang dapat ditemukan di dalam tubuh beruang kutub (Andersen dan Aars 2016; Born et al. 1991). PCB adalah senyawa yang dibuat untuk digunakan pada barang-barang elektronik. Senyawa-senyawa ini dapat berdampak pada sistem hormon dan sistem reproduksi beruang kutub yang secara langsung menurunkan kemampuan burung kutub untuk berkembangbiak.

      Berita mengenai 52 ekor beruang kutub yang “menginvansi” desa Belushya Guba di Kepulauan Novaya Zemlya, Rusia pada akhir 2018 hingga Februari 2019 mengakibatkan perang opini antara berbagai pihak. Sebenarnya siapakah yang “menginvansi”? Manusia atau beruang kutub? Seperti halnya berita harimau sumatera ‘Bonita’ yang sempat menjadi berita hangat pada tahun 2018 karena diduga menewaskan pekerja perkebunan kelapa sawit di Riau, apakah ‘Bonita’ yang memulai konflik? Beruang kutub-beruang kutub Rusia ini dikabarkan mengais tempat sampah untuk mendapatkan makanan. Berdasarkan wawancara kepada Ian Sterling, peneliti yang telah bekerja bersama beruang kutub selama lebih dari 45 tahun, hal ini diakibatkan bongkahan es di bagian barat Kepulauan Novaya Zemlya, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya pada waktu yang sama, belum juga terbentuk sehingga beruang kutub tidak dapat berburu (Becker 2019). Peristiwa ini semakin menunjukkan dampak pemanasan global terhadap beruang kutub dan juga kehidupan manusia.

     Beruang kutub yang hidup jauh di Kutub Utara terasa sangat tidak relevan dengan kehidupan kita sebagai masyarakat Indonesia, namun pemanasan global adalah hasil akumulasi dari tindakan berbagai pihak, termasuk kita. Apa yang dapat kita lakukan untuk membantu pelestarian beruang kutub? Kita dapat mengurangi pemakaian listrik dan kendaraan bermotor yang menghasilkan gas rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan global. Yuk, bantu selamatkan beruang kutub dan satwaliar lainnya dari ancaman pemanasan global!

Daftar Pustaka

Amstrup S. 2003. Polar Bear. Dalam: Wild Mammals of North America: Biology, Management, and Conservation.            Thompson BC, Feldhammer GA, Chapman JA, editor. Baltimore (US): Johns Hopkins University Press.

Andersen M, Aars J. 2016. Barents Sea polar bears (Ursus maritimus): population biology and anthropogenic                        threats. Polar Research. 35 (1).

Barrie LA, Gregor D, Hargrave B, Lake R, Sherer R, Tracey B, Bidleman T. 1992. Arctic contaminants: sources,                      occurrence and pathways. Science of the Total Environment. 122: 1–74.

Becker R. 2019. Why polar bears invaded a Russian village: A combination of climate change and garbage [Internet].            [diunduh pada 2019 Feb 24]. Tersedia pada: https://www.theverge.com/2019/2/12/18222072/polar-bear-                   invasion-novaya-zemlya-russia-garbage-climate-change

Born EW, Renzoni A, Dietz R. 1991. Total mercury in hair of polar bears (Ursus maritimus) from Greenland and                   Svalbard. Polar Research. 9 (7): 113-120.

Muir DCG, Norstrom RJ, Simon M. 1988. Organochlorine contaminants in the Arctic marine food chains:                               accumulation of specific polychlorinated biphenyls and chlordane-related compounds. Environmental                           Science & Technology. 22: 1071–1079.

[NRDC] Natural Resources Defense Council. 2010. Climate Facts: Polar Bear on Thin Ice [Internet]. [diunduh pada               2019 Feb 24]. Tersedia pada: https://www.nrdc.org/sites/default/files/polarbearsonthinice-v2.pdf

Stirling I, Latour PB. 1978. Comparative hunting abilities of polar bear cubs of different ages. Can. J. Zool. 56: 1768–           1772.

Stirling I. 2009. Polar Bear: Ursus Maritimus. Dalam: Encyclopedia of Marine Mammals. Perrin WF, Würsig B,                   Thewissen JGM, editor. Cambridge (US): Academic Press.

Wiig Ø, Amstrup S, Atwood T, Laidre K, Lunn N, Obbard M, Regehr E, Thiemann G. 2015. Ursus maritimusThe                    IUCN Red List of Threatened Species 2015: e.T22823A14871490 [Internet]. [diunduh pada 2019 Feb 24].                      Tersedia pada: http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2015-4.RLTS.T22823A14871490.en.

HARI ZEBRA INTERNASIONAL

Posted on Leave a commentPosted in IPB

zebra internasional

Hari Zebra Internasional jatuh pada tanggal 31 Januari setiap tahunnya. Tidak dapat diketahui secara pasti asal muasal diciptakannya satu hari khusus yang didedikasikan untuk mamalia ini. Namun, satu hal yang dapat dipastikan adalah satwa-satwa yang mendapatkan satu hari peringatan khusus untuk jenisnya disebabkan status konservasi jenisnya yang terancam punah.

Mamalia yang seringkali diidentikkan dengan padang rumput Afrika ini terbagi menjadi tiga jenis yaitu zebra gunung (Equus zebra (Linnaeus, 1758)), zebra dataran (Equus quagga (Boddaert, 1785)), dan zebra primitif atau zebra Grevy (Equus grevyi (Oustalet, 1882)). Di antara ketiga jenis zebra ini, zebra primitif memiliki ukuran tubuh paling besar. Selain itu, zebra primitif memiliki ciri-ciri unik yang membedakannya dengan kedua jenis lainya salah satunya yaitu garis-garis tubuhnya yang terbagi secara merata dan tidak menutupi bagian perutnya serta hidungnya yang memiliki bercak berwarna cokelat (Rubenstein 2004). Zebra yang berada di Taman Safari Indonesia, Cisarua, Bogor adalah jenis zebra dataran.

Teka-teki fungsi adaptasi dari belang hitam dan putih pada tubuh zebra berhasil dipecahkan oleh hasil penelitian Caro et al. (2014) di mana keberadaan belang pada tubuh zebra berfungsi untuk menghindari gigitan lalat tse-tse yang menyebabkan penyakit tidur dan jenis-jenis lalat tabanid yang menyebabkan penyakit swamp fever. Namun, belang hitam dan putih yang indah menjadikan zebra rentan diburu untuk diambil kulitnya sebagai bahan pembuatan sandang dan aksesoris. Zebra Grevy dikategorikan sebagai jenis terancam punah atau Endangered dalam daftar merah IUCN (The International Union for Conservation of Nature). Populasi terbesar zebra Grevy berada di daerah Laipika, Kenya. Hasil penelitian (O’Brien et al. 2018) menunjukkan bahwa ancaman terbesar untuk pemulihan populasi zebra Grevy yang semakin terisolasi adalah degradasi habitat dan kompetisi pakan dengan hewan ternak penduduk.

Mari kita dukung konservasi zebra dan selamat Hari Zebra Internasional!

 

 

 

 

Sumber pustaka:

Caro T, Izzo A, Reiner RC Jr, Walker H, Stankowich T. 2014.  The function of zebra tripes. NATURE              COMMUNICATIONS. 5: 3535.

Rubenstein DI. 2004. Zebra Sociality: Different Stripes for Different Types. Oxford (UK): Balliol College.

O’Brien TG , Kinnaird MF, Ekwanga S, Wilmers C, Williams T, Oriol-Cotterill A, Rubenstein D, Frank LG. 2018. Resolving a conservation dilemma: vulnerable lions eating endangered zebras. PloS ONE [Internet]. [diunduh 2019 Jan 25]; 13 (8): e0201983. Tersedia pada: https://doi.org/10.1371/journal.pone.0201983.

 

World Wetlands Day 2019 : Wetlands and Climate Change

Posted on Leave a commentPosted in IPB

lahan basah

 

Oleh: Yulia Raudhatul Balaqis Zahro

     Keberadaan lahan basah menjadi penyeimbang dalam berbagai siklus kehidupan dan komponen lainnya, terutama menjadi penyediaan air yang sangat krusial bagi kebutuhan makhluk hidup di muka bumi. Lahan basah merupakan tempat yang cukup basah selama waktu cukup panjang bagi pengembangan vegetasi dan organisme lain yang beradaptasi khusus1. kategori lahan basah ini beranekaragam. Terdapat 30 kategori lahan basah alami dan 9 kategori lahan basah buatan. Namun dalam bidang keilmuan tertentu, kategori ini diringkas menjadi 7 satuan bentang lahan yang menjadi fokus utama konservasi lingkungan, yaitu estuari, pantai terbuka, dataran banjir, rawa air tawar, danau, lahan gambut, dan hutan rawa2. Kontroversi dalam menangani isu konservasi lahan basah yang berkepanjangan menjadi perhatian dunia. Eksistensi peranan besar lahan basah yang mencakup penyedia jasa bagi lingkungan baik secara langsung dan tidak langsung, kesejahteraan satwa dan vegetasi, pemelihara mutu lingkungan, serta penopang fungsi dan struktur ekosistem yang sifatnya adalah komoditas renewable.

     Melihat kepedulian manusia dalam menjaga kelestarian lahan basah yang masih mementingkan segi ekonomi lewat pembangunan dan industri secara besar-besaran, mengakibatkan lahan basah banyak dikonversi peran dan fungsinya, sehingga struktur tanah berubah dari semestinya. Kegiatan dominan ini menyebabkan kualitas lahan basah mengalami degradasi, lalu terjadi ketidakseimbangan ekosistem yang berdampak pada kasus lingkungan secara global. Maka beberapa negara di dunia menjadi sadar bahwa aktivitas manusia yang kurang peduli akan keberadaan dan peranan lahan basah sebelumnya adalah penting. Terbentuklah sebuah inisiasi persatuan negara-negara yang melakukan usaha dalam menjadikan lahan basah tetap lestari. Konvensi Ramsar yang telah diselenggarakan pada 2 Februari 1971 di Iran, dan mulai berlaku 21 Desember 1975 adalah langkah awal kepedulian terhadap lahan basah.  Upaya negara-negara pencetus Konvensi Ramsar ini berangkat dari timbulnya dampak buruk terhadap ekosistem. Hingga saat ini anggota Konvensi Ramsar semakin bertambah hingga pada bulan Februari 2018 telah terlibat 170 negara yang menjadi anggota konvensi3. Semakin tahun upaya lewat pergerakan konvensi ini telihat lewat perubahan stigma masyarakat dunia bahwa aktivitas konversi lahan basah bukan hanya menggunakan lahan basah secara lebih baik. Namun upaya konservasi secara optimal menjadi hal utama dalam pelestarian ekosistem lahan basah.

Hari lahan basah sedunia tahun 2019 mengangkat tema “Wetland and Climate Change”. Keterkaitan dari perubahan iklim dunia menjadi salah satu faktor tekanan bagi lahan basah pada sistem hidrologi, perubahan suhu, dan konversi lahan.  Dampak yang bisa diproyeksikan pada peristiwa iklim ekstrem meliputi perubahan aliran dasar hidrologi, peningkatan stres panas satwa liar, jangkauan yang luas dan aktivitas beberapa faktor hama dan penyakit, peningkatan kerusakan alam  berupa banjir dan tanah lonsor, peningkatan erosi, dan ketidakteraturan siklus cuaca dan angin. Dampak dari perubahan ini bisa berbeda di setiap jenis lahan basah yang karakteristiknya, sehingga membutuhkan tahap rehabilitasi dan restorasi yang berbeda.

     Strategi konservasi lahan basah adalah mencegah dan meminimalisir tekanan yang dapat mengurangi kemampuan lahan basah untuk menanggapi perubahan iklim, seperti mempertahankan kualitas hidrologi secara baik, mengurangi polusi, mengendalikan vegetasi eksotis, dan melindungi keanekaragaman hayati lahan basah serta integritas adalah kunci utama dalam meningkatkan ketahanan ekosistem lahan basah, sehingga jasa dan layanan komoditas ini tetap lestari3. Menurut IPCC memperkirakan bahwa suhu global akan naik 1-5oc selama abad ke-21. Suhu akan memengaruhi biota pantai secara langsung dan menyebabkan perubahan curah hujan, mempercepat kenaikan permukaan laut, dan di daerah tropis mendapat lebih banyak panas sehingga pengangkutan uap air yang lebih besar menuju garis lintang yang lebih tinggi. Beberapa hasil penelitian bahkan menunjukkan kekeringan ekstrem dapat menyebabkan perubahan mendadak dan dramatis dalam kelimpahan dan penataan ruang tanaman dominan, pada jenis satwa tertentu dalam kelas aves akan mengalami secara langsung paparan perubahan iklim dan mengakibatkan  siklus sirkadian alami mereka terganggu. Terutama Burung Migran Neotropis akan terpapar perubahan iklim di habitat musim dingin, pengembangbiakan, dan koridor migrasi.

      Menanggulangi dampak dari perubahan iklim terhadap kualitas lahan basah salah satunya adalah dengan Pemantauan, elemen penting dari manajemen ekosistem yang diperuntukkan mendeteksi perubahan ekosistem jangka panjang; Pelatihan tenaga ahli dan ilmuwan dalam mengonservasi lahan basah; Upaya pengendalian spesies invasif yang menyebar karena kemampuan adaptasi tinggi mereka, dan menyebabkan gangguan terhadap spesies asli; Restorasi dan pengelolaan lahan basah dengan memasukkan osilasi iklim yang diketahui guna mendukung proses pemantauan dan restorasi; Sosialisasi bagi sektor publik dan swasta dalam memikirkan urgensi lahan basah di dunia yang menyokong keseimbangan kehidupan.

       Peringatan Hari Lahan Basah Dunia 2019 ini mengajak kita semua untuk mengambil peran untuk turut ikut serta memaksimalkan kontribusi dan partisipasi dalam mencegah kerusakan bumi akibat perubahan iklim global yang tak hanya akan mencairkan kutub utara, membuat bumi semakin panas, menjadikan laut mengalami perubahan suhu air, ataupun Coral Bleaching. Namun tanpa menutup kemungkinan, keterancaman ekosistem lahan basah di seluruh dunia akan mengalami ketidakseimbangan terutama bagi sistem hidrologi dan hilangnya habitat satwa endemik lahan basah.

  1. Maltby E. 1986. Waterlogged Wealth, An Earthscan Paperback. London
  2. Dugan PJ. 1990. Wetland Conservation. Gland, Switzerland: The World Conservation Union
  3. Kusler J, Brinson M, Niering W, Patterson J, Burkett V, Willard D. 1999. Wetlands and climate change: scientific knowledge and management options. White Paper Institute for Wetland Science and Public Policy. Association of Wetland Managers/Wetland International, Berne Ferrati R, Canziani GA, Moreno DR. 2005. Estero del Ibera: hydrometeorological and hydrological characterization. Ecol Model (186):3–15

HARI PRIMATA NASIONAL

Posted on Leave a commentPosted in IPB

hari primata

Oleh: Salwa Nadhira

Hari Primata Indonesia 2019: Stop Berburu Primata!

                Mayoritas masyarakat Indonesia tidak mengetahui bahwa Hari Primata Indonesia diperingati pada tanggal 30 Januari setiap tahunnya. Wajar saja sebab tidak ada peraturan pemerintah yang secara resmi mendedikasikan tanggal tersebut untuk meningkat kesadaran masyarakat terhadap konservasi primata-primata Indonesia. Meskipun demikian, bukan berarti hari tersebut dicanangkan tanpa alasan. Alasan utama mengapa primata-primata Indonesia mendapatkan hari peringatan tersendiri adalah fakta bahwa Indonesia memiliki kurang lebih 40 jenis primata dari lebih 200 jenis primata yang terdapat di dunia. 24 jenis diantaranya merupakan mamalia endemik, yang berarti mamalia tersebut hanya ada Indonesia. Namun, hampir semua jenis mamalia ini berstatus terancam punah.  32 jenis dari 40 jenis primata yang ada di Indonesia telah tercatat dalam Daftar Merah IUCN (The International Union for Conservation of Nature) (Fauzi et al. 2017). 4 jenis mamalia Indonesia bahkan masuk ke dalam daftar “25 Primata Terlangka Dunia 2016-2018” yaitu monyet ekor babi atau simakobu (Simias concolor), kukang jawa (Nycticebus javanicus), monyet hitam sulawesi atau yaki (Macaca nigra), dan orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) (Schwitzer et al. 2017).

           Tema yang diangkat pada Hari Primata Indonesia tahun ini adalah “Stop Berburu Primata!”. Perburuan yang bertujuan untuk menjual satwa sebagai hewan peliharaan menjadi ancaman utama bagi kelestarian primata. Berdasarkan laporan ProFauna (2012) mengenai Perdagangan Primata di Palembang, Sumatera Selatan yang merupakan salah satu pusat perdagangan satwa liar di Sumatera ditemukan berbagai jenis primata yang diperdagangkan antara lain kukang (Nycticebus sp.), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), siamang (Hylobates syndactylus), Ungko (Hylobates agilis) dan lutung jawa (Trachypithecus auratus). Penurunan populasi kukang jawa di alam disebabkan meningkatnya perdagangan hewan kesayangan (pet animals) dalam beberapa tahun terakhir (Nekaris dan Campbell 2012). Hal ini diperburuk dengan efek media sosial yang mendorong masyarakat untuk memelihara satwaliar. Eksploitasi satwaliar di media sosial sudah menjadi suatu isu internasional. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa memperlihatkan keberadaan satwa-satwa di lingkungan manusia (foto dan video bersama manusia misalnya) meningkatkan anggapan bahwa satwa-satwa tersebut bukan merupakan satwa langka sehingga dapat dijadikan hewan peliharaan (Kitson dan Nekaris 2017). Hasil penelitian Nekaris et al. (2013) pada isi komentar-komentar video YouTube berjudul ‘Tickling Slow Loris’ yang menampilkan ‘kelucuan’ kukang menunjukkan bahwa banyak dari komentar-komentar yang ada berisikan keinginan untuk memiliki kukang sebagai hewan peliharaan tanpa disertai peningkatan kepedulian terhadap konservasi dan ekologi kukang.

          Meski media sosial dapat berampak negatif terhadap satwaliar, media sosial juga dapat digunakan sebagai media kampanye konservasi satwaliar. Akun Instagram Kukangku adalah aktivis yang menjadikan Instagram sebagai media untuk melakukan perlawanan terhadap pemeliharaan kukang. Kukangku melakukan pengintaian dan pengawasan terhadap masyarakat yang memamerkan kukang di Instagram (Herlambang 2017). Oleh karena itu, mendukung kegiatan konservasi dapat dilakukan dengan cara yang mudah, salah satunya dengan memanfaatkan media sosial untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap konservasi satwaliar. Yuk, gunakan media sosial secara bijak, salah satunya dengan menyuarakan pesan-pesan konservasi primata Indonesia. Selamat Hari Primata Indonesia!

Sumber Pustaka:

Herlambag RPT. 2017. Media Sosial sebagai Bentuk Edukasi terhadap Pemeliharaan Satwa Liar Jenis Primata   Kukang [skripsi]. Depok (ID): Universitas Indonesia.

Fauzi F, Rahmawati R, Sandan P. 2017. Estimation of population density and food sort of kelasi (Presbytis rubicunda Muller 1838) in Nyaru Menteng Arboretum of Palangka Raya. Jurnal Daun. 4(1): 7–16.

Kitson H, Nekaris KAI. 2017. Instagram-fuelled illegal slow loris trade uncovered in Marmaris, Turkey. Oryx. 51(3): 391–399.

Nekaris KAI, Campbell N.  2012.  Media attention promotes conservation of  threatened asian slow lorises. Oryx. 46: 169−170.

Nekaris KAI, Campbell N, Coggins TG, Rode EJ, Nijman V. 2013. Tickled to death: analysing public perceptions of ‘cute’ videos of threatened species (slow lorises – Nycticebus spp.) on Web 2.0 Sites. PLOS ONE. 8(7).

ProFauna dan International Primate Protection League (IPPL). 2012. Perdagangan Primata di Palembang Sumatera Selatan [Internet]. [dinduh pada 2019 Jan 30]. Tersedia pada: https://www.profauna.net/sites/default/files/downloads/publikasi-2012-perdagangan-primata-di-palembang-sumatera-selatan.pdf

KAMPUS BIODIVERSITAS SEBAGAI IDENTITAS IPB

Posted on Leave a commentPosted in IPB

top 40

Oleh: Rizka Nurul Afifah

IPB Peringkat 2 Nasional UI GreenMetric, Biodiversitas Belum Menjadi Perhatian

Dilansir dari Humas IPB, Rabu (19/12) lalu, IPB baru saja mendapat penghargaan sebagai Top 40 The Most Sustainable University in the World atau peringkat ke-40 universitas paling lestari di dunia versi UI GreenMetric. Adapun untuk skala nasional, IPB menempati peringkat 2, setelah Universitas Indonesia.

UI GreenMetric World University Ranking merupakan pemeringkatan yang dilakukan terhadap universitas-universitas yang ada di seluruh dunia khususnya dalam aspek Green Campus dan kebijakan kampus lestari. Pemeringkatan ini diinisiasi oleh Univeristas Indonesia yang dirilis secara resmi tahun 2010 setelah sebelumnya dilaksanakan International Conference on World University Rankings pada 16 April 2009. Pada konferensi tersebut, turut hadir pula beberapa pakar seperti Isidro Aguillo (Webometrics), Angela Yung-Chi Hou (HEEACT), dan Alex Usher (Kebijakan Pendidikan Kanada).

UI GreenMetric diadakan untuk mempublikasikan hasil survei secara online mengenai kondisi dan kebijakan kampus-kampus di seluruh dunia terkait dengan kebijakan pengelolaan lestari-nya. Dengan demikian, diharapkan para pimpinan universitas akan menaruh perhatian lebih pada kebijakan kampus yang mana akan berhubungan dengan usaha-usaha pengurangan jejak karbon sehingga dapat berkontribusi lebih pada minimalisasi laju perubahan iklim dunia, konservasi energy dan air, pengelolaan limbah dan transportasi hijau.

Pada laman resmi UI GreenMetric, (www.greenmetric.u.ac.id), kriteria dan indikator penetapan pemeringkatan dapat diakses secara bebas. Adapun bobot paling besar dalam penilaiannya ini adalah kategori Energy and Climate Change (EC) (21%) serta yang paling kecil ialah kategori Water Use (WR) sebesar 10%. Sayangnya, aspek biodiversitas belum menjadi bagian dalam kriteria dan indikator pemeringkatan. Padahal, biodiversitas seharusnya menjadi salah satu aspek penting yang dapat menjadi parameter lestari atau tidaknya suatu kampus dalam membentuk kebijakan. Biodiversitas yang dimaksud ialah keanekaragaman sumberdaya biotik seperti keberadaan burung, herpetofauna, flora, dan lain-lain.

IPB sendiri sebetulnya telah mendeklarasikan diri sebagai kampus biodiversitas pada tahun 2016. Menurut Mustari (2016) biodiversitas kampus IPB merupakan pilar utama kampus hijau (Green Campus) yang [seyogyanya] menjadi komitmen seluruh civitas akademika IPB untuk mensukseskannya. Sehingga Kampus Biodiversitas merupakan supporting system dalam kelangsungan green campus. Biodiversitas yang dimiliki kampus-kampus IPB Dramaga telah menjadi bahan kajian penting bagi bagi mahasiswa dan dosen sehingga merupakan laboratorium alam yang tak ternilai harganya. Kampus dengan ruang terbuka hijau yang luas, menjadi tempat yang teduh, nyaman dan aman dalam proses belajar mengajar yang bagi civitas akademika yang niscaya akan menghindarkan mahasiswa dari perilaku anarkis dan perilaku negatif lainnya.

Idealnya, kampus IPB Dramaga dapat menjadi trend setter dan bench mark untuk pengembangan kampus hijau dan kampus biodiversitas di seluruh Indonesia. Mustari (2016) menambahkan, karena keasrian ekosistemnya, kampus ini  sering dikunjungi oleh masyarakat umum serta siswa dari berbagai sekolah dari TK hingga SMA/SMK, sehingga sesungguhnya biodiversitas Kampus IPB Darmaga dapat menjadi biodiversity-edu tourism yaitu wisata pendidikan berbasis biodiversitas agar masyarakat serta generasi muda terdidik semakin memahami arti penting menjaga kekayaan hayati untuk pemanfaatan yang lestari utnuk kepentingan bangsa dan negara.

Sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk terus mengangkat aspek biodiversitas agar terus menjadi perhatian baik pada skala kampus, maupun nasional. (Rzk)

PENYAMBUTAN WISUDAAN16 JANUARI 2019

Posted on Leave a commentPosted in IPB

1548728088567 1548728091189 1548728092924 1548728095401

Bogor, 16 Januari 2019

HIMAKOVA mengucapkan selamat atas kelulusan akang dan teteh wisudawan DKSHE 16 Januari 2019. Selamat datang di gerbang kehidupan yang baru. Semua yang telah didapatkan hari ini semoga mampu mengantarkan hingga ke gerbang yang lebih mulia. “Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia.” Semoga ilmu yang diperoleh dapat bermanfaat dan usaha selama ini berbuah manis di masa depan.

Selamat wisuda! Mike Innayah, Affania Resisty, Anjas Madisha, Febi Maulana Nugraha, Anjumanda Martha Santosa, M. Rizqi Dwi Ramdani, dan Syarifah Puteri Pandini.

PERINGATAN HARI SEJUTA POHON – Pohon dan Manusia

Posted on Leave a commentPosted in IPB

02

 

Oleh Hani Ristiawan

“Pohon adalah syair yang ditulis bumi pada langit. Kita tebang pohon itu dan menjadikannya kertas, dan di atasnya kita tulis kehampaan kita.”

(Kahlil Gibran)

Pernahkah kita membayangkan apa andil pohon untuk kehidupan manusia selain pengasil oksigen, tempat berteduh, bahan baku tisu toilet, atau dahan-dahannya menjadi tempat asyik untuk bermain di masa kecil kita? Pohon melekat erat dengan kehidupan manusia. Bahkan pemaknaan manusia terhadap pohon sebagai salah satu penunjang kehidupan yang penting telah membentuk peradaban manusia.

Pemaknaan pohon menjadi bagian dari banyak budaya, kepercayaan, dan inspirasi manusia sejak dahulu kala. Kita sebut Sidharta Gautama yang memperoleh pencerahan dan kebijaksanaan di bawah pohon budha (Ficus religiosa), legenda Hindu memunculkan adanya Kalpataru atau Pohon Kehidupan, pohon pengetahuan atau pohon kuldi turut mewarnai drama kosmik diturunkannya Adam dan Hawa dari Eden, penggambaran surga dipenuhi oleh pepohonan dan bebuahan dalam agama-agama Samawi, suku Orang Rimba menanam pohon di setiap kelahiran baru, Issaac Newton merumuskan gravitasi setelah melihat buah apel yang jatuh dari pohonnya, hingga Soekarno yang terinspirasi menulis butir-butir Pancasila di bawah teduhnya tajuk pohon sukun ketika diasingkan di Ende. Bisa dibilang peradaban manusia secara romantis tumbuh bersama dengan bertumbuhnya pepohonan.

Sebenarnya hubungan kita dengan alam tidak melulu baik. Kita pernah menebang pepohonan dengan membabi buta dan itu menjadi dosa masa lalu kita. Waktu itu kita hanya menebang tanpa kembali menanam. Lalu alam mencoba menyeimbangkan gunung-gunung gundul dan dataran yang tandus, hingga sabdanya dianggap bencana yang meluluhkan manusia. Perlu beberapa kelahiran dan kematian generasi-generasi manusia hingga akhirnya kita sadar bahwa kita kurang menanam pohon, kita mengambil diluar kemampuan alam memberi, dan terlalu banyak pohon dan nyawa manusia saudara kita sendiri yang kita renggut. Lalu manusia mencoba memperbaiki hubungannya dengan alam, dengan pepohonan, dan merasakan kembali kesejukan yang dihadirkannya dan kembali menjadi sumber inspirasi.

Pohon semakin tidak bisa lepas dari kehidupan manusia kita semakin menempatkan pohon sebagai unsur penting dalam khidupan manusia. Seiring perkembangan manusia pohon tidak hanya menjadi bagian usaha konservasi tetapi juga elemen estetika spasial. Di kampung kita, pohon menghasilkan buah-buahan dan daunnya bisa untuk pakan ternak. Pohon tidak hanya menjadi sumber kayu dan selulosa, tetapi juga obat dan energi. Pohon tidak lagi dianggap sebagai seonggok kayu dengan daun lebat dan tempat hantu beranak pinak tetapi menjadi lambang atau ikon kelestarian hubungan manusia dengan alam.

Kiranya tidak perlu lagi panjang lebar menguraikan manfaat dan fungsi pohon terhadap manusia dan lingkungan di sini karena kita semua sudah paham begitu banyak manfaat positifnya. Mari di Hari Sejuta Pohon Sedunia ini kita terus menanam, merawat, dan memaknai kembali manfaat pohon untuk kita, untuk kemanusiaan. Karena ketika manusia menanam dan merawat pohon, manusia juga menanam dan merawat benih-benih kemanusiaan.

Selamat Hari Sejuta Pohon Sedunia.[HR]

sumber foto: jurnalasia.id

KUPAS TUNTAS SEJARAH BUNGA RAFFLESIA

Posted on Leave a commentPosted in IPB

2

Berbicara tentang bunga terbesar di dunia, tak asing lagi kita akan menyebutnya Bunga Rafflesia. Jenis Rafflesia adalah bunga unik yang bersifat parasit sempurna yang tidak memiliki batang dan akar sejati. Dari 25 jenis bunga rafflesia yang ada di dunia, 12 diantaranya ada di Indonesia. Lokasi-lokasi habitat bunga terbesar ini masuk ke dalam kawasan konservasi yang di lindungi. Bunga Rafflesia terdapat di CA Semenanjung Pangandaran, TN Gunung Gede Pangrango, TN Meru Betitri, TN Gunung Leuseur, dan di Bukit Barisan Sumattera. Penamaan sejarah Bunga Rafflesia merupakan suatu cerita yang sangat menarik, melibatkan suatu masalah intrik, politik dan ke tamakan. Kata Rafflesaia, sering di anggap penemu pertama bunga ini, adalah Stamford Raffles atau Joseph arnold, tetapi sebenarnya penemu pertama bunga rafflesia adalah Louis Aguste Deschamp, seorang dokter dan penjelajah alam dari Prancis.

Rafflesia pertama kali ditemukan di Pulau Nusakambangan pada tahun 1797 oleh Deschamp yang sedang mengumpulkan spesimen, dan menggambarkannya. Setahun kemudian, 1798, Deschamp pulang ke Perancis dengan semua koleksinya, namun saat mendekati Selat Inggris, semua koleksinya dirampas oleh Inggris. Ahli botani Inggris sadar bahwa Deschamp telah menemukan jenis yang sangat unik dan tidak pernah dilihat sebelumnya. Kompetisi rahasia terjadi antar ahli botani tentang siapa yang akan menerbitkan jenis yang sangat menakjubkan itu. Mereka juga berpendapatan siapapun orangnya, jenis yang mencengangkan itu harus didiskripsikan atau dinamakan oleh orang Inggris, bukan Belanda apalagi Perancis. Sehingga Raffles, yang saat itu sebagai Gubernur Jendral Inggris di Bengkulu, memerintahkan William Jack untuk segera mendiskripsikan jenis yang ditemukan di Bengkulu Selatan.

William Jack merupakan seorang dokter dan penjelajah alam, yang menggantikan Dr Joseph Arnold. Artikel William Jack menamakan jenis tersebut sebagai R. titan, dan dikirimkan ke London pada bulan April 1820. Malangnya artikel dari William Jack secara misterius tidak langsung diterbitkan. Sampai kemudian Robert Brown membacakan penemuan yang menggemparkan di hadapan anggota Linnean Society pada tanggal 30 Juni 1820. Artikel dari William Jack akhirnya diterbitkan pada bulan Agustus 1820. Robert Brown menamakan jenis baru sebagai Rafflesia arnoldii R.Br. R. Br. Merupakan singkatan dari Robert Brown. Susunan nama jenis ini, digunakan untuk menghormati, Sir Stamford Raffles dan Dr. Joseph Arnold.

 Walaupun pertama kali didiskripsikan, tetapi karena dipublikasikan terlambat, maka Rafflesia titan tidak dipakai sebagai nama jenis baru, tetapi dianggap sebagai sinonim dari Rafflesia arnoldii. Kejadian di atas merupakan ironi yang sangat besar, karena William Jack-lah yang mengirimkan beberapa spesimen dari Bengkulu Selatan yang boleh jadi digunakan oleh Robert Brown untuk mendiskripsikan jenis baru tersebut.William Jack-lah yang mengirimkan beberapa spesimen dari Bengkulu Selatan yang boleh jadi digunakan oleh Robert Brown untuk mendiskripsikan jenis baru tersebut. Empat tahun setelah artikel dari Robert Brown ini, bunga yang dilihat oleh Deschamp di Nusakambangan dinamakan Rafflesia patma oleh C.L. Blume pada tahun 1825. C.L. Blume adalah seorang Belanda keturunan Jerman yang menjabat sebagai direktur Kebun Raya Bogor saat itu, dan sangat ironi lagi nama Louis Aguste Deschamp, tidak pernah terdefinisikn sebagai penemu Bunga Rafflesia.

Sumber Foto:

plantecology.files.wordpress.com

SURILI 2018: TAMAN NASIONAL AKETAJAWE LOLOBATA

Posted on Leave a commentPosted in Himakova

Keindahan Nusantara Timur menambah jati diri Indonesia dengan identitasnya yang kaya akan keasrian alam dan budaya dari Sabang hingga Merauke. Tak heran banyak penikmat alam tergiur dan haus akan sajian Sang Pencipta yang tak henti membujuk untuk terus menatap kemolekannya. Halmahera merupakan salah satu daerah dengan bentang alam yang sangat mempesona. (more…)